Shalat Sunnah Tahiyyatul Masjid.
Islam menganjurkan umatnya untuk senantiasa
menjaga adab dan etika pada saat masuk masjid. Sebab itu, ketika masuk masjid
dianjurkan membaca doa, dalam kondisi suci, memakai pakaian bersih dan suci,
serta memperbanyak amal saleh dan ibadah di dalamnya. Salah satu ibadah yang
disunahkan ketika berada di dalam masjid adalah shalat sunah tahiyyatul masjid.
Kesunahan shalat ini didasarkan pada hadits riwayat
Abu Qatadah bahwa Rasulullah SAW berkata:
إذا دخل أحدكم المسجد فليكع ركعتين قبل أن يجلس
Artinya, “Jika salah seorang dari kalian
masuk masjid, hendaklah shalat dua rakaat sebelum duduk,” (HR Al-Bukhari dan
Muslim).
Melalui hadits di atas, Rasulullah
menganjurkan umatnya agar shalat dua raka’at ketika masuk masjid dengan syarat
belum duduk terlalu lama.
Sebab itu, Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam
Fathul Mu’in mengatakan:
ويسن ركعتا تحية لداخل مسجد وإن تكرر دخوله أو
لم يرد الجلوس
Artinya, “Disunahkan shalat tahiyatul masjid
bagi orang yang masuk masjid, meskipun masuknya berulang-ulang selama belum
duduk,” (Lihat Zainuddin Al-Malibari, Fathul Muin, Jakarta, Darul Kutub
Al-Islamiyyah, 2009, halaman 67).
Shalat tahiyatul masjid disunahkan dua rakaat
sebelum duduk. Kesunahan shalat sunah tahiyatul masjid menjadi hilang ketika
masuk masjid langsung duduk, baik lama ataupun sebentar. Kalau lupa atau tidak
tahu dibolehkan langsung berdiri mengerjakan shalat sunah tahiyatul masjid,
dengan syarat duduknya tidak terlalu lama.
Syekh Zainuddin Al-Malibari menambahkan:
 وتفوت التحية بالجلوس الطويل وكذا القصير إن لم يسه أو يجهل
Artinya, “Kesunahan tahiyatul masjid hilang
karena duduk lama ataupun sebentar dengan syarat duduknya bukan karena lupa
atau tidak tahu,” (Lihat Zainuddin Al-Malibari, Fathul Muin, Jakarta, Darul
Kutub Al-Islamiyyah, 2009, halaman 67).
Shalat tahiyatul masjid makruh ditinggalkan
kecuali dalam kondisi terdesak. Misalnya, pada saat masuk masjid muadzin sudah
iqamah dan shalat berjamaah sebentar lagi akan dilaksanakan. Dalam kondisi
diharuskan untuk langsung shalat berjamaah untuk mendapatkan keutamaan
takbiratul ihram bersama imam.
Bagi orang yang tidak bisa mengerjakan shalat
tahiyatu masjid dianjurkan berzikir sebanyak empat kali.
Lafal zikir yang dianjurkan, sebagaimana
disebutkan Syekh Zainuddin Al-Malibari ialah:
 سبحان الله والحمد لله ولا اله إلا الله والله أكبر ولا حول
ولا قوة إلا بالله العلي العظيم
SUBHAANALLAAHI, WALHAMDULILLAAHI, WA LAA
ILAAHA ILLALLAAHU WALLAHU AKBARU, WA LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAAHIL
‘ALIYYIL AZhIIMI. Lafal ini dibaca empat kali.
Artinya, “Maha Suci Allah, segala bagi Allah,
tidak ada tuhan selain Allah, tidak ada daya dan upaya melainkan karena Allah
Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Lihat Zainuddin Al-Malibari, Fathul Muin,
Jakarta, Darul Kutub Al-Islamiyyah, 2009, halaman 67).
Niat Sholat Tahiyatul Masjid.
Adapun niat sholat tahiyatul masjid,
sebenarnya sah saja jika dicukupkan dengan Ushollii, ‘aku berniat shalat’,
sebagaimana shalat sunnah mutlak. Namun boleh juga dengan menyebutkan niat
secara lengkap, seperti:
اُصَلِّى سُنَّةً تَحِيَّةَ الْمَسْجِدِ
رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
UShOLLI SUNNATAN TAHIYYATAL MASJIDI
ROK’ATAINI LILLAAHI TA’AALAA.
Artinya: “Saya niat shalat tahiyatul
masjid dua rakaat karena Allah ta’ala”
Boleh juga niat seperti ini
أصَلِّي تَحِيَّةَ
الْمَسْجِدِ رَكْعَتَيْنِ سُنَّةَ لِلّهَ تَعَاَلَى
UShOLLI TAHIYYATAL MASJID
RAK’ATAINI SUNNATAN LILLAAHI TA’AALAA.
Artinya: “Saya niat shalat tahiyatul
masjid dua rakaat karena Allah ta’ala”

Bagaimana sholat tahiyatul masjid ketika mau sholat Jumat?
جَاءَ سُلَيْكٌ الْغَطَفَانِيُّ يَوْمَ
الْجُمُعَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ,
فَجَلَسَ. فَقَالَ لَهُ: يَا سُلَيْكُ قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَتَجَوَّزْ
فِيهِمَا! ثُمَّ قَالَ: إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ
يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا
Artinya: Sulaik Al-Ghathafani datang pada
hari Jumat, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang
berkhutbah, dia pun duduk. Maka Beliau langsung bertanya padanya, “Wahai
Sulaik, bangun dan shalatlah dua rakaat, kerjakanlah dengan ringan.”
Kemudian Beliau bersabda, “Jika salah seorang dari kalian datang pada hari
Jumat, sedangkan imam sedang berkhutbah, maka hendaklah dia shalat dua rakaat,
dan hendaknya dia mengerjakannya dengan ringan.” (HR. Al-Bukhari No.49 dan
Muslim No.875).
Lalu apa saja hikmah sholat tahiyatul masjid?
1. Menutupi Kekurangan Sholat Wajib.
Sholat tahiyatul masjid dapat menutupi
kekurangan sholat wajib. Hal ini tercermin dari sebuah hadits Rasulullah SAW
yang berarti, “Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada manusia
di hari kiamat nanti adalah sholat. Allah berkata kepada Malaikat-Nya dan
Dia-lah yang lebih tahu, “Lihatlah pada sholat hamba-Ku. Apakah sholatnya
sempurna ataukah tidak? Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya
pahala yang sempurna. Namun jika dalam shalatnya ada sedikit kekurangan, maka
Allah berfirman: Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah. Jika
hamba-Ku memiliki amalan sunnah, Allah berfirman: sempurnakanlah kekurangan
yang ada pada amalan wajib dengan amalan sunnahnya.” Kemudian amalan
lainnya akan diperlakukan seperti ini.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad)
2. Menghapus Dosa dan Ditinggikan Derajat.
Hikmah shalat tahiyatul masjid lainnya yakni
menghapus dosa dan meninggikan derajat. Karena dengan memperbanyak sujud bisa
dilakukan dengan cara menjalankan beberapa sholat sunnah seperti shalat
tahiyatul masjid.
“Aku berkata pada Tsauban (Sahabat
Rasulullah), ‘Beritahukan padaku suatu amalan yang dicintai Allah’.”
Ketika ditanya, Tsauban malah diam. Kemudian ditanya kedua kalinya, ia pun
masih diam. Sampai ketiga kalinya, Tsauban berkata, ‘Aku pernah menanyakan hal
yang ditanyakan tadi pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Beliau bersabda: “Hendaklah engkau
memperbanyak sujud (perbanyak sholat) kepada Allah. Karena tidaklah engkau
memperbanyak sujud karena Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatmu dan
menghapuskan dosamu’.” Lalu Ma’dan berkata, “Aku pun pernah bertemu
Abu Darda’ dan bertanya hal yang sama. Lalu sahabat Abu Darda’ menjawab
sebagaimana yang dijawab oleh Tsauban padaku.” (HR. Muslim).
3. Sebagai Bentuk Rasa
Syukur.




Shalat tahiyatul masjid juga
merupakan salah satu bentuk rasa syukur dari seorang hamba kepada Allah SWT
atas segala nikmat yang diperoleh. Nikmat berupa nikmat rezeki, nikmat
kesehatan, nikmat mendengar, nikmat bernafas, nikmat berjalan, dan nikmat
lainnya.

Semasa hidup Rasulullah SAW pada setiap malamnya
selalu mengerjakan sholat sunnah hingga kaki beliau bengkak. Dalam sebuah
hadits diriwayatkan, ketika istri Beliau Aisyah melihatnya, Aisyah bertanya:
bukankah Allah SWT telah mengampuni semua dosamu yang telah terjadi dan juga
yang akan datang? Kemudian Nabi menjawab dan berkata: Tidak bolehkah aku
menjadi hamba yang banyak bersyukur (kepada Allah)?” (HR. Bukhari dan
Muslim).

4. Sebaik-baik Amalan.

Shalat
tahiyatul masjid 
merupakan amalan yang paling utama. Tsauban berkata jika
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Beristiqamahlah kalian
dan sekali-kali kalian tidak dapat istiqomah dengan sempurna. Ketahuilah,
sesungguhnya amalan kalian yang paling utama adalah sholat. Tidak ada yang
menjaga wudhu melainkan ia adalah seorang mukmin.” (HR. Ibnu Majah dan
Ahmad)

(Referensi
dari berbagai sumber)
Website
: http://shulfialaydrus.blogspot.co.id/ atau
https://shulfialaydrus.wordpress.com/
Instagram
: @shulfialaydrus
Instagram
Majelis Nuurus Sa’aadah : @majlisnuurussaadah
Twitter
: @shulfialaydrus dan @shulfi   
Telegram
: @habibshulfialaydrus
Telegram
Majelis Nuurus Sa’aadah : @majlisnuurussaadah
Facebook
: https://www.facebook.com/habibshulfialaydrus/
Group
Facebook : Majelis Nuurus Sa’aadah atau
https://www.facebook.com/groups/160814570679672/
Donasi
atau infak atau sedekah.
Bank
BRI Cab. JKT Joglo.
Atas
Nama : Muhamad Shulfi.
No.Rek
: 0396-01-011361-50-5.
Penulis
: Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus, S.Kom.
محمد
سلفى بن أبو نوار العيدروس

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *