Definisi
Ustadz.
Ustadz
(bahasa Arab jamak , asatidz) adalah istilah yang sangat sering dipakai di
Indonesia untuk panggilan kalangan orang yang dianggap pintar dan ahli di
bidang ilmu agama. Ustadz sejajar dengan istilah buya, kyai, da’i, mubaligh. Di
sebagian pesantren, pengasuh/pimpinan pesantren disebut Ustadz. Di sebagian
pesantren yang lain, ustadz statusnya di bawah kyai.

PENGERTIAN DAN DEFINISI USTADZ.

Sebenarnya, kata ustadz bukan asli bahasa Arab.
Ia adalah kata ajami (non-Arab) persisnya bahasa Persia (Iran) yang kemudian
dijadikan bahasa Arab (muarrob). (Lihat kitab (اللامع
العزيزي شرح ديوان المتنبي لأبي العلاء المعرّي
) hal. 1/27) 

Asal kata dari ustadz (أُستاذ) adalah ustad.

Dalam kamus Arab-Arab Al-Mu’jamul Wasith (المعجم
الوسيط
) kata ustadz memiliki
beberapa makna sebagai berikut:


الأُستاذ – أُستاذ:
الأُستاذ : المعلِّم .
و الأُستاذ الماهر في الصناعة يُعلِّمها غيرَه .
و الأُستاذ لقب علمي عالٍ في الجامعة . والجمع : أَساتذة ، وأَساتيذ 

1. pengajar
2. orang yang ahli dalam suatu bidang industri
dan mengajarkan pada yang lain.

3. Julukan akademis level tinggi di universitas. 

Jamaknya adalah asatidzah dan asatiidz.

USTADZ ADALAH PAKAR SPESIALIS TINGKAT TINGGI.



Pengertian
lain dari kata ustadz adalah orang yang sangat ahli dalam suatu bidang.

Menurut pengertian ini, maka seseorang tidak
pantas disebut Ustadz kecuali apabila dia memiliki keahlian dari 18 atau 12
ilmu atau bidang studi. Dalam sastra Arab seperti ilmu nahwu, shorof, bayan,
badi’, ma’ani, adab, mantiq, kalam, perilaku, ushul fiqih, tafsir. hadits.
(Lihat kitab [المعرّب للجواليقي] hal. 25)

Konon, orang pertama yang mendapat gelar ustadz
adalah Kafur Al Ikhsyidi Al Isfirayini.

Di negara Arab, istilah ustadz merujuk pada
dosen atau ahli/akademisi yang memiliki kepakaran di bidang tertentu. Seperti
pakar tafsir dikatakan الأستاذ في التفسير


PENGERTIAN DAN PEMAKAIAN NAMA USTADZ DI
INDONESIA.

Sedang di Indonesia, seperti disebut di muka,
kata ustadz merujuk pada banyak istilah yang terkait dengan orang yang memiliki
kemampuan ilmu agama dan bersikap serta berpakaian layaknya orang alim. Baik
kemampuan riil yang dimilikinya sedikit atau banyak. 

Orang yang disebut ustadz antara lain: da’i,
mubaligh, penceramah, guru ngaji Quran, guru madrasah diniyah, guru ngaji kitab
di pesantren, pengasuh/pimpinan pesantren (biasanya pesantren modern). 


PENGERTIAN USTAD DI INDIA, PAKISTAN DAN
BANGLADESH.

Kata ustad (tanpa huruf ‘z’ juga cukup populer
dipakai di India, Pakistan dan Bangladesh (dulu ketiga negara ini bernama
Hindustan). Namun dengan konotasi makna yang berbeda.

Di ketiga negara tersebut, ustad lebih dikenal
sebagai master or maestro yaitu orang yang memiliki keahlian khusus tertentu
terutama di bidang seni. Baik seni sastra atau musik. Dan umumnya beragama
Islam sedang yang Hindu biasanya disebut Pandit (pundit). Tidak semua pemusik
dapat kehormatan mendapat julukan ustad. Beberapa seniman yang mendapat julukan
ustad di India dan Pakistan antara lain:

Ustad Salamat Ali Khan, Ustad Nusrat Fateh Ali
Khan, Ustad Talib Hussain Pakhawaji, Ustad Muhammad Hussain Alvi, Ustad Tafo
Khan, dll.


ASAL MULA KATA USTADZ.

Dr. Ali Jasim Salman dalam kitab Mausuah
al-Akhta’ al-Lughawiyah as-Syai’ah (موسوعة الأخطاء
اللغوية الشائعة
) menguraikan
sebagai berikut: kata ustadz (Arab, أستاذ) berasal dari bahasa Persia klasik yang
dalam bahasa Persia (Iran) ditulis istad (Persia, إستاد). Dari segi arti ia mendekati kata khwaja
(خواجة)
sebuah kata bahasa Parsi yang bermakna pengajar, tuan, atau orang tua. 

Menurut suatu pendapat, asal penyebutan
“ustadz” berasal dari kisah sejarah di mana kalangan elit suatu
komunitas tertentu mendidik anak-anak mereka secara private dengan mendatangkan
para pengajar ke istana mereka. Ketika mereka kuatir akan istri-istri mereka
takut berselingkuh dengan para guru private ini, maka mereka mengebiri guru
privat tersebut supaya hati mereka tenang saat para guru itu memasuki rumah
mereka. Orang yang dikebiri dalam bahasa kaum tersebut adalah ‘ustadz’. Seiring
berjalannya waktu, maka setiap guru diberi julukan sebagai orang yang dikebiri.
Saat praktik itu tidak terjadi lagi saat ini, maka julukan ‘ustadz’ lah yang
dipakai saat ini. 

Namun Al-Khaffaji dalam Shifa al-Ghalil fima fi
Kalam al-Arab min ad-Adakhil tidak sependapat dengan asumsi di atas. Ia
menyatakan: Kata ustadz dengan makna “orang yang dikebiri” tidak ada
dalam kosa kata para ahli bahasa maupun kalangan awam di era Jahili (pra
Islam). Karena ustadz mengajar anak kecil dengan gaji tinggi. 

Kata ustadz tidak terdapat dalam syair Jahili
atau era pra Islam dan bukanlah bahasa Arab. Ia berasal dari bahasa Persia.
Semua huruf dalam ustadz adalah bentuk asal. Seandainya ia berasal dari bahasa
Arab, niscaya huruf asalnya adalah astadza ( أستـَذ) ikut wazan fu’lal ( فُعلال ) bukan dari
satadza ( سَتـَذ َ). Apabila tidak, niscaya ia ikut wazan af’al (أفعالا). Ini tidak ada
dalam bahasa Arab. Penduduk Irak memakainya karena hubungan mereka dengan
bangsa Parsi (Iran). Lalu mereka pindah ke Teluk dan Suriah lalu ke belahan
negara Arab yang lain. 

Istilah ustadz lalu dimaknai secara umum sebagai
profesi tenaga ahli seperti ahli hukum, pengacara di pengadilan di mana profesi
ini setingkat dengan level pengajar di perguruan tinggi. 

Kata ustadz tidak ada bentuk muannats (bentuk
perempuan) karena ia bukan sifat. Jadi, yang benar adalah kata ustadz dipakai
untuk laki-laki dan perempuan 

Muhammad Al-Murtadha Az-Zubaidi dalam kitab
Tajul Arus min Jawahiril Qamus menyatakan: Guru kami menjelaskan tentang kata
ustadz. Kata ini berasal dari kata yang populer yang harus dijelaskan walaupun
ia bukan berasal dari bahasa Arab. Huruf hamzah yang menjadi asal telah membuat
penulis buku As-Syihab Al-Fayyumi memasukkannya dalam daftar huruf hamza. Ia
mengatakan, ustadz adalah kata non-Arab (ajami); maknanya adalah orang yang
ahli di bidang tertentu.

Menurut Al-Hafidz Abul Khattab bin Dihya dalam
kitab Al-Muttarib fi Ash’ari Ahlil Maghrib demikian: Ustadz bukan kata bahasa
Arab dan tidak terdapat di syair Jahiliyah. Masyarakat awam memakai kata ini
apabila mereka mengagungkan orang yang disuka mereka menyebutnya dengan ustadz
seperti orang yang ahli dengan pekerjaannya. Karena ketika dia mendidik
anak-anak maka seakan-akan dia seorang ustadz karena kebaikan perilakunya.
Segolongan ahli di Baghdad mengisahkan hal ini pada saya salah satunya adalah
Abul Faraj bin Al-Jauzi. Dia berkata: Saya mendengar dari guru bahasaku Abu
Manshur Al-Jawaliq dalam kitabnya Al-Mu’arrob. 




Website :
http://shulfialaydrus.blogspot.co.id/ atau
https://shulfialaydrus.wordpress.com/
Instagram :
@shulfialaydrus
Instagram Majelis
Nuurus Sa’aadah : @majlisnuurussaadah
Twitter :
@shulfialaydrus dan @shulfi   
Telegram :
@habibshulfialaydrus
Telegram Majelis Nuurus
Sa’aadah : @majlisnuurussaadah
Facebook :
https://www.facebook.com/habibshulfialaydrus/
Group Facebook :
Majelis Nuurus Sa’aadah atau https://www.facebook.com/groups/160814570679672/
Donasi atau infak atau
sedekah.
Bank BRI Cab. JKT
Joglo.
Atas Nama : Muhamad
Shulfi.
No.Rek :
0396-01-011361-50-5.
Penulis Ulang : Muhammad Shulfi bin Abunawar
Al ‘Aydrus, S.Kom.

محمد سلفى بن أبو نوار العيدروس

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *