Categories
Uncategorized

MUTIARA HIKMAH 5

MUTIARA HIKMAH 5

Categories
Uncategorized

Manfaat Dan Pentingnya Shalat Dhuha.

Manfaat Dan Pentingnya
Shalat Dhuha.
حَدَّثَنَا
مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا عَبَّاسٌ
الْجُرَيْرِيُّ هُوَ ابْنُ فَرُّوخَ عَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلَاثٍ لَا
أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ
وَصَلَاةِ الضُّحَى وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ
Telah menceritakan kepada
kami Muslim bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Syu’bah telah
menceritakan kepada kami ‘Abbas Al Jurairiy dia adalah anak dari Farrukh dari
Abu ‘Utsman An-Nahdiy dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata:
“Kekasihku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) telah berwasiat
kepadaku dengan tiga perkara yang tidak akan pernah aku tinggalkan hingga aku
meninggal dunia, yaitu shaum tiga hari pada setiap bulan, shalat Dhuha dan
tidur dengan shalat witir terlebih dahulu”. (HR. Bukhori No.1107, Muslim
No.1182, At Tirmidzi No.691, An Nasa’I No.2392, Ahmad No.10078, dan Abudaud
No.1220)
و حَدَّثَنِي
يَحْيَى بْنُ حَبِيبٍ الْحَارِثِيُّ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ عَنْ
سَعِيدٍ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ أَنَّ مُعَاذَةَ الْعَدَوِيَّةَ حَدَّثَتْهُمْ عَنْ
عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يُصَلِّي الضُّحَى أَرْبَعًا وَيَزِيدُ مَا شَاءَ اللَّهُ و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ
بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَابْنُ بَشَّارٍ جَمِيعًا عَنْ مُعَاذِ بْنِ هِشَامٍ قَالَ
حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ قَتَادَةَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ
Dan telah menceritakan
kepadaku Yahya bin Habib Al Haritsi telah menceritakan kepada kami Khalid bin
Al Harits dari Said, telah menceritakan kepada kami Qatadah, bahwa Ma’adzah Al
‘Adawiyah menceritakan kepada mereka dari ‘Aisyah katanya; Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melakukan shalat dhuha sebanyak empat
rakaat, dan terkadang beliau menambah sekehendak Allah.” Telah
menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan Ibnu Basyar, semuanya dari
Mu’adz bin Hisyam katanya; telah menceritakan kepadaku Ayahku dari Qatadah
dengan sanad seperti ini. (HR. Muslim No.1176, Ibnumajah No.1371, dan Ahmad
No.23497)
حَدَّثَنَا
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَسْمَاءَ الضُّبَعِيُّ حَدَّثَنَا مَهْدِيٌّ
وَهُوَ ابْنُ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا وَاصِلٌ مَوْلَى أَبِي عُيَيْنَةَ عَنْ يَحْيَى
بْنِ عُقَيْلٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ أَبِي الْأَسْوَدِ الدُّؤَلِيِّ
عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ
قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ
تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ
وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ
الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ
الضُّحَى
Telah menceritakan kepada
kami Abdullah bin Muhammad bin Asma` Adl Dluba`i telah menceritakan kepada kami
Mahdi yaitu Ibnu Maimun telah menceritakan kepada kami Washil mantan budak Abu
‘Uyainah dari Yahya bin ‘Uqail dari Yahya bin Ya’mar dari Abul Aswad Ad Du`ali
dari Abu Dzarr dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:
“Setiap pagi dari persendian masing-masing kalian ada sedekahnya, setiap
tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan setiap tahlil adalah
sedekah, setiap takbir sedekah, setiap amar ma’ruf nahyi mungkar sedekah, dan
semuanya itu tercukupi dengan dua rakaat dhuha.” (HR. Muslim No.1181,
Abudaud No.1093, dan Ahmad No.20501)
حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا
شُعْبَةُ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ مُرَّةَ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ
أَبِي لَيْلَى يَقُولُ مَا حَدَّثَنَا أَحَدٌ أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى غَيْرُ أُمِّ هَانِئٍ فَإِنَّهَا
قَالَتْ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ بَيْتَهَا
يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ فَاغْتَسَلَ وَصَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ فَلَمْ أَرَ
صَلَاةً قَطُّ أَخَفَّ مِنْهَا غَيْرَ أَنَّهُ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ
Telah menceritakan kepada
kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Amru bin Murrah Aku
mendengar ‘Abdurrahman bin Abu Laila berkata: Tidak ada dari orang yang pernah
menceritakan kepada kita bahwa dia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
melaksanakan shalat Dhuha kecuali Ummu Hani’ yang dia menceritakan bahwa Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memasuki rumahnya pada saat penaklukan
Makkah, kemudian Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mandi lalu shalat delapan
raka’at” seraya menjelaskan: “Aku belum pernah sekalipun melihat
Beliau melaksanakan shalat yang lebih ringan dari pada saat itu, namun Beliau
tetap menyempurnakan ruku’ dan sujudnya”. (HR. Bukhori N0.1105, At Tirmidzi
No.436, Ahmad No.25666)
و
حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَابْنُ نُمَيْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ
وَهُوَ ابْنُ عُلَيَّةَ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ الْقَاسِمِ الشَّيْبَانِيِّ أَنَّ
زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّونَ مِنْ الضُّحَى فَقَالَ أَمَا
لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلَاةَ فِي غَيْرِ هَذِهِ السَّاعَةِ أَفْضَلُ إِنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ
حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ
Dan telah menceritakan
kepada kami Zuhair bin Harb dan Ibnu Numair keduanya berkata; telah
menceritakan kepada kami Ismail yaitu Ibnu ‘Ulayyah dari Ayyub dari Al Qasim
Asy Syaibani bahwa Zaid bin Arqam pernah melihat suatu kaum yang tengah
mengerjakan shalat dluha, lalu dia berkata; “Tidakkah mereka tahu bahwa
shalat diluar waktu ini lebih utama? sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda: “Shalat awwabin (orang yang bertaubat) dikerjakan
ketika anak unta mulai beranjak karena kepanasan.” (HR. Muslim No.1237,
Ahmad No.18470, 18514, 18540, dan Ad Darimi No.1421)
حَدَّثَنَا
وَكِيعٌ قَالَ حَدَّثَنَا النَّهَّاسُ بْنُ قَهْمٍ الصُّبَحِيُّ عَنْ شَدَّادٍ
أَبِي عَمَّارٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ حَافَظَ عَلَى شُفْعَةِ الضُّحَى غُفِرَتْ لَهُ ذُنُوبُهُ
وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
Telah menceritakan kepada
kami Waki’ berkata; telah menceritakan kepada kami An Nahas bin Qahm Ash
Shubahi dari Syaddad Abu ‘Ammar dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menjaga shalat dhuha
maka dosa-dosanya akan diampuni walaupun seperti buih dilautan.” (HR.
Ahmad No.9339 dan At Tirmidzi No.438)
حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ السِّمْنَانِيُّ
حَدَّثَنَا أَبُو مُسْهِرٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ بَحِيرِ
بْنِ سَعْدٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ أَبِي
الدَّرْدَاءِ أَوْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ عَنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ ابْنَ آدَمَ ارْكَعْ لِي مِنْ
أَوَّلِ النَّهَارِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ أَكْفِكَ آخِرَهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا
حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ
Telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far As
Samnani telah menceritakan kepada kami Abu Mushir telah menceritakan kepada
kami Isma’il bin ‘Ayyasy dari Bahir bin Sa’d dari Khalid bin Ma’dan dari Jubair
bin Nufair dari Abu Darda’ atau Abu Dzar dari Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa
sallam dari Allah Azza Wa Jalla, Dia berfirman: “Wahai anak Adam, ruku’lah
kamu kepadaku dipermulaan siang (shalat dhuha) sebanyak empat raka’at , niscaya
Aku akan memenuhi kebutuhanmu di akhir siang.” Abu Isa berkata, ini adalah
hadits hasan gharib. (HR. At Tirmidzi No.437, Ad Darimi No.1415)
حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ رُشَيْدٍ حَدَّثَنَا
الْوَلِيدُ عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ عَنْ مَكْحُولٍ عَنْ كَثِيرِ بْنِ
مُرَّةَ أَبِي شَجَرَةَ عَنْ نُعَيْمِ بْنِ هَمَّارٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
يَا ابْنَ آدَمَ لَا تُعْجِزْنِي مِنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ فِي أَوَّلِ نَهَارِكَ
أَكْفِكَ آخِرَهُ
Telah menceritakan kepada kami Daud bin
Rusyaid telah menceritakan kepada kami Al Walid dari Sa’id bin Abdul Aziz dari
Makhul dari Katsir bin Murrah Abu Syajarah dari Nu’aim bin Hammar dia berkata;
saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah
‘azza wajalla berfirman; Wahai anak Adam, janganlah kamu meninggalkan-Ku
(karena tidak mengerjakan) empat raka’at pada permulaan siang (dhuha), niscaya
aku akan mencukupi kebutuhanmu di sore hari.” (HR. Ahmad No.1097, 16749,
17126, 21431, 21433)
وقال صلى الله
عليه وسلم: {مَنْ صَلَّى الضُّحَى ثِنَتيْ عَشرةَ رَكْعَةً إيمانا واحْتِسَابا
كَتَبَ الله لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ
ورَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ وَبَنى الله لَهُ بَيْتا في الجَنَّةِ
وَغَفَرَ الله لَهُ ذُنُوبَه كُلَّها
Nabi Muhammad saww. bersabda : “Barangsiapa
mengerjakan shalat dhuha sebanyak duabelas roka’at dengan iman dan mengharapkan
pahala, maka Allah Ta’ala menetapkan baginya sejuta kebaikan, menghapus
daripadanya sejuta kejelekan, mengangkat baginay sejuta derajat, dan Allah
membangunkan baginya sebuah rumah disurga dan Allah mengampuni dosa-dosa orang
itu seluruhnya.”. (Kitab Lubabul Hadits)
وروى زيد بن أسلم عن ابن عمر رضي اللَّه تعالى
عنهما قال: قلت لأبي ذر الغفاري رضي اللَّه تعالى عنه أوصني يا عم؟ قال: سألت رسول
اللَّه صلى اللَّه عليه وسلم كما سألتني فقال: من صلى الضحى ركعتين لم يكتب من الغافلين،
ومن صلاها أربعاً كتب من العابدين، ومن صلاها ستاً لم يتبعه يومئذ ذنب، ومن صلاها
ثمانياً كتب من القانتين، ومن صلاها اثنتي عشرة ركعة بنى له بيت في الجنة
Zaid bin Aslam dari Umar ra. Berkata kepada
Abu Dzar: Nasehatilah aku hai ammi. Abu Dzar ra. Berkata : Saya telah meminta
kepada Nabi saww. apa yang anda minta ini, maka Nabi saww. bersabda :
“Barangsiapa yang shalat dhuha dua roka’at tidak tercatat pada golongan
orang-orang yang lupa/lalai, dan barangsiapa yang shalat dhuha empat roka’at
termasuk orang abid (ahli ibadah), dan barangsiapa shalat dhuha enam roka’at
tidak terkena dosa pada hari itu, dan barangsiapa yang sembahyang dhuha delapan
roka’at dibangunkan untuknya rumah didalam surga.”. (Kitab Tanbihul Ghafilin
dan Kitab Tanqihul Qaul)
وأبو الشيخ عن أنس: رَكْعَتَانِ مِنَ الضُّحَى
تَعْدِلانِ عِنْدَ الله بِحُجَّةٍ وَعُمْرَةٍ مُتَقَبَّلَتَيْنِ
Dalam riwayat Abusy-Syaikh
dari Anas ra. berkata : “Rok’atani minadh-dhuha ta’dilani indallahi
bihajjatin wa umrotin mutqobbilataini. Artinya : Dua roka’at sunnat dhuha
menyamai disisi Allah dengan haji dan umroh yang diterima keduanya.”.
(Kitab Irsyadul ‘Ibad Ilasabilirrosyad) 
والطبراني عن أبي هريرة: إنَّ في الجَنَّةِ
باباً يقال له الضُّحى، فإذا كانَ يَوْمَ القِيَامَةِ نَادَى منادٍ: أيْنَ
الَّذِينَ كانوا يُدِيمُونَ عَلَى صَلاةِ الضُّحَى هذا بَابُكُمْ فَادْخُلُوهُ
بِرَحْمَةِ الله


Abuhurairah ra. berkata Nabi
Muhammad saww. bersabda : “Inna fil-jannati baaban yuqoolu lahu
adh-adhuhaa faidzaa kaana yaumul-qiyaamati naadaa munaadin ainal-ladziina
kaanuu yudiimuuna ‘alaa sholaatidh-dhuhaa hadzaa baabukum faad khuluuhu
birohmatillaahi. Artinya : Sesungguhnya di sorga ada pintu yang bernama
Adh-dhuha, maka bila hari qiamat ada seruan : Manakah orang-orang yang selalu
mengerjakan sholat dhuha inilah pintumu maka masuklah dari padanya dengan
rahmat Allah.”. (HR. Ath-Thabarani, di Kitab Irsyadul ‘Ibad
Ilasabilirrosyad dan Tanbihul Ghafilin) 
وسمويه عن سعد: مَنْ سَبَّحَ سَبْحَةَ الضُّحَى
حَوْلاً محولاً كُتِبَ لَهُ بَراءةٌ مِنَ النَّارِ


Samwaih meriwayatkan dari
Sa’ad ra. berkata : “Man sabbaha subhatadh-dhuha haulan muhawwalan kutiba
lahu baro’atun minannaar. Artinya : Siapa yang tetap menjalankan sholat dhuha
hingga setahun penuh, maka dicatat baginya bebas dari api neraka.”. (Kitab
Irsyadul ‘Ibad Ilasabilirrosyad) 
والديلمي عن عبد الله بن جراد: المُنَافِقُ لا
يُصَلّي صَلاةَ الضُّحَى وَلا يَقْرَأُ قُلْ يَا أَيُّهَا الكَافِرُونَ

Abdullah bin Jarod berkata : “Al-Munafiqu
laa yusholli sholatadh-dhuhawa laa yaqro’ qul ya ayyuhal kafirun. Artinya :
Orang munafiq tidak sembahyang dhuha dan tidak membaca qul ya ayyuhal
kafirun.”. (Kitab Irsyadul ‘Ibad Ilasabilirrosyad) 

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ
مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ بُكَيْرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ
إِسْحَقَ قَالَ حَدَّثَنِي مُوسَى بْنُ فُلَانِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ عَمِّهِ
ثُمَامَةَ بْنِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَلَّى الضُّحَى ثِنْتَيْ
عَشْرَةَ رَكْعَةً بَنَى اللَّهُ لَهُ قَصْرًا مِنْ ذَهَبٍ فِي الْجَنَّةِ قَالَ
وَفِي الْبَاب عَنْ أُمِّ هَانِئٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَنُعَيْمِ بْنِ هَمَّارٍ
وَأَبِي ذَرٍّ وَعَائِشَةَ وَأَبِي أُمَامَةَ وَعُتْبَةَ بْنِ عَبْدٍ السُّلَمِيِّ
وَابْنِ أَبِي أَوْفَى وَأَبِي سَعِيدٍ وَزَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ وَابْنِ عَبَّاسٍ
قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَنَسٍ حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ
هَذَا الْوَجْهِ
Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib Muhammad bin Al Ala’ telah
menceritakan kepada kami Yunus bin Bukair dari Muhammad bin Ishaq dia berkata,
telah menceritakan kepadaku Musa bin Fulan bin Anas dari pamannya yaitu
Tsumamah bin Anas bin Malik dari Anas bin Malik dia berkata, Rasulullah
Shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang melaksanakan shalat
dhuha dua belas raka’at, niscaya Allah akan membuatkan baginya sebuah istana
dari emas di syurga.” (perawi) berkata, dalam bab ini (ada juga riwayat
-pent) dari Ummu Hani’, Abu Hurairah, Nu’aim bin Hammar, Abu Dzar, ‘Aisyah, Abu
Umamah, Utbah bin ‘Abd As Sulami, Ibnu Abu Aufa, Abu Sa’id, Zaid bin Arqam dan
Ibnu Abbas. Abu Isa berkata, hadits Anas adalah hadits gharib, kami tidak
mengetahuinya kecuali dari jalur ini. (HR. At Tirmidzi No.435, dan Ibnumajah
No.1370)
وابن حبان عن عقبة بن عامر: صَلُّوا رَكْعَتَيْ
الضُّحَى بِسُورَتَيْهِمَا وَالشَّمْسُ وضُحَاهَا والضُّحَى
Uqbah bin Aamir ra. berkata,
Nabi Muhammad saww. bersabda : “Shollu rok’atain adh-dhuha bisurotaihima,
wasy-syamsi wadhuhaha wadh-dhuha. Artinya : Sembahyang dua roka’at dhuha itu
dengan membaca surat Wasy-syamsi wadhuhaha dan surat Wadhuha.”. (HR. Ibnu
Hibban)
وورد في حديث رواه العقيلي: كان رسول الله يقرأ
فيهما: قُلْ يَا أَيُّهَا الكَافِرُونَ وَقُلْ هُوَ الله أَحَدٌ
Dan dalam riwayat Al-Uqoili
: “Kaana Saww. yaqro’u fihima qul ya ayyuhal Kafirun, wa qul huwallahu
ahad. Artinya : Adanya Nabi Saww. membaca dalam sembahyang dhuha Qul ya ayyuhal
kafirun dan Qul huwallahu ahad.”. (Kitab Irsyadul ‘Ibad Ilasabilirrosyad) 
وورد
بعد الضحى: رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الغَفُورُ
مائة مرة
Dan
ada hadits yang menerangkan sesudah shalat dhuha membaca Robbighfirlii watub
‘alayya innaka antat tawaabul ghofuuru (Ya Tuhan ampunilah dosaku dan terimalah
tobatku sesungguhnya Engkau yang menerima taubat dan Maha Pengampun) seratus
(100) kali. (Kitab
Irsyadul ‘Ibad Ilasabilirrosyad) 
اللهم إن الضحى ضحاؤك ، والبها بهاؤك ،
والجمال جمالك ، والقوة قوتك ، والقدرة قدرتك ، والعصمة عصمتك ، اللهم إن كان رزقي
في السماء فأنزله ، وإن كان في الأرض فأخرجه ، وإن كان معسرا فيسره ، وإن كان
حراما فطهره ، وإن كان بعيدا فقربه ، بحق ضحائك وبهائك وجمالك وقوتك وقدرتك ، آتني
ما آتيت عبادك الصالحين
ALLAAHUMMA INNADH-DHUHAA ‘A DHUHAA ‘UKA  WAL BAHAA ‘A BAHAA ‘UKA WAL JAMAALA JAMAALUKA
WAL QUWWATA QUWWATUKA WALQUDRATA QUDRATUKA WAL ‘ISHMATA ‘ISHMATUKA. ALLAAHUMMA
IN KAANA RIZQII FIS-SAMAA ‘I FA ANZILHU WA IN KAANA FIL ARDI FA AKHRIJHU  WA IN KAANA MU’ASSARAN FAYASSIRHU  WA IN KAANA HARAAMAN FATHAHHIRHU WA IN KAANA
BA’IIDAN FA QARRIBHU, BIHAQQI DHUHAA ‘IKA, WA BAHAA ‘IKA, WAJAMAALIKA, WA
QUWWATIKA, WA QUDRATIKA. AATINII MAA ‘ATAITA ‘IBAADAKASH-SHAALIHIIN.
Artinya : Ya Allah, bahwasannya waktu dhuha itu adalah
waktuMU,
dan keagungan itu adalah keagunganMU, dan keindahan itu
adalah keindahanMU,
dan kekuatan itu adalah kekuatanMU, dan perlindungan itu
adalah perlindunganMU,
Ya Allah, jika rizkiku masih ! di atas langit, maka
turunkanlah,
jika masih di dalam bumi, maka keluarkanlah, jika masih sukar,
maka mudahkanlah,
jika (ternyata) haram, maka sucikanlah, jika masih jauh,
maka dekatkanlah,
Berkat waktu dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan dan
kekuasaanMU,
limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan
kepada hamba-hambaMU yang sholeh.

Wahai orang-orang yang mencintai Allah dan
RasulNya kerjakanlah sholat dhuha setiap hari walaupun hanya dua roka’at karena
ditubuh kita tiap harinya ada ruas-ruas yang harus dikeluarkan sedekahnya
(lihat hadist diatas) dengan mengerjakan dua roka’at dhuha itulah yang menjadi
penebus sedekah tiap-tiap ruas tubuh kita, dan sedapat mungkin kita mengqodho
sholat dhuha kita yang lalu-lalu dengan mengerjakan sholat dhuha lebih dari dua
roka’at dalam tiap harinya, agar kita dapat memenuhi sodaqoh ruas-ruas pada
tubuh kita dari aqil baliq hingga sampai saat ini. 

Wallahu a’lam bishawab..

Dikutip dari :
* Kitab Hadits Kutubu Tis’ah.
* Riyadhus Shalihin => Al Imam An Nawawi.
* Irsyadul
‘Ibad Ilasabilirrosyad
=> Asy Syaikh
Zinuddin Al Maribariy.
* An Nashaaih Ad Diniyah wal
washaaya Al Imaaniyah => Al Imam Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad.
* Risalatul Mu’awanah =>
Al Imam Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad.
* Tanbihul Ghafilin => Al
Imam Abul Laits As Samarqandi.
* Lubabul Hadits => Al
Imam Al Hafidz Jalaluddin Abdurrahman bin Abii Bakar As Suyuthi.
* Tanqihul Qaul => Asy
Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar Al Bantani.
Penulis : Muhammad
Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus.

محمد سلفى بن أبو نوار العيدروس

Group Majelis Nuurus-Sa’aadah : http://www.facebook.com/groups/160814570679672/

http://shulfialaydrus.wordpress.com/

http://shulfialaydrus.blogspot.com/

Categories
Uncategorized

Adab Bertamu dan Memuliakan Tamu.

Adab Bertamu dan
Memuliakan Tamu.
Pembaca
muslim yang dimuliakan oleh Allah ta’ala, seorang muslim yang beriman kepada
Allah dan hari akhir akan mengimani wajibnya memuliakan tamu sehingga ia akan
menempatkannya sesuai dengan kedudukannya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullahshallallahu
‘alaihi wa sallam,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ
وَاْليَوْمِ اْلأخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
“Barang
siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan
tamunya.” (HR. Bukhari)

Berikut ini adalah adab-adab yang berkaitan dengan tamu dan bertamu. Kami
membagi pembahasan ini dalam dua bagian, yaitu adab bagi tuan rumah dan adab
bagi tamu.
Adab
Bagi Tuan Rumah.
1.
Ketika mengundang seseorang, hendaknya mengundang orang-orang yang bertakwa,
bukan orang yang fajir (bermudah-mudahan dalam dosa), sebagaimana sabda
Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam,
لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا,وَلاَ يَأْكُلُ
طَعَامَك َإِلاَّ تَقِيٌّ
“Janganlah
engkau berteman melainkan dengan seorang mukmin, dan janganlah memakan
makananmu melainkan orang yang bertakwa!” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
2.
Tidak mengkhususkan mengundang orang-orang kaya saja, tanpa mengundang orang
miskin, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُدْعَى
لَهَا الأَغْنِيَاءُ ، وَيُتْرَكُ الْفُقَرَاءُ
“Sejelek-jelek
makanan adalah makanan walimah di mana orang-orang kayanya diundang dan
orang-orang miskinnya ditinggalkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3.
Tidak mengundang seorang yang diketahui akan memberatkannya kalau diundang.
4.
Disunahkan mengucapkan selamat datang kepada para tamu sebagaimana hadits yang
diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya tatkala utusan
Abi Qais datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau
bersabda,
مَرْحَبًا بِالْوَفْدِ الَّذِينَ جَاءُوا
غَيْرَ خَزَايَا وَلاَ نَدَامَى
“Selamat
datang kepada para utusan yang datang tanpa merasa terhina dan menyesal.” (HR.
Bukhari)
5.
Menghormati tamu dan menyediakan hidangan untuk tamu makanan semampunya saja.
Akan tetapi, tetap berusaha sebaik mungkin untuk menyediakan makanan yang
terbaik. Allah ta’ala telah berfirman yang mengisahkan Nabi Ibrahim ‘alaihis
salam bersama tamu-tamunya:
فَرَاغَ إِلىَ أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ
سَمِيْنٍ . فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ آلاَ تَأْكُلُوْنَ
“Dan
Ibrahim datang pada keluarganya dengan membawa daging anak sapi gemuk kemudian
ia mendekatkan makanan tersebut pada mereka (tamu-tamu Ibrahim-ed) sambil
berkata: ‘Tidakkah kalian makan?’” (Qs. Adz-Dzariyat: 26-27)
6.
Dalam penyajiannya tidak bermaksud untuk bermegah-megah dan berbangga-bangga,
tetapi bermaksud untuk mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
para Nabi sebelum beliau, seperti Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Beliau
diberi gelar “Abu Dhifan” (Bapak para tamu) karena betapa mulianya beliau dalam
menjamu tamu.
7.
Hendaknya juga, dalam pelayanannya diniatkan untuk memberikan kegembiraan
kepada sesama muslim.
8.
Mendahulukan tamu yang sebelah kanan daripada yang sebelah kiri. Hal ini
dilakukan apabila para tamu duduk dengan tertib.
9.
Mendahulukan tamu yang lebih tua daripada tamu yang lebih muda, sebagaimana
sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيُجِلَّ
كَبِيْرَنَا فَلَيْسَ مِنَّا
“Barang
siapa yang tidak mengasihi yang lebih kecil dari kami serta tidak menghormati
yang lebih tua dari kami bukanlah golongan kami.” (HR Bukhari dalam kitab
Adabul Mufrad). Hadits ini menunjukkan perintah untuk menghormati orang yang
lebih tua.
10.
Jangan mengangkat makanan yang dihidangkan sebelum tamu selesai menikmatinya.
11.
Di antara adab orang yang memberikan hidangan ialah mengajak mereka
berbincang-bincang dengan pembicaraan yang menyenangkan, tidak tidur sebelum
mereka tidur, tidak mengeluhkan kehadiran mereka, bermuka manis ketika mereka
datang, dan merasa kehilangan tatkala pamitan pulang.
12.
Mendekatkan makanan kepada tamu tatkala menghidangkan makanan tersebut
kepadanya sebagaimana Allah ceritakan tentang Ibrahim ‘alaihis salam,
فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ
“Kemudian
Ibrahim mendekatkan hidangan tersebut pada mereka.” (Qs. Adz-Dzariyat: 27)
13.
Mempercepat untuk menghidangkan makanan bagi tamu sebab hal tersebut merupakan
penghormatan bagi mereka.
14.
Merupakan adab dari orang yang memberikan hidangan ialah melayani para tamunya
dan menampakkan kepada mereka kebahagiaan serta menghadapi mereka dengan wajah
yang ceria dan berseri-seri.
15.
Adapun masa penjamuan tamu adalah sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam,
الضِّيَافَةُ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ وَجَائِزَتُهُ
يَوْمٌ وَلَيَْلَةٌ وَلاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ مُسْلِمٍ أَنْ يُقيْمَ عِنْدَ أَخِيْهِ
حَتَّى يُؤْثِمَهُ قاَلُوْا يَارَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يُؤْثِمَهُ؟ قَالَ
:يُقِيْمُ عِنْدَهُ وَلاَ شَيْئَ لَهُ يقْرِيْهِ بِهِ
“Menjamu
tamu adalah tiga hari, adapun memuliakannya sehari semalam dan tidak halal bagi
seorang muslim tinggal pada tempat saudaranya sehingga ia menyakitinya.” Para sahabatberkata: “Ya Rasulullah, bagaimana menyakitinya?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sang tamu tinggal bersamanya
sedangkan ia tidak mempunyai apa-apa untuk menjamu tamunya.”
16.
Hendaknya mengantarkan tamu yang mau pulang sampai ke depan rumah.
عن أبى هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه و
سلم : إنَّ مِنَ السُـنَّـةِ أنْ يَخْرُجَ الرَجُلُ مَعَ ضَيْـفِهِ إلى بَابِ الدَارِ
Dari
Abi Huroiroh ra., dia berkata Rosulullahi saw bersabda,: “Sesungguhnya  termasuk bagian dari sunnah adalah jika
seseorang mengantarkan tamunya sampai di pintu rumah”. (HR. Ibnu Majah)
Adab
Bagi Tamu.
1.
Bagi seorang yang diundang, hendaknya memenuhinya sesuai waktunya kecuali ada
udzur, seperti takut ada sesuatu yang menimpa dirinya atau agamanya. Hal ini
berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ دُعِىَ فَلْيُجِبْ
“Barangsiapa
yang diundang maka datangilah!” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
وَمَنْ تَرَكَ الدَّعْـوَةَ فَقَدْ عَصَى اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
“Barang
siapa yang tidak memenuhi undangan maka ia telah bermaksiat kepada Allah dan
Rasul-Nya.” (HR. Bukhari)
Untuk
menghadiri undangan maka hendaknya memperhatikan syarat-syarat berikut:
* Orang
yang mengundang bukan orang yang harus dihindari dan dijauhi.
* Tidak
ada kemungkaran pada tempat undangan tersebut.
* Orang
yang mengundang adalah muslim.
* Penghasilan
orang yang mengundang bukan dari penghasilan yang diharamkan. Namun, ada
sebagian ulama menyatakan boleh menghadiri undangan yang pengundangnya
berpenghasikan haram. Dosanya bagi orang yang mengundang, tidak bagi yang
diundang.
* Tidak
menggugurkan suatu kewajiban tertentu ketika menghadiri undangan tersebut.
* Tidak
ada mudharat bagi orang yang menghadiri undangan.
2.
Hendaknya tidak membeda-bedakan siapa yang mengundang, baik orang yang kaya
ataupun orang yang miskin.
3.
Berniatlah bahwa kehadiran kita sebagai tanda hormat kepada sesama muslim.
Sebagaimana hadits yang menerangkan bahwa,
إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى
“Semua
amal tergantung niatnya, dan akan diganjar dengan apa yang diniatkannya.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
4. Minta Izin Maksimal Tiga Kali.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita, bahwa batasan
untuk meminta izin untuk bertamu adalah tiga kali. Sebagaimana dalam sabdanya,
عن أبى موسى الاشعريّ رضي الله عمه قال: قال رسول الله صلّى
الله عليه و سلم: الاستئذانُ ثلاثٌ، فان أذن لك و الاّ فارجع
Dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiallahu’anhu, dia berkata:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Minta izin masuk rumah itu
tiga kali, jika diizinkan untuk kamu (masuklah) dan jika tidak maka
pulanglah!’”
 (HR.
Bukhari dan Muslim)
5. Untuk Mengucapkan Salam dan Minta Izin Masuk.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا
غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ
خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَّكَّرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah
yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.
Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.”
 (QS. An-Nuur [24]: 27)
Sebagaimana juga terdapat dalam hadits dari Dari
Kildah bin Hanbal radliyallaahu ‘anhu ia berkata :
دخلت عليه ولم أسلم فقال النبي صلى الله عليه وسلم : “ارجع !”. فقال
: السلام عليكم أأدخل ؟
”Aku
mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam lalu aku masuk ke rumahnya tanpa
mengucapkan salam. Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : ‘Keluar
dan ulangi lagi dengan mengucapkan Assalamu’alaikum, boleh aku masuk?” (HR. Abu
Dawud dan Tirmidzi, dan ia – yaitu Tirmidzi – berkata : Hadits hasan).
Dalam hal ini (memberi salam dan minta izin),
sesuai dengan poin ke empat, maka batasannya adalah tiga kali. Maksudnya
adalah, jika kita telah memberi salam tiga kali namun tidak ada jawaban atau
tidak diizinkan, maka itu berarti kita harus menunda kunjungan kita kali itu.
Adapun ketika salam kita telah dijawab, bukan berarti kita dapat membuka pintu
kemudian masuk begitu saja atau jika pintu telah terbuka, bukan berarti kita
dapat langsung masuk. Mintalah izin untuk masuk dan tunggulah izin dari sang
pemilik rumah untuk memasuki rumahnya. Hal ini disebabkan, sangat dimungkinkan
jika seseorang langsung masuk, maka ‘aib atau hal yang tidak diinginkan untuk
dilihat belum sempat ditutupi oleh sang pemilik rumah. Sebagaimana diriwayatkan
dari Sahal ibn Sa’ad radhiallahu’anhu bahwa Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اِنّما جُعل الاستئذان من أجل البصر
“Sesungguhnya disyari’atkan minta izin adalah karena untuk
menjaga pandangan.”
 (HR.
Bukhari dan Muslim)
6. Ketukan
Yang Tidak Mengganggu.
Sering kali ketukan yang diberikan seorang tamu berlebihan
sehingga mengganggu pemilik rumah. Baik karena kerasnya atau cara mengetuknya.
Maka, hendaknya ketukan itu adalah ketukan yang sekedarnya dan bukan ketukan
yang mengganggu seperti ketukan keras yang mungkin mengagetkan atau sengaja
ditujukan untuk membangunkan pemilik rumah. Sebagaimana diceritakan oleh Anas
bin Malik radhiallahu’anhu,
إن
أبواب النبي صلى الله عليه وسلم كانت تقرع بالأظافير
“Kami
di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetuk pintu dengan kuku-kuku.”
 (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod bab Mengetuk Pintu)
7. Posisi
Berdiri Tidak Menghadap Pintu Masuk.
Hendaknya posisi berdiri tamu tidak di depan pintu dan menghadap
ke dalam ruangan. Poin ini juga berkaitan hak sang pemilik rumah untuk
mempersiapkan dirinya dan rumahnya dalam menerima tamu. Sehingga dalam posisi
demikian, apa yang ada di dalam rumah tidak langsung terlihat oleh tamu sebelum
diizinkan oleh pemilik rumah. Sebagaimana amalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Abdullah bin Bisyr ia berkata,
كان
رسول الله إذا أتى باب قوم لم يستقبل الباب من تلقاء و جهه و لكن ركنها الأيمن أو
الأيسر و يقول السلام عليكم السلام عليكم
“Adalah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mendatangi pintu suatu kaum,
beliau tidak menghadapkan wajahnya di depan pintu, tetapi berada di sebelah
kanan atau kirinya dan mengucapkan assalamu’alaikum… assalamu’alaikum…”
 (HR. Abu Dawud)
8. Tidak
Mengintip.
Mengintip ke dalam rumah sering terjadi ketika seseorang
penasaran apakah ada orang di dalam rumah atau tidak. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencela perbuatan ini dan
memberi ancaman kepada para pengintip, sebagaimana dalam sabdanya,
لو
أنّ امرأ اطلع عليك بغير إذن فخذفته بحصاة ففقأت عينه لم يكن عليك جناح
“Andaikan
ada orang melihatmu di rumah tanpa izin, engkau melemparnya dengan batu kecil
lalu kamu cungkil matanya, maka tidak ada dosa bagimu.”
 (HR. Bukhari Kitabul Isti’dzan)
عَنْ
أَنَسِ بْنِ مَالِك أَنَّ رَجُلًا اطَّلَعَ مِنْ بَعْضِ حُجَرِ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ بِمِشْقَصٍ أَوْ بِمَشَاقِصَ فَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَيْهِ يَخْتِلُ
الرَّجُلَ لِيَطْعُنَهُ
“Dari
Anas bin Malik radhiallahu’anhu sesungguhnya ada seorang laki-laki mengintip
sebagian kamar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu nabi berdiri menuju
kepadanya dengan membawa anak panah yang lebar atau beberapa anak panah yang
lebar, dan seakan-akan aku melihat beliau menanti peluang ntuk menusuk orang
itu.”
 (HR. Bukhari Kitabul Isti’dzan)
9.
Masuk dengan seizin tuan rumah, begitu juga segera pulang setelah selesai
memakan hidangan, kecuali tuan rumah menghendaki tinggal bersama mereka, hal
ini sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala dalam firman-Nya:
يَاأََيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ
تَدْخُـلُوْا بُيُـوْتَ النَّبِي ِّإِلاَّ أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَـعَامٍ
غَيْرَ نَاظِـرِيْنَ إِنهُ وَلِكنْ إِذَا دُعِيْتُمْ فَادْخُلُوْا فَإِذَا
طَعِمْتُمْ فَانْتَشِـرُوْا وَلاَ مُسْتَئْنِسِيْنَ لِحَدِيْثٍ إَنَّ ذلِكُمْ
كَانَ يُؤْذِى النَّبِيَّ فَيَسْتَحِي مِنْكُمْ وَاللهُ لاَ يَسْتَحِي مِنَ
اْلحَقِّ
“Wahai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila
kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak makanannya!
Namun, jika kamu diundang, masuklah! Dan bila kamu selesai makan, keluarlah
kamu tanpa memperpanjang percakapan! Sesungguhnya yang demikian itu akan
mengganggu Nabi. Lalu, Nabi malu kepadamu untuk menyuruh kamu keluar. Dan Allah
tidak malu menerangkan yang benar.” (Qs. Al Azab: 53)
10. Pulang
Kembali Jika Disuruh Pulang.
Kita harus menunda kunjungan atau dengan kata lain pulang
kembali ketika setelah tiga kali salam tidak di jawab atau pemilik rumah
menyuruh kita untuk pulang kembali. Sehingga jika seorang tamu disuruh pulang,
hendaknya ia tidak tersinggung atau merasa dilecehkan karena hal ini termasuk
adab yang penuh hikmah dalam syari’at Islam. Di antara hikmahnya adalah hal ini
demi menjaga hak-hak pemilik rumah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَإِنْ
لَمْ تَجِدُوا فِيهَا أَحَدًا فَلَا تَدْخُلُوهَا حَتَّى يُؤْذَنَ لَكُمْ وَإِنْ
قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا هُوَ أَزْكَى لَكُمْ وَاللَّهُ بِمَا
تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ
“Jika
kamu tidak menemui seorangpun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum
kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: Kembali (saja)lah, maka
hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang
kamu kerjakan.”
 (QS. An-Nuur [24]: 28)
Makna ayat tersebut disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya, “Mengapa demikian? Karena meminta izin
sebelum masuk rumah itu berkenaan dengan penggunaan hak orang lain. Oleh karena
itu, tuan rumah berhak menerima atau menolak tamu.”
 Syaikh Abdur Rahman bin Nasir As Sa’di
dalam Tafsir Al Karimur Rahman menambahkan, “Jika kamu di suruh kembali, maka kembalilah. Jangan memaksa ingin
masuk, dan jangan marah. Karena tuan rumah bukan menolak hak yang wajib bagimu
wahai tamu, tetapi dia ingin berbuat kebaikan. Terserah dia, karena itu haknya
mengizinkan masuk atau tidak. Jangan ada perasaan dan tuduhan bahwa tuan rumah
ini angkuh dan sombong sekali.”
 Oleh
karena itu, kelanjutan makna ayat “Kembali itu lebih bersih bagimu. Dan
Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
 Artinya supaya hendaknya seorang tamu
tidak berburuk sangka atau sakit hati kepada tuan rumah jika tidak diizinkan
masuk, karena Allah-lah yang Maha Tahu kemaslahatan hamba-Nya.
11. Menjawab
Dengan Nama Jelas Jika Pemilik Rumah Bertanya “Siapa?”
Terkadang pemilik rumah ingin mengetahui dari dalam rumah
siapakah tamu yang datang sehingga bertanya, “Siapa?” Maka hendaknya seorang
tamu tidak menjawab dengan “saya” atau “aku” atau yang semacamnya, tetapi
sebutkan nama dengan jelas. Sebagaimana terdapat dalam riwayat dari Jabir radhiallahu’anhu, dia berkata,
أَتَيْتُ
النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي دَيْنٍ كَانَ عَلَى أَبِي
فَدَقَقْتُ الْبَابَ فَقَالَ مَنْ ذَا فَقُلْتُ أَنَا فَقَالَ أَنَا أَنَا
كَأَنَّهُ كَرِهَهَا
“Aku
mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku mengetuk pintu,
lalu beliau bertanya, ‘Siapa?’ Maka Aku menjawab, ‘Saya.’ Lalu beliau bertanya,
‘Saya, saya?’ Sepertinya beliau tidak suka.”
 (HR. Bukhari dan Muslim)
12.
Apabila kita dalam keadaan berpuasa, tetap disunnahkan untuk menghadiri
undangan karena menampakkan kebahagiaan kepada muslim termasuk bagian ibadah. Puasa tidak menghalangi seseorang untuk menghadiri
undangan, sebagaimana sabda Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam:
إذَا دُعِىَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ فَإِنْ
كَانَ صَاِئمًا فَلْيُصَِلِّ وِإِنْ كَانَ مُفْـطِرًا فَلْيُطْعِمْ
“Jika
salah seorang di antara kalian di undang, hadirilah! Apabila ia puasa,
doakanlah! Dan apabila tidak berpuasa, makanlah!” (HR. Muslim)
13.
Seorang tamu meminta persetujuan tuan untuk menyantap, tidak melihat-lihat ke
arah tempat keluarnya perempuan, tidak menolak tempat duduk yang telah
disediakan.
14.
Termasuk adab bertamu adalah tidak banyak
melirik-lirik kepada wajah orang-orang yang sedang makan.
15.
Hendaknya seseorang berusaha semaksimal mungkin agar tidak memberatkan tuan
rumah, sebagaimana firman Allah ta’ala dalam ayat di atas: “Bila kamu
selesai makan, keluarlah!” (Qs. Al Ahzab: 53)
16.
Sebagai tamu, kita dianjurkan membawa hadiah untuk tuan rumah karena hal ini
dapat mempererat kasih sayang antara sesama muslim,
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Berilah hadiah di antara kalian! Niscaya
kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari)
17.
Jika seorang tamu datang bersama orang yang tidak diundang, ia harus meminta
izin kepada tuan rumah dahulu, sebagaimana hadits riwayat Ibnu Mas’ud radhiyallahu
‘anhu:
كَانَ مِنَ اْلأَنْصَارِ رَجـُلٌ يُقَالُ لُهُ
أَبُوْ شُعَيْبُ وَكَانَ لَهُ غُلاَمٌ لِحَامٌ فَقَالَ اِصْنَعْ لِي طَعَامًا
اُدْعُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَامِسَ خَمْسَةٍ فَدَعَا
رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَامِسَ خَمْسَةٍ فَتَبِعَهُمْ
رَجُلٌ فَقَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّكَ
دَعَوْتَنَا خَامِسَ خَمْسَةٍ وَهذَا رَجُلٌ قَدْ تَبِعَنَا فَإِنْ شِئْتَ اْذَنْ
لَهُ وَإِنْ شِئْتَ تَرَكْتُهُ قَالَ بَلْ أَذْنْتُ لَهُ
“Ada
seorang laki-laki di kalangan Anshor yang biasa dipanggil Abu Syuaib. Ia
mempunyai seorang anak tukang daging. Kemudian, ia berkata kepadanya, “Buatkan
aku makanan yang dengannya aku bisa mengundang lima orang bersama Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam mengundang empat orang yang orang kelimanya adalah beliau. Kemudian, ada
seseorang yang mengikutinya. Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
berkata, “Engkau mengundang kami lima orang dan orang ini mengikuti kami.
Bilamana engkau ridho, izinkanlah ia! Bilamana tidak, aku akan
meninggalkannya.” Kemudian, Abu Suaib berkata, “Aku telah mengizinkannya.”” (HR.
Bukhari)
18.
Seorang tamu hendaknya mendoakan orang yang memberi hidangan kepadanya setelah
selesai mencicipi makanan tersebut dengan doa:
أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُوْنَ, وَأَكَلَ
طَعَامَكُمُ اْلأَبْرَارَ,وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ اْلمَلاَئِكَةُ
“Orang-orang
yang puasa telah berbuka di samping kalian. Orang-orang yang baik telah memakan
makanan kalian. semoga malaikat mendoakan kalian semuanya.” (HR Abu Daud)
اَللّهُـمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِي,
وَاْسقِ مَنْ سَقَانِي
“Ya
Allah berikanlah makanan kepada orang telah yang memberikan makanan kepadaku
dan berikanlah minuman kepada orang yang telah memberiku minuman.” (HR.
Muslim)
اَللّهُـمَّ اغْـفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ
وَبَارِكْ لَهُمْ فِيْمَا رَزَقْتَهُمْ
“Ya
Allah ampuni dosa mereka dan kasihanilah mereka serta berkahilah rezeki
mereka.” (HR. Muslim)
19.
Setelah selesai bertamu hendaklah seorang tamu pulang dengan lapang dada,
memperlihatkan budi pekerti yang mulia, dan memaafkan segala kekurangan tuan
rumah.

Itulah beberapa adab-adab bertamu dan menerima tamu yang perlu diperhatikan.
Penulis : Muhammad Shulfi bin Abunawar Al
‘Aydrus.

محمد سلفى بن أبو نوار العيدروس

Categories
Uncategorized

SHOLAT JUMAT DENGAN DUA ADZAN.

SHOLAT JUMAT 
DENGAN DUA ADZAN.
Oleh : Buya Yahya (Pengasuh
LPD Al-Bahjah – Cirebon)
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العلمين, وبه نستعين على أمور
الدنيا والدين, وصلى الله على سيدنا محمد وآله صحبه وسلم أجمعين. وقال رسول الله
صلى الله عليه وسلم :  فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدى هدى ‏ ‏محمد ‏وشر
الأمور ‏ ‏محدثاتها ‏ ‏وكل بدعة ضلالة . أما بعد
Pendahulan
Adanya 2 adzan dalam
sholat jum’at adalah merupakan kesepakatan para ulama dari masa kemasa dimulai dari
masanya Sayyidina Utsman bin Affan hingga hari ini sampai munculnya pendapat
aneh yang bersebrangan dengan apa yang dijalankan oleh para ulama. Memang benar
adzan jum’at pada zaman Nabi SAW dan Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar
adalah sekali yaitu disaat khotib duduk diatas mimbar. Akan tetapi pada zaman
Sayyidina Utsman bin Affan karena semakin banyaknya kaum muslimin maka beliau
menganggap perlu untuk menambahkan adzan dari 1 adzan menjadi 2 adzan. Adzan
yang pertama untuk mengingatkan kaum muslimin bahwasanya hari itu adalah hari
jum’at agar bersiap-siap pergi ke masjid untuk melakukan sholat jum’at. Adapun
adzan yang kedua adalah untuk menunjukan bahwa sholat jum’at akan segera
dimulai. Dan hal seperti ini sudah menjadi kesepakatan para ulama dari masa
kemasa dan tidak ada ingkar sama sekali dari para sahabat Nabi SAW.
Kisah penambahan adzan
Sayyidina Utsman Bin Affan disebutkan oleh  Imam Bukhori dalam kitab
shohihnya 

  1. Hadits yang diriwayatkan dari
    Sa’ib Ibn Yazid beliau berkata :
عن السائب بن يزيد -رضي
الله عنه- قال: “كَانَ النِّدَاءُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوَّلُهُ إِذَا جَلَسَ
الإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ -صلى الله عليه وسلم-
وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ -رضي الله عنهما- فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ -رضي الله عنه-
وَكَثُرَ النَّاسُ زَادَ النِّدَاءَ الثَّالِثَ عَلَى الزَّوْرَاءِ” . رواه
البخاري
Artinya : “Seruan
adzan di hari jum’at mula-mula hanya di saat imam duduk di atas mimbar, hal ini
terjadi pada zaman Nabi SAW dan zaman Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq dan
Sayyidina Umar bin Khotob. Pada zaman Sayyidina Utsman bin Affan saat
orang-orang semakin banyak maka Sayyidina Utsman menambahkan adzan yang ke tiga
yaitu di zauro” (HR. Bukhori)
Zauro’ adalah satu
tempat yang suaranya bisa sampai ke pasar-pasar.

    2. Hadits yang di riwayatkan oleh
Az-Zuhri beliau berkata :
    عن الزهري قال: سمعت
    السائب بن يزيد -رضي الله عنه- يقول: “إِنَّ الأَذَانَ يَوْمَ الجُمُعَةِ
    كَانَ أَوَّلُهُ حِينَ يَجْلِسُ الإِمَامُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ عَلَى المِنْبَرِ في
    عهد رسول الله -صلى الله عليه وآله وسلم- وأبي بكر وعمر -رضي الله عنهما-، فلما كان
    في خلافة عثمان -رضي الله عنه- وكثروا أمر عثمان يوم الجمعة بالأذان الثالث، فأذن
    به على الزوراء، فثبت الأمر على ذلك”. رواه البخاري
    Artinya : “Dari Zuhri
    beliau berkata sesungguhnya aku mendengar Sa’ib Ibn Yazid berkata :
    Sesungguhnya adzan pada hari jum’at mula-mula diadakan saat imam duduk diatas
    mimbar pada hari jum’at pada zaman Nabi SAW, Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq dan
    Sayyidina Umar bin Khotob. Pada masa kekholifahan Sayyidina Utsman bin Affan
    saat kaum muslimin semakin banyak maka Sayyidina Utsman memerintahkan menambah
    satu adzan yakni adzan yang ketiga yang dikumandangkan di Zauro’, maka setelah
    itu seperti itulah ketetapan adzan di dalam sholat jum’at.”
    Imam Bukhori menyebut
    adzan yang ketiga karena secara istilah  iqomat juga disebut sebagai adzan
    seperti yang disabdakan Nabi SAW.
    بين كل أذنين نافلة لمن
    شاء
    Artinya : “Antara 2
    adzan ada sholat sunnah yang sunnah untuk dilakukan bagi yang mau melakukan”.
    Rasulullah menyebut
    adzan dan iqomat dengan istilah 2 adzan.
    Yang bisa di fahami
    dari dua riwayat dari Imam Bukhori adalah  adzan dalam jum’at yang semula
    hanya ada 2 yakni adzan dan iqomat saja, kemudian ditambah oleh Sayyidina
    Utsman dengan 1 adzan, seperti disebutkan oleh Imam Bukhori dengan istilah
    adzan yang ketiga, maka adzan dalam jum’at adalah adzan pertama, adzan kedua
    dan iqomah.
    Ibn Hajar Al-Asqolani
    di dalam Fathul Bari Juz 2 hal 394 berkata :
    “والذي يظهر أن الناس أخذوا بفعل عثمان
    في جميع البلاد إذ ذاك؛ لكونه خليفةً مطاعَ الأمر”
    “Yang bisa di fahami
    sesungguhnya orang-orang telah melakukan dengan apa yang dilakukan Sayyidina
    Utsman di setiap negeri pada waktu itu karena beliau adalah seorang kholifah
    yang harus dipatuhi perintahnya”.
    Dan sungguh mematuhi
    Sayyidina Utsman adalah hakikat sunnah Nabi SAW seperti yang disabdakan Nabi
    SAW dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ibnu Hibban dan Imam Hakim.
    من يعش منكم بعدي فسيري
    إختلافا كثيرا فعليكم بسنتي وسنة الحلفاء المهد يين الراشدين  .
     “Siapapun yang hidup setelahku maka
    akan melihat perbedaan yang banyak, maka hendaknya kalian semua berpegang
    kepada sunnahku dan sunnah para Kholifah Ar-Rosyidin.”
    Dan itulah yang
    dipahami oleh para sahabat Nabi SAW sehingga pada zaman Sayyidina Utsman 
    2 adzan dalam sholat jum’at adalah merupakan Ijma atas kesepakatan para ulama
    dari masa Sayyidina Utsman bin Affan hingga hari ini. Hingga munculah pendapat
    yang berbeda yang seolah-olah mereka lebih tau tentang sunnah Nabi kemudian
    berani mengatakan jum’at dengan 2 adzan adalah bid’ah, maka pendapat seperti
    itu adalah pendapat yang tidak bisa dianggap sama sekali.  Artinya yang
    membid’ahkan 2 adzan adalah membid’ahkan para sahabat-sahabat Nabi yang mulia
    dan sungguh benar apa yang disabdakan Nabi SAW,
    إن أخر هذه الأمة يلعن
    أولها أخرها . حديث صحيح   . رواه ابن ماجه
     “Sesungguhnya umat akhir dari umat
    ini akan melaknat para pendahulu-pendahulunya”. (HR. Ibnu Majah).
    Terbukti sabda Nabi
    SAW pada zaman akhir ini ada orang yang membid’ahkan para salaf dan para
    sahabat Nabi SAW.
    Mungkin ada yang
    bertanya, Bukankah sholat jum’at sudah ada pada zaman Nabi SAW ? Akan tetapi
    kenapa pada zaman Nabi adzan hanya dikumandangkan sekali kemudian di saat
    datang Sayyidina Utsman menjadi 2 kali ? Jawabannya adalah seperti yang
    disebutkan dalam riwayat Imam Bukhori di atas sebabnya adalah orang-orang
    semakin banyak pada zaman Sayyidina Utsman dan kota Madinah semakin melebar.
    Dalam masalah ini
    sungguh tidak akan menjadi masalah bagi orang yang mengerti  sunnah Nabi
    dan bagaimana berpegang pada sunnah Nabi SAW. Dan sudah menjadi maklum bagi
    ulama  dari para sahabat Nabi bahwa berpegang kepada Khulafa Ar-Rosyidin
    adalah juga berpegang pada sunnah Nabi SAW.
     Dari itulah
    kenapa para sahabat Nabi SAW bersepakat mengikuti Sayyidina Utsman 
    padahal para sahabat Nabi juga banyak dari para ulama selain Sayyidina Utsman.
    Sungguh mereka tidak mengikuti sahabat Utsman kecuali karena benarnya apa yang
    dilakukan oleh Sayyidina Utsman Bin Affan Ra.
    Waktu Adzan yang
    Pertama dan Jarak Antara Adzan yang Pertama dan Kedua.
    Masalah jangka waktu
    antara adzan pertama dan kedua tidak ada ketentuannya, hanya dikira-kira
    sekedar  agar kaum muslimin bisa bergegas mempersiapkan sholat jum’at.
    Adapun waktu adzan
    awal para ulama berbeda pendapat, sebagian mengatakan sebelum masuk waktu
    dhuhur sebagian lagi mengatakan setelah masuk waktu dhuhur. Dan perbedaan
    seperti ini bagi mereka para ulama sangat sederhana sebab intinya untuk
    mengingatkan orang-orang agar bersiap-siap dan bergegas pergi ke masjid .
    Pendapat Ulama Saudi.
    Berikut ini kami akan
    menukil pendapat tokoh-tokoh dari Saudi yang sebetulnya kami tidak perlu
    mendatangkan pendapat-pendapat mereka karena dalam buku-buku kitab ahli sunnah
    wal jama’ah 4 madzhab sudah diterangkan dengan jelas dan gamblang tanpa ada
    keraguan sedikit pun bahwa ulama telah bersepakat bahwa adzan dalam sholat
    jum’at adalah dengan 2 adzan.
    Akan tetapi setelah
    munculnya fitnah pembid’ahan terhadap 2 adzan atau membid’ahkan adzan tambahan
    Sayyidina Utsman. Maka kami perlu untuk menghadirkan pendapat tokoh-tokoh dari
    Saudi agar orang-orang yang mengingkari 2 adzan tersebut bisa membaca. Karena
    kebanyakan dari mereka yang mengingkari 2 adzan  banyak berkiblat kepada
    para tokoh-tokoh dari Arab Saudi.  Dan dengan sengaja kami nukil dengan
    bahasa arabnya secara utuh barang kali ada sebagian pembaca yang mengerti
    bahasa arab agar bisa membacanya sendiri. Dan fatwa-fatwa tersebut juga kami
    nukil secara utuh tanpa kami kurangi sedikitpun
    Yang pertama datang pertanyaan kepada Syaikh Abdul
    Aziz Bin Abdullah Bin Baz  tentang kapan disyariatkannya 2 adzan dan
    bagaimana adzan tambahan yang bid’ah ini bisa terjadi di Saudi dan bagaimana
    orang Saudi melakukan bid’ah.


    Syaikh Abdul Aziz Bin
    Abdullah Bin Baz  menjawab dan jawaban ini juga dikeluarkan oleh lembaga
    fatwa terpercaya dikalangan mereka yaitu Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhust Al
    ‘Ilmiyah Wal Ifta’ dan juga Fatwa ini bisa di dapat dalam kumpulan
    risalah-risalah Syaikh Abdul Aziz Bin Baz  jilid 12.
    Fatwa tersebut
    berbunyi :
    ثبت عن رسول الله صلى
    الله عليه وسلم أنه قال: “عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين،
    فتمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ” الحديث، والنداء يوم الجمعة كان أوله حين
    يجلس الإمام على المنبر في عهد النبي صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر رضي الله
    عنهما، فلما كانت خلافة عثمان وكثر الناس أمر عثمان رضي الله عنه يوم الجمعة
    بالأذان الأول، وليس ببدعة لما سبق من الأمر باتباع سنة الخلفاء الراشدين، والأصل
    في ذلك ما رواه البخاري والنسائي والترمذي وابن ماجة وأبو داود واللفظ له:
    عن ابن شهاب أخبرني
    السائب بن يزيد أن الأذان كان أوله حين يجلس الإمام على المنبر يوم الجمعة في عهد
    النبي صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر رضي الله عنهما، فلما كان خلافة عثمان
    وكثر الناس أمر عثمان يوم الجمعة بالأذان الثالث فأذن به على الزوراء فثبت الأمر
    على ذلك، وقد علق القسطلاني في شرحه للبخاري على هذا الحديث بأن النداء الذي زاده
    عثمان هو عند دخول الوقت، سمَّاه ثالثاً باعتبار كونه مزيداً على الأذان بين يدي
    الإمام والإقامة للصلاة، وأطلق على الإقامة أذاناً تغليباً بجامع الإعلام فيهما،
    وكان هذا الأذان لما كثر المسلمون فزاده عثمان رضي الله عنه اجتهاداً منه، ووافقه
    سائر الصحابة بالسكوت وعدم الإنكار، فصار إجماعا سكوتياً
    Artinya : ”Telah benar
    riwayat dari Rosululloh SAW sesungguhnya Rosululloh bersabda : “Hendaknya
    engkau berpegang dengan sunnah ku dan sunnah Khulafa Ar-Rosyidin yang telah
    mendapatkan petunjuk. Maka  berpeganglah dengan sunnah tersebut dengan
    sungguh-sungguh. 
    Seruan adzan jum’at
    mula-mula diadakan saat imam duduk di atas mimbar pada zaman Nabi SAW,
    Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq dan Sayyidina Umar bin Khotob. Pada  zaman
    Sayyidina Utsman bin Affan kaum muslimin semakin banyak. Maka Sayyidina Utsman
    memerintahkan menambah adzan yang pertama dalam sholat jum’at dan ini bukanlah 
    BID’AH seperti
    yang telah disebutkan yaitu adanya perintah dari Nabi untuk mengikuti sunnah
    para Khulafa Ar-Rosyidin.
    Dan landasan
    permasalahan ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Imam Nasa’i,
    Imam Tirmidzi dan Imam Abu Dawud. (Dan lafadz hadits ini diambil dari Abu
    Dawud)
    Diriwayatkan dari Ibnu
    Syihab beliau berkata : Telah memberikan kabar kepadaku Sa’ib ibn Yazid :
    sesungguhnya adzan itu mula-mula adalah pada saat imam duduk di mimbar pada
    hari jum’at pada zaman Nabi Saw, zaman Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq dan zaman
    Sayyidina Umar bin Khotob. Pada masa kekholifahan Sayyidina Utsman tatkala
    orang-orang semakin banyak Sayyidina Utsman memerintahkan pada hari jum’at agar
    diadakan adzan yang ke 3 yang kemudian dikumandangkan adzan di Zauro’. Dan
    setelah itu menjadi tetap lah permasalahan ini seperti itu.
    Imam Asqotolani
    mengomentari hadits ini dalam Syarah Bukhorinya : “Sesungguhnya adzan yang diadakan
    Sayyidina Utsman  saat masuknya waktu diberi nama dengan adzan ketiga
    karena dianggap sebagai tambahan dari adzan dihadapan imam (diatas mimbar) dan
    iqomah untuk sholat. Iqomah di dalam sholat juga di sebut dengan istilah adzan.
    Dan adzan (tambahan) ini
    ditambakan oleh Sayyidina Utsman saat kaum muslimin menjadi banyak, hal seperti
    ini merupakan Ijtihad dari beliau, dan ijtihad ini disetujui para sahabat Nabi
    SAW tanpa ada ingkar sama sekali dari mereka. Maka hal semacam ini sudah
    menjadi Ijma atau kesepakatan (Ijma Sukuti)”.
    Yang kedua Fatwa Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin
    dalam kitab Syarah Mumti’ juz 6 hal 162.
    Teks Fatwa tersebut
    sebagai berikut  :
    ولكن يجب أن نعلم أنّ
    عثمان ـ رضي الله عنه ـ أحد الخلفاء الراشدين الذين أمرنا باتباع سنتهم، فإن لم
    ترد عن النبي صلّى الله عليه وسلّم سنة تدفع ما سنه الخلفاء، فسنة الخلفاء شرع
    متبع، وبهذا نعرف أن الأذان الأول يوم الجمعة سنة بإثبات النبي صلّى الله عليه
    وسلّم ذلك بقوله: «عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين» ، أما من أنكره من
    المُحدَثين، وقال: إنه بدعة وضلل به عثمان ـ رضي الله
    عنه ـ فهو الضال المبتدع؛
    لأن عثمان رضي الله عنه
    سنَّ الأذان الأول بسبب لم يوجد في عهد النبي صلّى الله عليه وسلّم، ولو وجد سببه
    في عهد الرسول صلّى الله عليه وسلّم ولم يفعله النبي صلّى الله عليه وسلّم لقلنا:
    إن ما فعله عثمان -رضي الله عنه- مردود؛ لأن السبب وجد في عهد النبي صلّى الله
    عليه وسلّم ولم يسن النبي صلّى الله عليه وسلّم فيه شيئاً، أما ما لم يوجد في عهد
    الرسول عليه الصلاة والسلام السبب الذي من أجله سنَّ عثمان -رضي الله عنه- الأذان
    الأول فإن سنتَهُ سنةٌ متبعةٌ، ونحن مأمورون باتباعها
    Artinya : “Akan tetapi
    wajib untuk kita mengetahuinya bahwa sesungguhnya Sayyidina Utsman bin Affan
    adalah salah satu dari Khulafa Ar-Rosyidin yaitu orang-orang yang kita
    diperintahkan untuk mengikuti sunnah mereka.


    Jika tidak ada riwayat
    dari Nabi SAW satu sunnah yang menolak (bertentangan) dengan sunnah para
    Khulafah, maka menjadi pasti sunnah para khulafah tersebut adalah Syariat yang
    harus di ikuti.
    Atas dasar inilah kita
    bisa mengetahui sesungguhnya adzan yang pertama pada hari jum’at adalah sunnah
    dengan pengukuhan dari Nabi SAW di dalam sabdanya : “Hendaknya engkau berpegang
    pada sunnah ku dan sunnah para Khulafa  Ar-Rosyidin”


    Adapun orang yang
    mengingkari dari orang-orang baru (akhir zaman) yang mengatakan adzan ini
    adalah bid’ah kemudian mengatakan Sayyidina Utsman adalah bid’ah, sesungguhnya
    mereka sendirilah ORANG-ORANG YANG SESAT DAN AHLI BID’AH. Sebab
    sesungguhnya Sayyidina Utsman mengadakan adzan yang pertama karena sebab yang
    tidak ada pada zaman Nabi SAW. Seandainya sebab yang ada pada zaman Sayyidina
    Utsman  juga ada pada zaman Nabi kemudian Nabi tidak melakukannya tetapi
    Sayyidina Utsman melakukannya niscaya kami akan sependapat dengan mereka dan
    apa yang dilakukan Sayyidina Utsman harus ditolak. Adapun sebab yang tidak ada
    pada zaman Nabi kemudian adanya pada zaman Sayyidina Utsman dan Sayyidina
    Utsman melakukan atas dasar sebab tersebut seperti adzan yang pertama ini maka
    sesungguhnya itulah sunnah yang di ikuti dan kita pun diperintahkan untuk
    mengikutinya”.)
    Kesimpulan.
    Kaum muslimin dan
    muslimat ini adalah sekelumit dari pencerahan untuk menghindarkan dari
    fitnah-fitnah yang ada di masjid-masjid masyarakat kita. Dan mari kita semua
    kembali kepada sunnah Khulafa Ar-Rosyidin dengan mempertahankan  adzan
    jum’at dengan 2 adzan dan bagi masjid yang adzannya hanya ada satu kali kita
    kembalikan menjadi 2 adzan yang itu semua adalah demi kepatuhan kita kepada
    ulama, Khulafa Ar-Rosyidin dan kepada Rosululloh SAW.


    Dan bisa disimpulkan
    sebagai berikut :


    1. Adzan jum’at dengan 2 adzan
      adalah kesepakatan para sahabat Nabi dan para ulama dari masa kemasa.
    2. Munculnya pendapat yang berbeda
      dengan ini yaitu pendapat yang membid’ahkan sholat jum’at dengan 2 adzan
      adalah pendapat yang aneh dan hanya menimbulkan fitnah di tengah
      masyarakat.
    3. Mari kita membaca ilmu dengan
      penuh keinsyafan Semoga Allah SWT memberikan hidayah kepada kita semua.
    Wallahu a’lam Bish-showab.                          
    Penulis Ulang : Muhammad Shulfi bin Abunawar
    Al ‘Aydrus.

    محمد سلفى بن أبو نوار العيدروس

    Categories
    Uncategorized

    AMALAN-AMALAN ISTIMEWA MALAM JUM’AT DAN HARI JUM’AT.

    AMALAN-AMALAN
    ISTIMEWA MALAM JUM’AT DAN HARI JUM’AT.
    1. Disunnahkan pada shalat Shubuh di hari Jum’at, imam
    membaca surat al-Sajdah al-Insan secara sempurna.

    أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ
    يَقْرَأُ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ، يَوْمَ الْجُمُعَةِ: الم تَنْزِيلُ السَّجْدَةِ،
    وَهَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ
    Bahwanya
    Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mengerjakan shalat Shubuh pada hari
    Jum’at, beliau membaca: “ALIF LAAM MIIM TANZIIL” (surat As Sajadah) dan, “HAL
    ATAA ‘ALAL INSAANI HIINUM MINAD DAHRI” (surat Al Insan). (HR. Bukhari No.891, dan Muslim No.879).
    2. Disunnahkan memperbanyak membaca shalawat untuk Nabi
    Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Hal ini berdasarkan hadits Aus bin Aus
    Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda:
    إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ
    الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ قُبِضَ وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ
    الصَّعْقَةُ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ
    مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ
    “Sesungguhnya
    di antara hari kalian yang paling afdhal adalah hari Jum’at. Pada hari itu Adam
    diciptakan dan diwafatkan, dan pada hari itu juga ditiup sangkakala dan akan
    terjadi kematian seluruh makhluk. Oleh karena itu perbanyaklah shalawat di hari
    Jum’at, karena shalawat akan disampaikan kepadaku.”
    Para shahabat berkata: “Ya Rasulallah, bagaimana
    shalawat kami atasmu akan disampaikan padamu sedangkan kelak engkau telah lebur
    dengan tanah?”
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab:
    “Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi memakan jasad para Nabi.” (HR.
    Abu Dawud, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan al Hakim)
    3.
    Disunnahkan membaca surat al-Kahfi pada hari Jum’at berdasarkan hadits Abu
    Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
    bersabda:
    مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ
    الْجُمْعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ
    الْعَتِيْقِ
    “Barangsiapa
    membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka dipancarkan untuknya Allah
    Subhanahu wa Ta’ala akan menyinarinya dengan cahaya antara dia dan Baitul
    ‘atiq.” (Sunan Ad-Darimi, no. 3273. Juga diriwayatkan al-Nasai dan
    Al-Hakim)
    4. Melaksanakan shalat Jum’at bagi laki-laki muslim,
    merdeka, mukallaf, dan tinggal di negerinya. Atas mereka shalat Jum’at hukumnya
    wajib. Sementara bagi budak, wanita, anak kecil dan musafir, maka shalat Jum’at
    tidak wajib atas mereka. Namun, jika mereka menghadirinya, maka tidak apa-apa
    dan sudah gugur kewajiban Dzuhurnya. Dan kewajiban menghadiri shalat Jum’at
    menjadi gugur disebabkan beberapa sebab, di antaranya sakit dan rasa takut.
    (Lihat: Syarh al-Mumti’: 5/7-24)
    5. Mandi besar pada hari Jum’at juga termasuk tuntunan
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau bersabda,
    إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْجُمُعَةِ
    فَلْيَغْتَسِلْ
    “Apabila
    salah seorang kalian berangkat shalat Jum’at hendaklah dia mandi.” (HR. Muslim)
    6.
    Memakai minyak wangi, bersiwak, dan mengenakan pakaian terbagusnya merupakan
    adab menghadiri shalat Jum’at yang kudu diperhatikan oleh seorang muslim. Dari
    Abu Darda’ Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
    bersabda:
    مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَبِسَ
    ثِيَابَهُ وَمَسَّ طِيبًا إِنْ كَانَ عِنْدَهُ ثُمَّ مَشَى إِلَى الْجُمُعَةِ
    وَعَلَيْهِ السَّكِينَةُ وَلَمْ يَتَخَطَّ أَحَدًا وَلَمْ يُؤْذِهِ وَرَكَعَ مَا
    قُضِيَ لَهُ ثُمَّ انْتَظَرَ حَتَّى يَنْصَرِفَ الْإِمَامُ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَ
    الْجُمُعَتَيْنِ
    “Siapa
    mandi pada hari Jum’at, lalu memakai pakaiannya (yang bagus) dan memakai
    wewangian, jika punya. Kemudian berjalan menuju shalat Jum’at dengan tenang,
    tidak menggeser seseorang dan tidak menyakitinya, lalu melaksanakan shalat
    semampunya, kemudian menunggu hingga imam beranjak keluar, maka akan diampuni
    dosanya di antara dua Jum’at.” (HR. Ahmad)
    Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah
    Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
    غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ عَلَى كُلِّ
    مُحْتَلِمٍ وَسِوَاكٌ وَيَمَسُّ مِنْ الطِّيبِ مَا قَدَرَ عَلَيْهِ
    “Mandi
    hari Jum’at itu wajib bagi setiap orang yang bermimpi. Begitu pula dengan
    bersiwak dan memakai wewangian jika mampu melaksanaknnya (jika ada).” (HR.
    Bukhari dan Muslim)
    7. Disunnahkan berangkat lebih pagi (lebih awal) saat
    menghadiri shalat Jum’at. Sunnah ini hamper-hampir saja mati dan tidak pernah
    terlihat lagi.
    مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ
    الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً وَمَنْ رَاحَ فِي
    السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً وَمَنْ رَاحَ فِي
    السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ وَمَنْ رَاحَ فِي
    السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً وَمَنْ رَاحَ فِي
    السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ
    حَضَرَتْ الْمَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ
    “Barangsiapa
    mandi di hari Jum’at seperti mandi janabah, kemudian datang di waktu yang
    pertama, ia seperti berkurban seekor unta. Barangsiapa yang datang di waktu
    yang kedua, maka ia seperti berkurban seekor sapi. Barangsiapa yang datang di
    waktu yang ketiga, ia seperti berkurban seekor kambing gibas. Barangsiapa yang
    datang di waktu yang keempat, ia seperti berkurban seekor ayam. Dan barangsiapa
    yang datang di waktu yang kelima, maka ia seperti berkurban sebutir telur.
    Apabila imam telah keluar (dan memulai khutbah), malaikat hadir dan ikut
    mendengarkan dzikir (khutbah).” (HR. Bukhori dan Muslim)
    dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi
    wasallam bersabda:
    إِذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ كَانَ عَلَى
    كُلِّ بَابٍ مِنْ أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ الْمَلَائِكَةُ يَكْتُبُونَ الْأَوَّلَ
    فَالْأَوَّلَ فَإِذَا جَلَسَ الْإِمَامُ طَوَوْا الصُّحُفَ وَجَاءُوا
    يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ
    “Apabila
    hari Jum’at tiba, pada pintu-pintu masjid terdapat para Malaikat yang mencatat
    urutan orang datang, yang pertama dicatat pertama. Jika imam duduk, merekapun
    menutup buku catatan, dan ikut mendengarkan khutbah.” (HR. Bukhari dan
    Muslim)
    8. Saat menunggu imam datang, seorang muslim yang
    menghadiri shalat jum’at dianjurkan untuk menyibukkan diri dengan shalat,
    dzikir ataupun membaca Al-Qur’an.
    9.
    Wajib mendengarkan khutbah yang disampaikan imam dengan seksama, tidak boleh
    sibuk sendiri sehingga tidak memperhatikannya. Akibatnya, Jum’atannya akan sia-sia.


    Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu,
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
    إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ
    أَنْصِتْ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ
    “Jika
    engkau berkata pada temanmu pada hari Jum’at, “Diamlah!”, sewaktu
    imam berkhutbah, berarti kemu telah berbuat sia-sia.” (Muttafaqun ‘Alaih,
    lafadz milik al Bukhari)
    Makna laghauta, menurut Imam al Shan’ani dalam Subulus
    Salam”, makna yang paling mendekati kebenaran adalah pendapat Ibnul
    Muniir, yaitu yang tidak memiliki nilai baik. Adapula yang mengatakan,
    (maknanya) batal keutamaan (pahala-pahala) Jum’atmu dan nilainya seperti shalat
    Dhuhur.”
    Dalam hadits lain, beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
    bersabda:
    وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا
    “Barangsiapa
    bermain-main krikil, maka sia-sialah Jum’atnya.” (HR. Muslim)
    Imam an Nawawi rahimahullah menjelaskan dalam Syarh
    Shahih Muslim, “dalam hadits tersebut terdapat larangan memegang-megang
    krikil dan lainnya dari hal yang tak berguna pada waktu khutbah. Di dalamnya
    terdapat isyarat agar menghadapkan hati dan anggota badan untuk mendengarkan
    khutbah. Sedangkan makna lagha (perbuatan sia-sia) adalah perbuatan batil yang
    tercela dan hilang pahalanya.”
    laghauta : yaitu yang tidak memiliki nilai baik. Adapula yang
    mengatakan, (maknanya) batal keutamaan (pahala-pahala) Jum’atmu dan nilainya
    seperti shalat Dhuhur.
    10. Pada saat masuk masjid, didapati imam sudah naik
    mimbar menyampaikan khutbah, maka tetap disunnahkan untuk shalat dua rakaat
    yang ringan sebelum ia duduk. Hal ini didasarkan kepada hadits Jabir bin
    Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu, yang menceritakan: Bahwa Sulaik al-Ghathafani
    datang ke masjid pada hari Jum’at saat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
    berkhutbah. Sulaik langsung duduk, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
    bersabda, “Jika salah seorang kalian mendatangi shalat Jum’at, dan
    (mendapati) imam sedang khutbah, maka hendaknya ia shalat dua rakaat lalu baru
    duduk.” (HR. Muslim)
    11. Jika sudah selesai melaksanakan shalat Jum’at,
    disunnahkan mengerjakan shalat sunnah sesudahnya. Di sebagian riwayat
    disebutkan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam shalat sesudah Jum’at sebanyak
    dua rakaat, (Muttafaq’ alaih). Dan terdapat dalam riwayat lain, beliau
    Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan kepada orang yang melaksanakan
    shalat sesudah Jum’at sebanyak empat rakaat, (HR. Muslim)
    Ishaq rahimahullah berkata, “Jika ia shalat (sunnah
    ba’da Jum’at) di masjid maka ia shalat empat rakaat. Dan jika melaksanakannya
    di rumahnya, maka ia shalat dua rakaat.”
    Abu Bakar al-Atsram berkata, “Kedua-duanya
    boleh.” (al-Hadaiq, Ibnul Jauzsi: 2/183)
    “Jika ia shalat (sunnah ba’da Jum’at) di masjid maka
    ia shalat empat rakaat. Dan jika melaksanakannya di rumahnya, maka ia shalat
    dua rakaat.”
    12. Memperbanyak doa di penghujung hari Jum’at, karena
    termasuk waktu mustajab untuk dikabulkannya doa. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah
    Radliyallah ‘Anhu, dia bercerita: “Abu Qasim (Rasululah) Shallallahu
    ‘Alaihi Wasallam bersabda:
    إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً لَا
    يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا إِلَّا
    أَعْطَاهُ إِيَّاهُ
    “Sesungguhnya
    pada hari Jum’at itu terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim
    berdiri berdoa memohon kebaikan kepada Allah bertepatan pada saat itu,
    melainkan Dia akan mengabulkannya.” Lalu beliau mengisyaratkan dengan
    tangannya, yang kami pahami, untuk menunjukkan masanya yang tidak lama (sangat
    singkat). (HR. Bukhori dan Muslim)
    13. Dimakruhkannya
    puasa pada hari jum’at jika sebelum dan atau sesudahnya tidak melakukan puasa.
    Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
    bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    لاَ يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الجُمُعَةِ،
    إِلَّا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ
    “Janganlah
    seorang dari kalian berpuasa pada hari Jum’at kecuali dibarengi dengan satu
    hari sebelum atau sesudahnya”. (Shahih Bukhari, no. 1985, Shahih Muslim,
    no.1144. Adapun yang tertera disini adalah redaksi Imam Bukhari)
    Imam
    Bukhari meriwayatkan dari Juwairiyah “ummul mu’minin” (ibunda kaum mukmin,
    istri Rasulullah) radhiyallahu ‘anha,
    أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
    وَسَلَّمَ، دَخَلَ عَلَيْهَا يَوْمَ الجُمُعَةِ وَهِيَ صَائِمَةٌ، فَقَالَ:
    «أَصُمْتِ أَمْسِ؟»، قَالَتْ: لاَ، قَالَ: «تُرِيدِينَ أَنْ تَصُومِي غَدًا؟»
    قَالَتْ: لاَ، قَالَ: فَأَفْطِرِي
    “Sesungguhnya
    Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menemuinya pada hari Jum’at ketika dia sedang
    berpuasa. Beliau bertanya: “Apakah kemarin kamu juga berpuasa?” Dia menjawab:
    “Tidak”. Beliau bertanya lagi: “Apakah besok kamu berniat berpuasa?” Dia
    menjawab: “Tidak”. Maka Beliau berkata: “Berbukalah (batalkan puasamu)” (Shahih Bukhari, no.1986)
    Menurut
    pendapat yang shohih dalam madzhab syafi’i dan juga pendapat mayoritas ulama’
    puasa pada hari jum’at secara tersendiri hukumnya makruh, sebagaimana yang
    dijelaskan oleh Imam Nawawi.
    Imam
    Nawawi juga menjelaskan bahwa hikmah dari dimakruhkannya puasa pada hari jum’at
    secara tersendiri adalah dikarenakan hari jum’at merupakan hari yang dianjurkan
    untuk memperbanyak amal ibadah berupa dzikir, do’a, membaca qur’an dan membaca
    shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu disunahkan
    untuk tidak berpuasa pada hari ini agar dapat membantu pelaksanaan
    kegiatan-kegiatan tersebut dengan giat tanpa kebosanan. Hal ini seperti halnya
    anjuran yang diperuntukkan bagi orang haji yang sedang berada di padang arafah,
    yang lebih utama baginya adalah tidak melakukan puasa karena hikmah yang sama
    seperti dalam hal kemakruhan puasa jum’at.
    Imam
    Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari sayyidina Ali karramallahu wajhah;
    مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مُتَطَوِّعًا مِنَ
    الشَّهْرِ أَيَّامًا، فَلْيَكُنْ صَوْمُهُ يَوْمَ الْخَمِيسِ، وَلَا يَصُومُ
    يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فَإِنَّهُ يَوْمُ طَعَامٍ وَشَرَابٍ، وَذِكْرٍ
    “Barangsiapa
    diantara kalian yang mengerjakan amalan sunah beberapa dari satu bulan, maka
    hendaklah puasanya dikerjakan pada hari kamis, dan tidak berpuasa pada hari
    jum’at, karena sesungguhnya hari jum’at adalah hari makan , minum (tidak
    berpuasa), dan berdzikir”. (Mushonnaf
    Ibnu Abi Syaibah No.9243)
    Sedangkan
    menurut pendapat yang dipilih oleh Al-Hafidh Ibnu Hajar, hikmah dari kemakruhan
    puasa pada hari jum’at adalah bahwa hari jum’at adalah hari raya kaum muslimin,
    dan sebagaimana yang dudah diketahui pada hari raya kita dilarang untuk
    berpuasa. Hal ini dikuatkan dengan hadits marfu’ dari Abu Hurairah yang
    diriwayatkan Imam Hakim;
    يَوْمُ الْجُمُعَةِ عِيدٌ فَلَا تَجْعَلُوا
    يَوْمَ عِيدِكُمْ يَوْمَ صِيَامِكُمْ إِلَّا أَنْ تَصُومُوا قَبْلَهُ أَوْ
    بَعْدَهُ
    “Hari
    jum’at adalah hari raya, maka jangan kalian jadikan hari raya kalian sebagai
    hari puasa kalian kecuali jika sebelum atau sesudahnya kalian berpuas.” (Al-Mustadrak, No.1595)
    Sedangkan
    menurut pendapat lain yang dipilih oleh Imam Suyuthi, hikmah dari kemakruhan
    puasa pada hari jum’at adalah untuk menyelisihi orang-orang yahudi dimana
    mereka berpuasa pada hari raya mereka.
    14.
    Dimakruhkannya melakukan ibadah yang khusus pada malam harinya.
    Hal
    ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah
    radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    لَا تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ
    بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي، وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ
    مِنْ بَيْنِ الْأَيَّامِ، إِلَّا أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ
    “Janganlah
    kalian mengkhususkan malam Jum’at dengan shalat malam di antara malam-malam
    yang lain, dan jangan pula dengan puasa, kecuali memang bertepatan dengan hari
    puasanya.” (Shahih Muslim,
    no.1144)
    Dalam
    kitab Syarah Shohih Muslim imam Nawawi menjelaskan bahwa didalam hadits ini
    terdapat larangan yang jelas mengenai pelaksanaan sholat yang khusus dilakukan
    pada malam jum’at, dan kemakruhan ini telah disepakati oleh semua ulama’.
    15. Memperbanyak do’a di hari Jum’at.

    Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membicarakan
    mengenai hari Jum’at lalu ia bersabda,

    فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ
    ، وَهْوَ قَائِمٌ يُصَلِّى ، يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ
    إِيَّاهُ
    “Di
    dalamnya terdapat waktu. Jika seorang muslim berdoa ketika itu, pasti diberikan
    apa yang ia minta” Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya tentang
    sebentarnya waktu tersebut. (HR. Al Hakim)

    Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Baari ketika menjelaskan hadits ini beliau
    menyebutkan 42 pendapat ulama tentang waktu yang dimaksud. Namun secara umum
    terdapat 4 pendapat yang kuat.

    Kapan
    waktu mustajab di hari Jum’at?
    Pendapat
    pertama, yaitu waktu sejak imam naik mimbar sampai selesai shalat Jum’at,
    berdasarkan hadits:
    هي ما بين أن يجلس الإمام إلى أن تقضى الصلاة

    “Waktu tersebut adalah ketika imam naik mimbar sampai shalat Jum’at selesai”
    (HR. Al Hakim).

    Pendapat ini dipilih oleh Imam Muslim, An Nawawi, Al Qurthubi, Ibnul Arabi dan
    Al Baihaqi.

    Pendapat kedua, yaitu setelah ashar sampai terbenamnya matahari. Berdasarkan
    hadits:

    يوم الجمعة ثنتا عشرة يريد ساعة لا يوجد مسلم يسأل الله
    عز وجل شيئا إلا أتاه الله عز وجل فالتمسوها آخر ساعة بعد العصر

    “Dalam 12 jam hari Jum’at ada satu waktu, jika seorang muslim meminta sesuatu
    kepada Allah Azza Wa Jalla pasti akan dikabulkan. Carilah waktu itu di waktu
    setelah ashar” (HR. Abu Dawud).

    Pendapat ini dipilih oleh At Tirmidzi, pendapat ini yang lebih masyhur
    dikalangan para ulama.

    Pendapat ketiga, yaitu setelah ashar, namun diakhir-akhir hari Jum’at. Pendapat
    ini didasari oleh riwayat dari Abi Salamah. Ishaq bin Rahawaih, At Thurthusi,
    Ibnul Zamlakani menguatkan pendapat ini.

    Pendapat keempat, yang juga dikuatkan oleh Ibnu Hajar sendiri, yaitu
    menggabungkan semua pendapat yang ada. Ibnu ‘Abdil Barr berkata: “Dianjurkan
    untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa pada dua waktu yang disebutkan”.

    Penulis
    : Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus.

    محمد سلفى بن أبو نوار العيدروس