Hukum
Berjilbab (Menutup Aurat).
يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي
سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ
اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian
untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa
itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda
kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. (QS. Al A’raaf (7) : 26)
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ
الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ
يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu
dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke
seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk
dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi
Maha penyayang. (QS. Al Ahzab (33) : 59)
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ
فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ
بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا
لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ
أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي
إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ
أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ
الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ
بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى
اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka
menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka
menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan
hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan
perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami
mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau
saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka,
atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau
budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak
mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti
tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui
perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah,
hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An Nuur (24) : 31)
Adapun dalil-dalil dari Sunnah.
1. Hadits yang melarang terlihat aurat bagi wanita baligh.
حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ كَعْبٍ الْأَنْطَاكِيُّ وَمُؤَمَّلُ بْنُ الْفَضْلِ
الْحَرَّانِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ عَنْ سَعِيدِ بْنِ بَشِيرٍ عَنْ قَتَادَةَ
عَنْ خَالِدٍ قَالَ يَعْقُوبُ ابْنُ دُرَيْكٍ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا
أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا
بَلَغَتْ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ
إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ قَالَ أَبُو دَاوُد هَذَا مُرْسَلٌ خَالِدُ بْنُ دُرَيْكٍ
لَمْ يُدْرِكْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا
Telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ka’b Al Anthaki dan
Muammal Ibnul Fadhl Al Harrani keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami
Al Walid dari Sa’id bin Basyir dari Qatadah dari Khalid berkata; Ya’qub bin
Duraik berkata dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha, bahwa Asma binti Abu Bakr masuk
menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mengenakan kain yang
tipis, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun berpaling darinya.
Beliau bersabda: “Wahai Asma`, sesungguhnya seorang wanita jika telah baligh
tidak boleh terlihat darinya kecuali ini dan ini -beliau menunjuk wajah dan
kedua telapak tangannya-.” Abu Dawud berkata, “Ini hadits mursal.
Khalid bin Duraik belum pernah bertemu dengan ‘Aisyah radliallahu ‘anha.”
(HR. Abu Daud)
2. Hadits yang mengancam wanita tidak masuk surga karena tidak
berjilbab.
حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ
أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ
كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ
مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ
الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا
وَكَذَا
Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan
kepada kami Jurair dari Suhail dari ayahnya dari Abu Hurairah berkata:
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Dua golongan penghuni
neraka yang belum pernah aku lihat; kaum membawa cambuk seperti ekor sapi,
dengannya ia memukuli orang dan wanita-wanita yang berpakaian (tapi) telanjang,
mereka berlenggak-lenggok dan condong (dari ketaatan), rambut mereka seperti
punuk unta yang miring, mereka tidak masuk surga dan tidak akan mencium baunya,
padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan sejauh ini dan
ini.” (HR. Muslim No.5098, Ahmad N0.8311 dan Imam Malik N0.1421).
3. Wanita adalah aurat, dia wajib berjilbab.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَاصِمٍ
حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ مُوَرِّقٍ عَنْ أَبِي الْأَحْوَصِ عَنْ عَبْدِ
اللَّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ
فَإِذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ
غَرِيبٌ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar, telah
menceritakan kepada kami ‘Amr bin ‘Ashim telah menceritakan kepada kami Hammam
dari Qatadah dari Muwarriq dari Abu Al Ahwash dari Abdullah dari Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wanita itu adalah aurat. Jika dia
keluar maka setan akan memperindahnya di mata laki-laki.” Abu Isa berkata;
“Ini merupakan hadits hasan gharib.” (HR. At Tirmidzi No.1093, Ibnu
Hibban dan Ath Thabrani dalam kitab Ma’jmul Kabir. Lihat Al-Irwa’: 273).
4. Ummu Salamah berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana wanita
berbuat dengan pakaiannya yang menjulur ke bawah.
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ أَبِي بَكْرِ
بْنِ نَافِعٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ صَفِيَّةَ بِنْتِ أَبِي عُبَيْدٍ أَنَّهَا أَخْبَرَتْهُ
أَنَّ أُمَّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ
لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ ذَكَرَ الْإِزَارَ فَالْمَرْأَةُ
يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ تُرْخِي شِبْرًا قَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ إِذًا يَنْكَشِفُ
عَنْهَا قَالَ فَذِرَاعًا لَا تَزِيدُ عَلَيْهِ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى
أَخْبَرَنَا عِيسَى عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَذَا الْحَدِيثِ
قَالَ أَبُو دَاوُد رَوَاهُ ابْنُ إِسْحَقَ وَأَيُّوبُ بْنُ مُوسَى عَنْ نَافِعٍ عَنْ
صَفِيَّةَ
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah dari Malik
dari Abu Bakr bin Nafi’ dari bapaknya bahwasanya Shafiyah binti Abu Ubaid
mengabarkan kepadanya, bahwa Ummu Salamah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau
menyebutkan tentang kain sarung, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan
wanita?” beliau menjawab: “Lebihkanlah satu jengkal.” Ummu
Salamah berkata lagi, “Bagaimana jika masih terlihat?” beliau menjawab:
“Lebihkanlah satu hasta dan jangan lebih.” Telah menceritakan kepada
kami Ibrahim bin Musa berkata, telah mengabarkan kepada kami Isa dari
Ubaidullah dari Nafi’ dari Sulaiman bin Yasar dari Ummu Salamah dari Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam dengan hadits ini.” Abu Dawud berkata, ”
Ibnu Ishaq dan Ayyub bin Musa juga menceritakan dari Nafi’ dari Shafiyah.”
(HR. Abu Daud No.3590, dan An Nasa’I No.5244)
5. Kisah wanita yang akan berangkat menunaikan shalat ‘ied, ia
tidak memiliki jilbab, maka diperintah oleh Rasulullah SAW. untuk berjilbab.
و حَدَّثَنَا عَمْرٌو النَّاقِدُ حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا
هِشَامٌ عَنْ حَفْصَةَ بِنْتِ سِيرِينَ عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ أَمَرَنَا رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى
الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ
الصَّلَاةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ
إِحْدَانَا لَا يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ قَالَ لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا
Dan telah menceritakan kepada kami Amru An Naqid telah
menceritakan kepada kami Isa bin Yunus telah menceritakan kepada kami Hisyam
dari Hafshah binti Sirin dari Ummu Athiyyah ia berkata; Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam memerintahkan kepada kami agar mengajak serta keluar melakukan
shalat idul fithri dan idul Adlha para gadis, wanita haid dan wanita yang
sedang dipingit. Adapun mereka yang sedang haidl tidak ikut shalat, namun turut
menyaksikan kebaikan dan menyambut seruan kaum muslimin. Saya bertanya kepada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, di antara kami
ada yang tidak memiliki jilbab.” Beliau menjawab: “Hendaknya
saudaranya yang memiliki jilbab memakaikannya.” (HR. Muslim No.1475)
Dalil Berjilbab dan Bercadar Dalam Pandangan Ulama Imam Madzab.
Madzhab Hanafi.
Pendapat madzhab Hanafi, wajah wanita bukanlah aurat, namun
memakai cadar hukumnya sunnah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan
menimbulkan fitnah.
* Asy Syaranbalali berkata:
وجميع بدن الحرة عورة إلا وجهها وكفيها باطنهما وظاهرهما في الأصح ، وهو
المختار
Seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan
dalam serta telapak tangan luar, ini pendapat yang lebih shahih dan merupakan
pilihan madzhab kami. (Matan Nuurul Iidhah)
* Al Imam Muhammad ‘Alaa-uddin berkata:
وجميع بدن الحرة عورة إلا وجهها وكفيها ، وقدميها في رواية ، وكذا صوتها،
وليس بعورة على الأشبه ، وإنما يؤدي إلى الفتنة ، ولذا تمنع من كشف وجهها بين الرجال
للفتنة
Seluruh badan wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan
dalam. Dalam suatu riwayat, juga telapak tangan luar. Demikian juga suaranya.
Namun bukan aurat jika dihadapan sesama wanita. Jika cenderung menimbulkan
fitnah, dilarang menampakkan wajahnya di hadapan para lelaki. (Ad Durr Al
Muntaqa, 81)
* Al Allamah Al Hashkafi berkata:
والمرأة كالرجل ، لكنها تكشف وجهها لا رأسها ، ولو سَدَلَت شيئًا عليه
وَجَافَتهُ جاز ، بل يندب
Aurat wanita dalam shalat itu seperti aurat lelaki. Namun wajah
wanita itu dibuka sedangkan kepalanya tidak. Andai seorang wanita memakai
sesuatu di wajahnya atau menutupnya, boleh, bahkan dianjurkan. (Ad Durr Al
Mukhtar, 2/189)
* Al Allamah Ibnu Abidin berkata:
تُمنَعُ من الكشف لخوف أن يرى الرجال وجهها فتقع الفتنة ، لأنه مع الكشف
قد يقع النظر إليها بشهوة
Terlarang bagi wanita menampakan wajahnya karena khawatir akan
dilihat oleh para lelaki, kemudian timbullah fitnah. Karena jika wajah
dinampakkan, terkadang lelaki melihatnya dengan syahwat. (Hasyiah ‘Alad Durr Al
Mukhtaar, 3/188-189)
* Al Allamah Ibnu Najiim berkata:
قال مشايخنا : تمنع المرأة الشابة من كشف وجهها بين الرجال في زماننا
للفتنة
Para ulama madzhab kami berkata bahwa terlarang bagi wanita muda
untuk menampakkan wajahnya di hadapan para lelaki di zaman kita ini, karena dikhawatirkan
menimbulkan fitnah. (Al Bahr Ar Raaiq, 284)
Beliau berkata demikian di zaman beliau, yaitu beliau wafat pada
tahun 970 H, bagaimana dengan zaman kita sekarang?
Madzhab Maliki.
Mazhab Maliki berpendapat bahwa wajah wanita bukanlah aurat, namun
memakai cadar hukumnya sunnah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan
menimbulkan fitnah. Bahkan sebagian ulama Maliki berpendapat seluruh tubuh
wanita adalah aurat.
* Az Zarqaani berkata:
وعورة الحرة مع رجل أجنبي مسلم غير الوجه والكفين من جميع جسدها ، حتى
دلاليها وقصَّتها . وأما الوجه والكفان ظاهرهما وباطنهما ، فله رؤيتهما مكشوفين ولو
شابة بلا عذر من شهادة أو طب ، إلا لخوف فتنة أو قصد لذة فيحرم ، كنظر لأمرد ، كما
للفاكهاني والقلشاني
Aurat wanita di depan lelaki muslim ajnabi adalah seluruh tubuh
selain wajah dan telapak tangan. Bahkan suara indahnya juga aurat. Sedangkan
wajah, telapak tangan luar dan dalam, boleh dinampakkan dan dilihat oleh
laki-laki walaupun wanita tersebut masih muda baik sekedar melihat ataupun
untuk tujuan pengobatan. Kecuali jika khawatir timbul fitnah atau lelaki
melihat wanita untuk berlezat-lezat, maka hukumnya haram, sebagaimana haramnya
melihat amraad. Hal ini juga diungkapkan oleh Al Faakihaani dan Al Qalsyaani.
(Syarh Mukhtashar Khalil, 176)
* Ibnul Arabi berkata:
والمرأة كلها عورة ، بدنها ، وصوتها ، فلا يجوز كشف ذلك إلا لضرورة ،
أو لحاجة ، كالشهادة عليها ، أو داء يكون ببدنها ، أو سؤالها عما يَعنُّ ويعرض عندها
Wanita itu seluruhnya adalah aurat. Baik badannya maupun suaranya.
Tidak boleh menampakkan wajahnya kecuali darurat atau ada kebutuhan mendesak
seperti persaksian atau pengobatan pada badannya, atau kita dipertanyakan
apakah ia adalah orang yang dimaksud (dalam sebuah persoalan). (Ahkaamul
Qur’an, 3/1579)
* Al Qurthubi berkata:
قال ابن خُويز منداد ــ وهو من كبار علماء المالكية ـ : إن المرأة اذا
كانت جميلة وخيف من وجهها وكفيها الفتنة ، فعليها ستر ذلك ؛ وإن كانت عجوزًا أو مقبحة
جاز أن تكشف وجهها وكفيها
Ibnu Juwaiz Mandad – ia adalah ulama besar Maliki – berkata: Jika
seorang wanita itu cantik dan khawatir wajahnya dan telapak tangannya
menimbulkan fitnah, hendaknya ia menutup wajahnya. Jika ia wanita tua atau
wajahnya jelek, boleh baginya menampakkan wajahnya. (Tafsir Al Qurthubi,
12/229)
* Al Hathab berkata:
واعلم أنه إن خُشي من المرأة الفتنة يجب عليها ستر الوجه والكفين . قاله
القاضي عبد الوهاب ، ونقله عنه الشيخ أحمد زرّوق في شرح الرسالة ، وهو ظاهر التوضيح
Ketahuilah, jika dikhawatirkan terjadi fitnah maka wanita wajib
menutup wajah dan telapak tangannya. Ini dikatakan oleh Al Qadhi Abdul Wahhab,
juga dinukil oleh Syaikh Ahmad Zarruq dalam Syarhur Risaalah. Dan inilah
pendapat yang lebih tepat. (Mawahib Jaliil, 499)
* Al Allamah Al Banaani, menjelaskan pendapat Az Zarqani di atas:
وهو الذي لابن مرزوق في اغتنام الفرصة قائلًا : إنه مشهور المذهب ، ونقل
الحطاب أيضًا الوجوب عن القاضي عبد الوهاب ، أو لا يجب عليها ذلك ، وإنما على الرجل
غض بصره ، وهو مقتضى نقل مَوَّاق عن عياض . وفصَّل الشيخ زروق في شرح الوغليسية بين
الجميلة فيجب عليها ، وغيرها فيُستحب
Pendapat tersebut juga dikatakan oleh Ibnu Marzuuq dalam kitab
Ightimamul Furshah, ia berkata: ‘Inilah pendapat yang masyhur dalam madzhab
Maliki’. Al Hathab juga menukil perkataan Al Qadhi Abdul Wahhab bahwa hukumnya
wajib. Sebagian ulama Maliki menyebutkan pendapat bahwa hukumnya tidak wajib namun
laki-laki wajib menundukkan pandangannya. Pendapat ini dinukil Mawwaq dari
Iyadh. Syaikh Zarruq dalam kitab Syarhul Waghlisiyyah merinci, jika cantik maka
wajib, jika tidak cantik maka sunnah. (Hasyiyah ‘Ala Syarh Az Zarqaani, 176)
Madzhab Syafi’i.
Pendapat madzhab Syafi’i, aurat wanita di depan lelaki ajnabi
(bukan mahram) adalah seluruh tubuh. Sehingga mereka mewajibkan wanita memakai
cadar di hadapan lelaki ajnabi. Inilah pendapat mu’tamad madzhab Syafi’i.
* Asy Syarwani berkata:
إن لها ثلاث عورات : عورة في الصلاة ، وهو ما تقدم ـ أي كل بدنها ما سوى
الوجه والكفين . وعورة بالنسبة لنظر الأجانب إليها : جميع بدنها حتى الوجه والكفين
على المعتمد وعورة في الخلوة وعند المحارم : كعورة الرجل »اهـ ـ أي ما بين السرة والركبة
ـ
Wanita memiliki tiga jenis aurat, (1) aurat dalam shalat
-sebagaimana telah dijelaskan- yaitu seluruh badan kecuali wajah dan telapak
tangan, (2) aurat terhadap pandangan lelaki ajnabi, yaitu seluruh tubuh
termasuk wajah dan telapak tangan, menurut pendapat yang mu’tamad, (3) aurat
ketika berdua bersama yang mahram, sama seperti laki-laki, yaitu antara pusar
dan paha. (Hasyiah Asy Syarwani ‘Ala Tuhfatul Muhtaaj, 2/112)
* Syaikh Sulaiman Al Jamal berkata:
غير وجه وكفين : وهذه عورتها في الصلاة . وأما عورتها عند النساء المسلمات
مطلقًا وعند الرجال المحارم ، فما بين السرة والركبة . وأما عند الرجال الأجانب فجميع
البدن
Maksud perkataan An Nawawi ‘aurat wanita adalah selain wajah dan
telapak tangan’, ini adalah aurat di dalam shalat. Adapun aurat wanita muslimah
secara mutlak di hadapan lelaki yang masih mahram adalah antara pusar hingga
paha. Sedangkan di hadapan lelaki yang bukan mahram adalah seluruh badan. (Hasyiatul
Jamal Ala’ Syarh Al Minhaj, 411)
* Syaikh Muhammad bin Qaasim Al Ghazzi, penulis Fathul Qaarib,
berkata:
وجميع بدن المرأة الحرة عورة إلا وجهها وكفيها ، وهذه عورتها في الصلاة
، أما خارج الصلاة فعورتها جميع بدنها
Seluruh badan wanita selain wajah dan telapak tangan adalah aurat.
Ini aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat, aurat wanita adalah seluruh
badan” (Fathul Qaarib, 19)
* Ibnu Qaasim Al Abadi berkata:
فيجب ما ستر من الأنثى ولو رقيقة ما عدا الوجه والكفين . ووجوب سترهما
في الحياة ليس لكونهما عورة ، بل لخوف الفتنة غالبًا
Wajib bagi wanita menutup seluruh tubuh selain wajah telapak
tangan, walaupun penutupnya tipis. Dan wajib pula menutup wajah dan telapak
tangan, bukan karena keduanya adalah aurat, namun karena secara umum keduanya
cenderung menimbulkan fitnah. (Hasyiah Ibnu Qaasim ‘Ala Tuhfatul Muhtaaj,
3/115)
* Taqiyuddin Al Hushni, penulis Kifaayatul Akhyaar, berkata:
ويُكره أن يصلي في ثوب فيه صورة وتمثيل ، والمرأة متنقّبة إلا أن تكون
في مسجد وهناك أجانب لا يحترزون عن النظر ، فإن خيف من النظر إليها ما يجر إلى الفساد
حرم عليها رفع النقاب
Makruh hukumnya shalat dengan memakai pakaian yang bergambar atau
lukisan. Makruh pula wanita memakai niqab (cadar) ketika shalat. Kecuali jika
di masjid kondisinya sulit terjaga dari pandnagan lelaki ajnabi. Jika wanita
khawatir dipandang oleh lelaki ajnabi sehingga menimbulkan kerusakan, haram hukumnya
melepaskan niqab (cadar). (Kifaayatul Akhyaar, 181)
Madzhab Hambali.
* Imam Ahmad bin Hambal berkata:
كل شيء منها ــ أي من المرأة الحرة ــ عورة حتى الظفر
Setiap bagian tubuh wanita adalah aurat, termasuk pula kukunya. (Dinukil
dalam Zaadul Masiir, 6/31)
* Syaikh Abdullah bin Abdil Aziz Al ‘Anqaari, penulis Raudhul
Murbi’, berkata:
« وكل الحرة البالغة عورة حتى ذوائبها ، صرح
به في الرعاية . اهـ إلا وجهها فليس عورة في الصلاة . وأما خارجها فكلها عورة حتى وجهها
بالنسبة إلى الرجل والخنثى وبالنسبة إلى مثلها عورتها ما بين السرة إلى الركبة
Setiap bagian tubuh wanita yang baligh adalah aurat, termasuk pula
sudut kepalanya. Pendapat ini telah dijelaskan dalam kitab Ar Ri’ayah… kecuali
wajah, karena wajah bukanlah aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat,
semua bagian tubuh adalah aurat, termasuk pula wajahnya jika di hadapan lelaki
atau di hadapan banci. Jika di hadapan sesama wanita, auratnya antara pusar
hingga paha. (Raudhul Murbi’, 140)
* Ibnu Muflih berkata:
« قال أحمد : ولا تبدي زينتها إلا لمن في الآية
ونقل أبو طالب :ظفرها عورة ، فإذا خرجت فلا تبين شيئًا ، ولا خُفَّها ، فإنه يصف القدم
، وأحبُّ إليَّ أن تجعل لكـمّها زرًا عند يدها
Imam Ahmad berkata: ‘Maksud ayat tersebut adalah, janganlah mereka
(wanita) menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada orang yang disebutkan di
dalam ayat‘. Abu Thalib menukil penjelasan dari beliau (Imam Ahmad): ‘Kuku
wanita termasuk aurat. Jika mereka keluar, tidak boleh menampakkan apapun
bahkan khuf (semacam kaus kaki), karena khuf itu masih menampakkan lekuk kaki.
Dan aku lebih suka jika mereka membuat semacam kancing tekan di bagian tangan.
(Al Furu’, 601-602)
* Syaikh Manshur bin Yunus bin Idris Al Bahuti, ketika menjelaskan
matan Al Iqna’ , ia berkata:
« وهما » أي : الكفان . « والوجه » من الحرة
البالغة « عورة خارجها » أي الصلاة « باعتبار النظر كبقية بدنها
»
Keduanya, yaitu dua telapak tangan dan wajah adalah aurat di luar
shalat karena adanya pandangan, sama seperti anggota badan lainnya. (Kasyful
Qanaa’, 309)
Itulah beberapa dalil dari Al Qur’an, As Sunnah maupun perkataan
para Imam Mazhab yang berkenaan aurat yang wajib ditutupi bagi seorang wanita,
sebagian besar ulama yang mu’tamad mengatakan bahwa seluruh anggota tubuh
wanita adalah aurat kecuali muka dan telapak tangan, jadi memakai jilbab
hukumnya wajib untuk menutupi aurat (termasuk rambut), bukan budaya Arab,
tetapi perintah Allah dan Rasulullah SAW. Wallahu a’lam bishowab.
(Referensi dari berbagai sumber)
Website
: http://shulfialaydrus.blogspot.co.id/ atau
https://shulfialaydrus.wordpress.com/
Instagram
: @shulfialaydrus
Instagram
Majelis Nuurus Sa’aadah : @majlisnuurussaadah
Twitter
: @shulfialaydrus dan @shulfi   
Telegram
: @habibshulfialaydrus
Telegram
Majelis Nuurus Sa’aadah : @majlisnuurussaadah
Facebook
: https://www.facebook.com/habibshulfialaydrus/
Group
Facebook : Majelis Nuurus Sa’aadah atau
https://www.facebook.com/groups/160814570679672/
Donasi
atau infak atau sedekah.
Bank
BRI Cab. JKT Joglo.
Atas
Nama : Muhamad Shulfi.
No.Rek
: 0396-01-011361-50-5.
Penulis
: Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus, S.Kom.
محمد
سلفى بن أبو نوار العيدروس

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *