Wasiat dan Nasihat Habib Ahmad bin Hasan
Al-Atthas.
Habib Ahmad bin Hasan Al-Atthas berkata
kepada salah seorang muridnya :
“Insya Allah ucapanku yang kau tulis dan
kumpulkan akan memberikan manfaat yang besar. Dan usahamu ini lebih bermanfaat
dan langgeng daripada mencatat karomah-karomah yang terjadi. Karomah yang
berlangsung hanya saat itu saja dan akan dilupakan dengan berjalannya waktu.
Namun, manfaat ucapanku ini Insya Allah Ta’ala akan abadi. Orang yang
menghargai ucapanku belum datang, mereka adalah orang-orang masa depan”.
Habib Ali bin Hasan Al-Atthas (Penulis buku
Al-Qirthos fi Manaqibil ‘Atthas):
“Di antara hal yang mendorongku untuk menulis
buku ini (Al-Qirthos fi Manaqibil ‘Atthas) adalah apa yang disebutkan pengarang
kitab A’malut Tarikh : Barangsiapa menulis seorang wali Allah swt. maka kelak
di hari kiamat ia akan bersamanya. Dan barangsiapa membaca nama seorang wali
Allah swt. dalam kitab Tarikh dengan rasa cinta, maka ia seakan-akan
menziarahinya. Dan barangsiapa menziarahi wali Allah swt., maka semua dosanya
akan diampuni Allah swt., selama ia tidak mengganggu seorang muslim pun dalam
perjalanannya”.
Habib Ahmad bin Hasan Al Atthas berkata :
“Sesungguhnya terlalu memfasih-fasihkan
bacaan adalah bid’ah. Andaikata salaf membaca Al-Qur’an seperti mereka yang
suka memfasih-fasihkan bacaannya, tentu mereka tidak dapat menghatamkan
Al-Qur’an dalam semalam”.
“Imam Ghazali juga pernah berkata bahwa
hudhur dan khusyu’ dalam membaca Al-Qur’an tidak mungkin dapat dirasakan oleh
orang yang membaca Al-Qur’an dengan terlalu memfasihkan huruf dan memberi
tekanan berlebihan pada tasyjid-tasyjidnya. Andaikata kalian curahkan seluruh
konsentrasi kalian untuk merenungkan makna rahmat, pujian, rububiyyah,
kekuasaan Allah swt. (Al-Malik) penghambaan, permohonan, permohonan hidayah,
shirotol mustaqim yang ada dalam Fatihah, maka itu lebih baik”.
“Jika kau membaca ayat sajdah dan pada saat
itu kau berada di tempat yang tidak layak untuk sujud, maka bayangkanlah
seakan-akan dirimu berada di tempat yang mulia, seperti Masjidil Haram atau
Masjid-masjid lainnya. Setelah itu sujudlah dengan hatimu. Syeikh Abdul Qadir
Al-Jailani dalam bukunya yang berjudul Al-Ghunyah mengatakan :”Jika kau berdiri
mengerjakan sholat, maka bayangkanlah seakan-akan kau sedang menghadap Ka’bah
dan saksikanlah Ka’bah itu dengan hatimu. Niscaya kau akan meningkat ke maqom
yang lain”.
“Setiap zaman ada 124.000 wali dan setiap
wali mewarisi hal dari Nabi saw., di antara mereka ada yang tahu dirinya wali,
tapi ada juga yang tidak tahu”.
“Amal dan niat sholeh akan menyebabkan
timbulnya kewibawaan pada diri seseorang. Ia akan tampak beda dengan orang
lain, ucapannya didengar dan bermanfaat, Sebaliknya, amal dan niat buruk akan
menyebabkan pelakunya diselimuti kegelapan”.
“Manusia punya dua sayap yang dapat ia
gunakan untuk terbabg ke tempat yang mulia, yaitu Niat dan Himmah (semangat,
tekad). Sedangkan penghuni zaman ini berpijak pada salah satu diantara
keduanya. Ada yang memiliki niat, tapi tidak memiliki himmah. Ada yang
himmahnya besar, tapi belum memiliki niat. Jika seseorang punya niat, kemudian
memperoleh himmah, maka Allah swt akan memperhatikannya dan akan
menyampaikannya pada tujuan. Niat itu sebelum himmah dan himmah sebelum amal”.
Imam Junaid rhm. berkata : ”Barangsiapa
membuka bagi dirinya satu pintu niat baik, maka Allah swt membukakan baginya 70
pintu taufiq. Dan barang siapa membukakan untuk dirinya satu pintu niat buruk,
maka Allah swt membukakan untuknya 70 pintu khidzlan (dorongan untuk
bermaksiat)”.
“Thoriqoh salaf Alawiyin adalah zhohirnya
Ghazaliah dan bathinnya Syazaliah. Jika seseorang berkonsentrasi pada amal,
maka ia akan mengerjakan amal tanpa ruh. Namun, jika ia meninggalkan amal dan
banyak berharap kepada Allah swt, ia akan miskin amal saleh”.
“Ikutilah salaf! Barangsiapa ingin beribadah
kepada Allah swt, hendaknya bertanya bagaimana cara salaf beribadah.
Barangsiapa ingin mengajar atau belajar, memberi manfaat atau mengambil
manfaat, maka hendaknya ia bertanya bagaimana cara salaf melakukan semua itu,
dan tidak mengikuti jalan pikirannya sendiri”.
“Di dunia ini aku tidak pernah iri kepada
seorang wali, raja atau lainnya, aku hanya iri kepada orang yang mengikuti
salaf dan meneladani Nabi saw. Kebaikan terletak dalam mengikuti salaf shaleh,
mempelajari buku-buku mereka, dan meneladani ibadah, adab, akhlaq dan perilaku
mereka. Orang yang mengikuti salaf tidak akan salah dan lelah”.
“Kerjakanlah shalat karena Allah swt
memerintahkannya. Jadikanlah makna segala sesuatu sebagai tujuanmu. Jangan
jadikan cara pengucapan huruf (makhraj) dan sejenisnya sebagai pusat
perhatianmu dalam sholat. Tapi amati dan renungkan (tadabbur) makna ayat yang
kau baca. Apa yang menghalangimu untuk merenungkan makna basmalah, arti rahmat
ayat pertama dan makna syukur. Renungkan tentang Pemberi nikmat dan Pemelihara
alam, makna rahmat di ayat ke tiga, makna raja dan penguasa, makna ibadah,
pertolongan, hidayah, shirotol mustaqim dan orang-orang yang berjalan
diatasnya, yaitu orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah swt. Renungkan
tentang orang-orang yang berpaling, yakni orang-orang yang dimurkai Allah
swt.”.
“Musibah pertama yang menimpa masyarakat
adalah peremehan mereka terhadap usaha menghafal Al Qur’an. Musibah kedua
adalah berpalingnya mereka dari buku-buku salaf”.
“Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang tidak
akan meninggalkanmu di dunia maupun di akhirat. Ilmu adalah Alat. Meskipun ilmu
itu baik, tapi hanyalah alat, bukan tujuan. Ilmu digunakan hanya untuk mencapai
tujuan. Ilmu harus diiringi adab, akhlaq dan niat-niat shaleh. Ilmu demikian
inilah yang dapat mengantarkan seseorang kepada maqam-maqam yang tinggi”.
“Pelajarilah ilmu, tanamkan dalam hati niat
untuk mengamalkannya, maka Allah swt. akan mengembalikan semua yang hilang dari
kalian”.
“Jika kau membaca sesuatu dan tidak dapat
memahaminya, atau hatimu tidak hadir sewaktu membacanya, maka ulangila lagi di
waktu yang lain. Sebab setiap waktu memilki rahasia yang berbeda”.
“Barang siapa mendahulukan ikhlas sebelum
amal, maka ia tidak akan bisa beramal. Tapi hendaknya ia beramal, kemudian
menuntut dirinya untuk ikhlas. Seseorang tidak seharusnya menuntut
kesempurnaan, baik dari dirinya sendiri maupun orang lain. Sebab jika ia
menuntut kesempurnaan dari dirinya, ia tidak akan beramal. jika ia menuntut
kesempurnaan dari orang lain, ia tidak akan memandang mulia seorang pun, ia
bahkan akan memandang rendah semua orang”.
“Setiap kebajikan terasa berat bagi “NAFS”.
Tapi jika dipaksakan, ia akan terbiasa dan dapat mengerjakannya dengan mudah.
Sebagian orang jika melihat “NAFS”nya benci pada perbuatan baik, ia mengikuti
“NAFS”nya dan cenderung kepadanya. Ia selalu berbuat demikian, hingga tidak
mampu lagi berbuat baik. Akhirnya, hatinya menjadi keras. Sebenarnya jika hati
mau menghadap Allah swt., Allah swt akan menghadap kepadanya. Jika berpaling,
Allah swt. pun akan berpaling darinya. Sifat “NAFS” adalah suka menentang dan
mudah bosan. Jika kau membiasakannya dengan kebaikan, ia akan menjadi baik,
tapi jika kau membiasakannya dengan keburukan, ia akan menjadi buruk”
“Manusia hendaknya menyibukkan “NAFS”nya
dengan amal-amal yang bermanfaat baginya. “NAFS” akan terbiasa dengan apa yang
dibiasakan kepadanya. Orang yang terbiasa banyak bicara, menghadiri majelis yang
penuh kelalaian dan permainan, maka hatinya merasa berat untuk membaca
Al-Qur’an”.
“Hati yang bersih siap menerima
karunia-karunia Allah swt., Sedang hati yang kotor tidak dapat menampung
karunia Allah swt.”.
“Hati manusia seperti Baitul Ma’mur. Setiap
hari ada 70.000 malaikat yang thawaf mengelilinginya hingga hari kiamat. Dalam
24 jam hati 70.000 bisikan dan setiap bisikan dipegang oleh seorang malaikat”.
“Orang yang berharta, hendaknya banyak
berderma dan bersedekah di jalan Allah swt., yang berilmu, hendaknya
mencurahkan semua tenaganya untuk mengajar, yang mempunyai kedudukan, hendaknya
berusaha mendamaikan orang-orang yang dizhalimi, yang berdagang dan menekuni
pekerjaan lainnya, hendaknya jujur kepada kaum muslimin dan melakukan
pekerjaannya dengan sempurna”.
“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah
menurut kemampuannya, dan orang yang disempitkan rezekinya hendaknya memberi
nafkah dari harta yang diberikan Allah swt. kepadanya. Allah swt. tidak
memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah swt/
berikan kepadanya. Allah swt. kelak akan memberikan kelapangan sesudah
kesempitan.(QS Ath-Thalaq, 65:7)”.
“Di dunia ini manusia harus memiliki empat
sifat :
1. Sabar terhadap yang dibenci dan disukai.
2. Melayani dengan baik dan memuaskan hati
orang yang baik maupun jahat.
3. Memiliki akal yang dapat membedakan segala
sesuatu.
4. Memilki niat shaleh dalam semua hal agar
tercapai keinginannya.”.
“Jika seseorang ingin memperoleh rasa takut
kepada Allah swt., maka hendaknya ia melihat orang yang memilki rasa takut.
Jika ingin khusyu’ maka hendaknya ia melihat orang yang khusyu’, manusia adalah
magnet untuk dirinya dan orang lain, manusia biasanya mencuri watak orang yang
dilihatnya”.
“Hanya prasangka baik kepada Allah swt. dan hamba-hambanyalah
yang dapat membuka pintu-pintu kebajikan”.
“Dua hal yang tidak ada sebuah kebaikan pun
yang dapat mengungguli keduanya, yaitu prasangka baik kepada Allah swt. dan
prasangka baik kepada makhluk Allah swt. Dan dua hal yang tidak ada sebuah
keburukan yang dapat mengunggulinya, yaitu prasangka buruk kepada Allah swt.
dan prasangka buruk kepada makhluk Allah swt.” (Al-Hadits)”.
“Setiap orang memiliki 360 urat. Ada urat
yang akan mendorongnya untuk berbuat kebaikan, dan ada yang akan menggerakkannya
untuk berbuat kejahatan. Jika melihat orang shaleh, urat-urat kebaikan akan
menggerakkannya untuk berbuat baik. Jika melihat orang durhaka, maka urat-urat
keburukannya akan menggerakkannya untuk berbuat jahat”.
“Orang yang mudah iri, menyangka bahwa semua
orang iri, orang yang suka bermaksiat menyangka bahwa semua orang suka
bermaksiat, dan orang yang shaleh menyangka semua orang gemar berbuat
kebaikan”.
“Jika kau memandang seorang yang shaleh dan
istiqomah, khusyu’ dan wara’, lalu kau bandingkan akhlaqmu dengan akhlaqnya,
amalmu dengan amalnya, keadaanmu dengan keadaannya, maka kau akan mengetahui
aib dan kekuranganmu, setelah itu akan mudah bagimu untuk memperbaiki ucapan
dan perbuatanmu yang salah, lahir maupun batin, itulah sebabnya kita dianjurkan
untuk bergaul dengan orang-orang yang shaleh dan mulia, serta dilarang bergaul
dengan selain mereka, sebab watak seseorang akan mencuri watak orang lain. Jika
tidak kau temukan teman duduk yang shaleh, pelajarilah buku, sifat, riwayat
hidup dan semua prilaku kaum sholihin”.
“Ada dua orang yang tidak boleh kau pegang
pendapatnya, yaitu orang yang selalu mengikuti kata hatinya dan orang yang
tidak melaksanakan pendapatnya sendiri”.
“Jangan berselisih dengan anakmu dan jangan
pula bersikap keras kepadanya. ajak dan perintahkan untuk berbuat kebaikan,
jika ia tidak patuh, jauhilah dia dengan santun dan penuh perhatian”.
“Habib abu Bakar bin Abdullah Al Atthas
dahulu melarang seseorang bergaul dengan Ahli bid’ah, orang-orang yang
aqidahnya menyimpang dan orang-orang yang merendahkan kaum sholihin, Para Wali
dan Ulama. jika melewati tempat yang ada orang-orang yang memiliki salah satu
sifat di atas, beliau menutupi kepalanya dan berjalan dengan cepat”.
“Sholatlah di belakang orang yang mengucapkan
Laa Ilaaha Illallah, dan sholatkanlah orang yang mengucapkan Laa ilaaha
illalloh. (Al Hadits) “.
“Orang-orang di zaman akhir ini lebih
mengutamakan harta mereka dibanding diri mereka sendiri, mereka kikir dan tidak
memperdulikan apa yang menimpa mereka, mereka abaikan Hak Allah swt., Allah
swt. pun lalu menundukkan mereka di bawah kekuasaan orang yang tidak mengasihi
mereka. adapun orang-orang terdahulu, mereka menjadikan harta mereka sebagai
perisai dan pelindung dari segala bencana”.
“Jika seseorang senantiasa taat, maka Allah
swt. akan memberinya rejeki, Allah swt. tidak akan membiarkannya begitu saja
tanpa harta, Allah swt. telah memberi kalian rejeki, tapi kalian
menghambur-hamburkan rejeki itu bukan pada tempatnya. Tunaikanlah kewajiban
zakat, janganlah kalian kurangi”.
“Segala kesedihan yang dapat hilang dengan
uang, bukanlah kesedihan”.
“Jika dalam hatimu terlintas bisikan buruk
atau ajakan untuk bermaksiat, angkatlah kepalamu ke langit lalu ucapkan
:”Allah….. dengan satu nafas. Perbuatan ini akan membakar dan menghapus dengan
seketika bisikan-bisikan buruk dalam hati. Hikmah dari menengadahkan kepala ke
langit adalah karena setan tidak dapat mendatangi manusia dari atas kepalanya.
Allah Ta’ala berfirman : “Kemudian Saya (iblis) akan mendatangi mereka dari
muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka.(QS Al-A’raf,
7:17). Allah swt. tidak mengatakan bahwa iblis akan mendatangi mereka dari
atas”.
“Habib Ahmad bin Hasan Al Atthas selalu
membaca surat Al-Waqiah di waktu Ashar. Beliau berkata :”Sayyidil Wujud (Nabi
Muhammad saw.) lah yang memerintahkanku untuk membacanya di waktu Ashar”.
(Dikutip dari buku “Sekilas tentang Habib
Ahmad bin Hasan Al-Atthas; Novel Muhammad Al-Aydrus)
Website : http://shulfialaydrus.blogspot.co.id/ atau https://shulfialaydrus.wordpress.com/
Instagram : @shulfialaydrus
Instagram Majelis Nuurus Sa’aadah : @majlisnuurussaadah
Twitter : @shulfialaydrus dan @shulfi
Telegram : @habibshulfialaydrus
Telegram Majelis Nuurus Sa’aadah : @majlisnuurussaadah
Facebook : 
https://www.facebook.com/habibshulfialaydrus/
Group Facebook : Majelis Nuurus Sa’aadah atau 
https://www.facebook.com/groups/160814570679672/
Donasi atau infak atau sedekah.
Bank BRI Cab. JKT Joglo.
Atas Nama : Muhamad Shulfi.
No.Rek : 0396-01-011361-50-5.
Penulis : Muhammad Shulfi bin Abunawar Al
‘Aydrus, S.Kom.
محمد سلفى بن أبو نوار العيدروس

3 thoughts on “Wasiat dan Nasihat Habib Ahmad bin Hasan Al-Atthas.”
  1. MasyaAllah ini ilmu hikmah yg sangat tinggi…semoga Allah senantiasa memberikan karunia kesehatan dan rezeki kpd Habib dan agar selalu bisa posting artikel2 bermanfaat…aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *