Manfaat Dan Pentingnya
Shalat Dhuha.
حَدَّثَنَا
مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا عَبَّاسٌ
الْجُرَيْرِيُّ هُوَ ابْنُ فَرُّوخَ عَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلَاثٍ لَا
أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ
وَصَلَاةِ الضُّحَى وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ
Telah menceritakan kepada
kami Muslim bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Syu’bah telah
menceritakan kepada kami ‘Abbas Al Jurairiy dia adalah anak dari Farrukh dari
Abu ‘Utsman An-Nahdiy dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata:
“Kekasihku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) telah berwasiat
kepadaku dengan tiga perkara yang tidak akan pernah aku tinggalkan hingga aku
meninggal dunia, yaitu shaum tiga hari pada setiap bulan, shalat Dhuha dan
tidur dengan shalat witir terlebih dahulu”. (HR. Bukhori No.1107, Muslim
No.1182, At Tirmidzi No.691, An Nasa’I No.2392, Ahmad No.10078, dan Abudaud
No.1220)
و حَدَّثَنِي
يَحْيَى بْنُ حَبِيبٍ الْحَارِثِيُّ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ عَنْ
سَعِيدٍ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ أَنَّ مُعَاذَةَ الْعَدَوِيَّةَ حَدَّثَتْهُمْ عَنْ
عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يُصَلِّي الضُّحَى أَرْبَعًا وَيَزِيدُ مَا شَاءَ اللَّهُ و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ
بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَابْنُ بَشَّارٍ جَمِيعًا عَنْ مُعَاذِ بْنِ هِشَامٍ قَالَ
حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ قَتَادَةَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ
Dan telah menceritakan
kepadaku Yahya bin Habib Al Haritsi telah menceritakan kepada kami Khalid bin
Al Harits dari Said, telah menceritakan kepada kami Qatadah, bahwa Ma’adzah Al
‘Adawiyah menceritakan kepada mereka dari ‘Aisyah katanya; Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melakukan shalat dhuha sebanyak empat
rakaat, dan terkadang beliau menambah sekehendak Allah.” Telah
menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan Ibnu Basyar, semuanya dari
Mu’adz bin Hisyam katanya; telah menceritakan kepadaku Ayahku dari Qatadah
dengan sanad seperti ini. (HR. Muslim No.1176, Ibnumajah No.1371, dan Ahmad
No.23497)
حَدَّثَنَا
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَسْمَاءَ الضُّبَعِيُّ حَدَّثَنَا مَهْدِيٌّ
وَهُوَ ابْنُ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا وَاصِلٌ مَوْلَى أَبِي عُيَيْنَةَ عَنْ يَحْيَى
بْنِ عُقَيْلٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ أَبِي الْأَسْوَدِ الدُّؤَلِيِّ
عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ
قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ
تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ
وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ
الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ
الضُّحَى
Telah menceritakan kepada
kami Abdullah bin Muhammad bin Asma` Adl Dluba`i telah menceritakan kepada kami
Mahdi yaitu Ibnu Maimun telah menceritakan kepada kami Washil mantan budak Abu
‘Uyainah dari Yahya bin ‘Uqail dari Yahya bin Ya’mar dari Abul Aswad Ad Du`ali
dari Abu Dzarr dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:
“Setiap pagi dari persendian masing-masing kalian ada sedekahnya, setiap
tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan setiap tahlil adalah
sedekah, setiap takbir sedekah, setiap amar ma’ruf nahyi mungkar sedekah, dan
semuanya itu tercukupi dengan dua rakaat dhuha.” (HR. Muslim No.1181,
Abudaud No.1093, dan Ahmad No.20501)
حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا
شُعْبَةُ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ مُرَّةَ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ
أَبِي لَيْلَى يَقُولُ مَا حَدَّثَنَا أَحَدٌ أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى غَيْرُ أُمِّ هَانِئٍ فَإِنَّهَا
قَالَتْ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ بَيْتَهَا
يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ فَاغْتَسَلَ وَصَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ فَلَمْ أَرَ
صَلَاةً قَطُّ أَخَفَّ مِنْهَا غَيْرَ أَنَّهُ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ
Telah menceritakan kepada
kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Amru bin Murrah Aku
mendengar ‘Abdurrahman bin Abu Laila berkata: Tidak ada dari orang yang pernah
menceritakan kepada kita bahwa dia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
melaksanakan shalat Dhuha kecuali Ummu Hani’ yang dia menceritakan bahwa Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memasuki rumahnya pada saat penaklukan
Makkah, kemudian Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mandi lalu shalat delapan
raka’at” seraya menjelaskan: “Aku belum pernah sekalipun melihat
Beliau melaksanakan shalat yang lebih ringan dari pada saat itu, namun Beliau
tetap menyempurnakan ruku’ dan sujudnya”. (HR. Bukhori N0.1105, At Tirmidzi
No.436, Ahmad No.25666)
و
حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَابْنُ نُمَيْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ
وَهُوَ ابْنُ عُلَيَّةَ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ الْقَاسِمِ الشَّيْبَانِيِّ أَنَّ
زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّونَ مِنْ الضُّحَى فَقَالَ أَمَا
لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلَاةَ فِي غَيْرِ هَذِهِ السَّاعَةِ أَفْضَلُ إِنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ
حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ
Dan telah menceritakan
kepada kami Zuhair bin Harb dan Ibnu Numair keduanya berkata; telah
menceritakan kepada kami Ismail yaitu Ibnu ‘Ulayyah dari Ayyub dari Al Qasim
Asy Syaibani bahwa Zaid bin Arqam pernah melihat suatu kaum yang tengah
mengerjakan shalat dluha, lalu dia berkata; “Tidakkah mereka tahu bahwa
shalat diluar waktu ini lebih utama? sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda: “Shalat awwabin (orang yang bertaubat) dikerjakan
ketika anak unta mulai beranjak karena kepanasan.” (HR. Muslim No.1237,
Ahmad No.18470, 18514, 18540, dan Ad Darimi No.1421)
حَدَّثَنَا
وَكِيعٌ قَالَ حَدَّثَنَا النَّهَّاسُ بْنُ قَهْمٍ الصُّبَحِيُّ عَنْ شَدَّادٍ
أَبِي عَمَّارٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ حَافَظَ عَلَى شُفْعَةِ الضُّحَى غُفِرَتْ لَهُ ذُنُوبُهُ
وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
Telah menceritakan kepada
kami Waki’ berkata; telah menceritakan kepada kami An Nahas bin Qahm Ash
Shubahi dari Syaddad Abu ‘Ammar dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menjaga shalat dhuha
maka dosa-dosanya akan diampuni walaupun seperti buih dilautan.” (HR.
Ahmad No.9339 dan At Tirmidzi No.438)
حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ السِّمْنَانِيُّ
حَدَّثَنَا أَبُو مُسْهِرٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ بَحِيرِ
بْنِ سَعْدٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ أَبِي
الدَّرْدَاءِ أَوْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ عَنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ ابْنَ آدَمَ ارْكَعْ لِي مِنْ
أَوَّلِ النَّهَارِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ أَكْفِكَ آخِرَهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا
حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ
Telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far As
Samnani telah menceritakan kepada kami Abu Mushir telah menceritakan kepada
kami Isma’il bin ‘Ayyasy dari Bahir bin Sa’d dari Khalid bin Ma’dan dari Jubair
bin Nufair dari Abu Darda’ atau Abu Dzar dari Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa
sallam dari Allah Azza Wa Jalla, Dia berfirman: “Wahai anak Adam, ruku’lah
kamu kepadaku dipermulaan siang (shalat dhuha) sebanyak empat raka’at , niscaya
Aku akan memenuhi kebutuhanmu di akhir siang.” Abu Isa berkata, ini adalah
hadits hasan gharib. (HR. At Tirmidzi No.437, Ad Darimi No.1415)
حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ رُشَيْدٍ حَدَّثَنَا
الْوَلِيدُ عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ عَنْ مَكْحُولٍ عَنْ كَثِيرِ بْنِ
مُرَّةَ أَبِي شَجَرَةَ عَنْ نُعَيْمِ بْنِ هَمَّارٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
يَا ابْنَ آدَمَ لَا تُعْجِزْنِي مِنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ فِي أَوَّلِ نَهَارِكَ
أَكْفِكَ آخِرَهُ
Telah menceritakan kepada kami Daud bin
Rusyaid telah menceritakan kepada kami Al Walid dari Sa’id bin Abdul Aziz dari
Makhul dari Katsir bin Murrah Abu Syajarah dari Nu’aim bin Hammar dia berkata;
saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah
‘azza wajalla berfirman; Wahai anak Adam, janganlah kamu meninggalkan-Ku
(karena tidak mengerjakan) empat raka’at pada permulaan siang (dhuha), niscaya
aku akan mencukupi kebutuhanmu di sore hari.” (HR. Ahmad No.1097, 16749,
17126, 21431, 21433)
وقال صلى الله
عليه وسلم: {مَنْ صَلَّى الضُّحَى ثِنَتيْ عَشرةَ رَكْعَةً إيمانا واحْتِسَابا
كَتَبَ الله لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ
ورَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ وَبَنى الله لَهُ بَيْتا في الجَنَّةِ
وَغَفَرَ الله لَهُ ذُنُوبَه كُلَّها
Nabi Muhammad saww. bersabda : “Barangsiapa
mengerjakan shalat dhuha sebanyak duabelas roka’at dengan iman dan mengharapkan
pahala, maka Allah Ta’ala menetapkan baginya sejuta kebaikan, menghapus
daripadanya sejuta kejelekan, mengangkat baginay sejuta derajat, dan Allah
membangunkan baginya sebuah rumah disurga dan Allah mengampuni dosa-dosa orang
itu seluruhnya.”. (Kitab Lubabul Hadits)
وروى زيد بن أسلم عن ابن عمر رضي اللَّه تعالى
عنهما قال: قلت لأبي ذر الغفاري رضي اللَّه تعالى عنه أوصني يا عم؟ قال: سألت رسول
اللَّه صلى اللَّه عليه وسلم كما سألتني فقال: من صلى الضحى ركعتين لم يكتب من الغافلين،
ومن صلاها أربعاً كتب من العابدين، ومن صلاها ستاً لم يتبعه يومئذ ذنب، ومن صلاها
ثمانياً كتب من القانتين، ومن صلاها اثنتي عشرة ركعة بنى له بيت في الجنة
Zaid bin Aslam dari Umar ra. Berkata kepada
Abu Dzar: Nasehatilah aku hai ammi. Abu Dzar ra. Berkata : Saya telah meminta
kepada Nabi saww. apa yang anda minta ini, maka Nabi saww. bersabda :
“Barangsiapa yang shalat dhuha dua roka’at tidak tercatat pada golongan
orang-orang yang lupa/lalai, dan barangsiapa yang shalat dhuha empat roka’at
termasuk orang abid (ahli ibadah), dan barangsiapa shalat dhuha enam roka’at
tidak terkena dosa pada hari itu, dan barangsiapa yang sembahyang dhuha delapan
roka’at dibangunkan untuknya rumah didalam surga.”. (Kitab Tanbihul Ghafilin
dan Kitab Tanqihul Qaul)
وأبو الشيخ عن أنس: رَكْعَتَانِ مِنَ الضُّحَى
تَعْدِلانِ عِنْدَ الله بِحُجَّةٍ وَعُمْرَةٍ مُتَقَبَّلَتَيْنِ
Dalam riwayat Abusy-Syaikh
dari Anas ra. berkata : “Rok’atani minadh-dhuha ta’dilani indallahi
bihajjatin wa umrotin mutqobbilataini. Artinya : Dua roka’at sunnat dhuha
menyamai disisi Allah dengan haji dan umroh yang diterima keduanya.”.
(Kitab Irsyadul ‘Ibad Ilasabilirrosyad) 
والطبراني عن أبي هريرة: إنَّ في الجَنَّةِ
باباً يقال له الضُّحى، فإذا كانَ يَوْمَ القِيَامَةِ نَادَى منادٍ: أيْنَ
الَّذِينَ كانوا يُدِيمُونَ عَلَى صَلاةِ الضُّحَى هذا بَابُكُمْ فَادْخُلُوهُ
بِرَحْمَةِ الله


Abuhurairah ra. berkata Nabi
Muhammad saww. bersabda : “Inna fil-jannati baaban yuqoolu lahu
adh-adhuhaa faidzaa kaana yaumul-qiyaamati naadaa munaadin ainal-ladziina
kaanuu yudiimuuna ‘alaa sholaatidh-dhuhaa hadzaa baabukum faad khuluuhu
birohmatillaahi. Artinya : Sesungguhnya di sorga ada pintu yang bernama
Adh-dhuha, maka bila hari qiamat ada seruan : Manakah orang-orang yang selalu
mengerjakan sholat dhuha inilah pintumu maka masuklah dari padanya dengan
rahmat Allah.”. (HR. Ath-Thabarani, di Kitab Irsyadul ‘Ibad
Ilasabilirrosyad dan Tanbihul Ghafilin) 
وسمويه عن سعد: مَنْ سَبَّحَ سَبْحَةَ الضُّحَى
حَوْلاً محولاً كُتِبَ لَهُ بَراءةٌ مِنَ النَّارِ


Samwaih meriwayatkan dari
Sa’ad ra. berkata : “Man sabbaha subhatadh-dhuha haulan muhawwalan kutiba
lahu baro’atun minannaar. Artinya : Siapa yang tetap menjalankan sholat dhuha
hingga setahun penuh, maka dicatat baginya bebas dari api neraka.”. (Kitab
Irsyadul ‘Ibad Ilasabilirrosyad) 
والديلمي عن عبد الله بن جراد: المُنَافِقُ لا
يُصَلّي صَلاةَ الضُّحَى وَلا يَقْرَأُ قُلْ يَا أَيُّهَا الكَافِرُونَ

Abdullah bin Jarod berkata : “Al-Munafiqu
laa yusholli sholatadh-dhuhawa laa yaqro’ qul ya ayyuhal kafirun. Artinya :
Orang munafiq tidak sembahyang dhuha dan tidak membaca qul ya ayyuhal
kafirun.”. (Kitab Irsyadul ‘Ibad Ilasabilirrosyad) 

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ
مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ بُكَيْرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ
إِسْحَقَ قَالَ حَدَّثَنِي مُوسَى بْنُ فُلَانِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ عَمِّهِ
ثُمَامَةَ بْنِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَلَّى الضُّحَى ثِنْتَيْ
عَشْرَةَ رَكْعَةً بَنَى اللَّهُ لَهُ قَصْرًا مِنْ ذَهَبٍ فِي الْجَنَّةِ قَالَ
وَفِي الْبَاب عَنْ أُمِّ هَانِئٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَنُعَيْمِ بْنِ هَمَّارٍ
وَأَبِي ذَرٍّ وَعَائِشَةَ وَأَبِي أُمَامَةَ وَعُتْبَةَ بْنِ عَبْدٍ السُّلَمِيِّ
وَابْنِ أَبِي أَوْفَى وَأَبِي سَعِيدٍ وَزَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ وَابْنِ عَبَّاسٍ
قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَنَسٍ حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ
هَذَا الْوَجْهِ
Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib Muhammad bin Al Ala’ telah
menceritakan kepada kami Yunus bin Bukair dari Muhammad bin Ishaq dia berkata,
telah menceritakan kepadaku Musa bin Fulan bin Anas dari pamannya yaitu
Tsumamah bin Anas bin Malik dari Anas bin Malik dia berkata, Rasulullah
Shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang melaksanakan shalat
dhuha dua belas raka’at, niscaya Allah akan membuatkan baginya sebuah istana
dari emas di syurga.” (perawi) berkata, dalam bab ini (ada juga riwayat
-pent) dari Ummu Hani’, Abu Hurairah, Nu’aim bin Hammar, Abu Dzar, ‘Aisyah, Abu
Umamah, Utbah bin ‘Abd As Sulami, Ibnu Abu Aufa, Abu Sa’id, Zaid bin Arqam dan
Ibnu Abbas. Abu Isa berkata, hadits Anas adalah hadits gharib, kami tidak
mengetahuinya kecuali dari jalur ini. (HR. At Tirmidzi No.435, dan Ibnumajah
No.1370)
وابن حبان عن عقبة بن عامر: صَلُّوا رَكْعَتَيْ
الضُّحَى بِسُورَتَيْهِمَا وَالشَّمْسُ وضُحَاهَا والضُّحَى
Uqbah bin Aamir ra. berkata,
Nabi Muhammad saww. bersabda : “Shollu rok’atain adh-dhuha bisurotaihima,
wasy-syamsi wadhuhaha wadh-dhuha. Artinya : Sembahyang dua roka’at dhuha itu
dengan membaca surat Wasy-syamsi wadhuhaha dan surat Wadhuha.”. (HR. Ibnu
Hibban)
وورد في حديث رواه العقيلي: كان رسول الله يقرأ
فيهما: قُلْ يَا أَيُّهَا الكَافِرُونَ وَقُلْ هُوَ الله أَحَدٌ
Dan dalam riwayat Al-Uqoili
: “Kaana Saww. yaqro’u fihima qul ya ayyuhal Kafirun, wa qul huwallahu
ahad. Artinya : Adanya Nabi Saww. membaca dalam sembahyang dhuha Qul ya ayyuhal
kafirun dan Qul huwallahu ahad.”. (Kitab Irsyadul ‘Ibad Ilasabilirrosyad) 
وورد
بعد الضحى: رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الغَفُورُ
مائة مرة
Dan
ada hadits yang menerangkan sesudah shalat dhuha membaca Robbighfirlii watub
‘alayya innaka antat tawaabul ghofuuru (Ya Tuhan ampunilah dosaku dan terimalah
tobatku sesungguhnya Engkau yang menerima taubat dan Maha Pengampun) seratus
(100) kali. (Kitab
Irsyadul ‘Ibad Ilasabilirrosyad) 
اللهم إن الضحى ضحاؤك ، والبها بهاؤك ،
والجمال جمالك ، والقوة قوتك ، والقدرة قدرتك ، والعصمة عصمتك ، اللهم إن كان رزقي
في السماء فأنزله ، وإن كان في الأرض فأخرجه ، وإن كان معسرا فيسره ، وإن كان
حراما فطهره ، وإن كان بعيدا فقربه ، بحق ضحائك وبهائك وجمالك وقوتك وقدرتك ، آتني
ما آتيت عبادك الصالحين
ALLAAHUMMA INNADH-DHUHAA ‘A DHUHAA ‘UKA  WAL BAHAA ‘A BAHAA ‘UKA WAL JAMAALA JAMAALUKA
WAL QUWWATA QUWWATUKA WALQUDRATA QUDRATUKA WAL ‘ISHMATA ‘ISHMATUKA. ALLAAHUMMA
IN KAANA RIZQII FIS-SAMAA ‘I FA ANZILHU WA IN KAANA FIL ARDI FA AKHRIJHU  WA IN KAANA MU’ASSARAN FAYASSIRHU  WA IN KAANA HARAAMAN FATHAHHIRHU WA IN KAANA
BA’IIDAN FA QARRIBHU, BIHAQQI DHUHAA ‘IKA, WA BAHAA ‘IKA, WAJAMAALIKA, WA
QUWWATIKA, WA QUDRATIKA. AATINII MAA ‘ATAITA ‘IBAADAKASH-SHAALIHIIN.
Artinya : Ya Allah, bahwasannya waktu dhuha itu adalah
waktuMU,
dan keagungan itu adalah keagunganMU, dan keindahan itu
adalah keindahanMU,
dan kekuatan itu adalah kekuatanMU, dan perlindungan itu
adalah perlindunganMU,
Ya Allah, jika rizkiku masih ! di atas langit, maka
turunkanlah,
jika masih di dalam bumi, maka keluarkanlah, jika masih sukar,
maka mudahkanlah,
jika (ternyata) haram, maka sucikanlah, jika masih jauh,
maka dekatkanlah,
Berkat waktu dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan dan
kekuasaanMU,
limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan
kepada hamba-hambaMU yang sholeh.

Wahai orang-orang yang mencintai Allah dan
RasulNya kerjakanlah sholat dhuha setiap hari walaupun hanya dua roka’at karena
ditubuh kita tiap harinya ada ruas-ruas yang harus dikeluarkan sedekahnya
(lihat hadist diatas) dengan mengerjakan dua roka’at dhuha itulah yang menjadi
penebus sedekah tiap-tiap ruas tubuh kita, dan sedapat mungkin kita mengqodho
sholat dhuha kita yang lalu-lalu dengan mengerjakan sholat dhuha lebih dari dua
roka’at dalam tiap harinya, agar kita dapat memenuhi sodaqoh ruas-ruas pada
tubuh kita dari aqil baliq hingga sampai saat ini. 

Wallahu a’lam bishawab..

Dikutip dari :
* Kitab Hadits Kutubu Tis’ah.
* Riyadhus Shalihin => Al Imam An Nawawi.
* Irsyadul
‘Ibad Ilasabilirrosyad
=> Asy Syaikh
Zinuddin Al Maribariy.
* An Nashaaih Ad Diniyah wal
washaaya Al Imaaniyah => Al Imam Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad.
* Risalatul Mu’awanah =>
Al Imam Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad.
* Tanbihul Ghafilin => Al
Imam Abul Laits As Samarqandi.
* Lubabul Hadits => Al
Imam Al Hafidz Jalaluddin Abdurrahman bin Abii Bakar As Suyuthi.
* Tanqihul Qaul => Asy
Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar Al Bantani.
Penulis : Muhammad
Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus.

محمد سلفى بن أبو نوار العيدروس

Group Majelis Nuurus-Sa’aadah : http://www.facebook.com/groups/160814570679672/

One thought on “Manfaat Dan Pentingnya Shalat Dhuha.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *