Baqarah Pada Waktu Malam
dari surat Al Baqarah pada waktu malam, maka ia akan diberi kecukupan,
dijauhkan dari gangguan setan, dijauhkan dari penyakit, seperti bangun sholat
malam walaupun dia tidak melakukan sholat malam (karena tertidur pulas).
Dua ayat tersebut adalah berikut ini.
:
الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آَمَنَ
بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ
مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ
الْمَصِيرُ (285) لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا
كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا
أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ
عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ
لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا
فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (286)
AAMANAR RASUULU BIMAA UNZILA
ILAIHI MIR ROBBIHII WAL MU`MINUUN(A), KULLUN AAMANA BILLAAHI WA MALAA`IKATIHII
WA KUTUBIHII WA RUSULIH(I), LAA NUFARRIQU BAINA AHADIM MIR RUSULIH(I), WA QOOLUU
SAMI’NAA WA AThO’NAA GUFROONAKA ROBBANAA WA ILAIKAL MAShIIR(U).
ILLAA WUS’AHAA, LAHAA MAA KASABAT WA ‘ALAIHAA MAKTASABAT, RABBANAA LAA
TU`AAKhIDzNAA IN NASIINAA AU AKhThA`NAA, RABBANAA WA LAA TAḥMIL ‘ALAINAA IShRAN
KAMAA HAMALTAHUU ‘ALALLADzIINA MIN QOBLINAA, ROBBANAA WA LAA TUHAMMILNAA MAA
LAA ThOOQATA LANAA BIH(I), WA’FU ‘ANNAA, WAGhFIR LANAA, WARHAMNAA, ANTA
MAULAANAA FANSURNAA ‘ALAL QAUMIL KAAFIRIIN(A).
Rasul telah beriman kepada
Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang
beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya
dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara
seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan:
“Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Rabb kami dan
kepada Engkaulah tempat kembali.
Allah tidak membebani
seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari
kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang
dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika
kami lupa atau kami tersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada
kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum
kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup
kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami.
Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS.
Al Baqarah (2) : 285-286)
dalam hadits dari Abu Mas’ud Al Badri radhiyallahu ‘anhu bahwasanya
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :
مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِى لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ
yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al Baqarah pada malam hari, maka ia
akan diberi kecukupan. (HR. Bukhari No.5009 dan Muslim No.808)
حُسَيْنٌ، حَدَّثَنَا شَيْبَانُ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ رِبعي، عَنْ خَرشة بْنِ
الحُر، عَنِ الْمَعْرُورِ بْنِ سُوَيْدٍ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أُعْطِيتُ خَوَاتِيمَ سُورَةِ
الْبَقَرَةِ مِنْ كَنْزٍ تَحْتَ الْعَرْشِ، لَمْ يُعْطَهُنَّ نَبِيٌّ قَبْلِي
kami Husain, telah menceritakan kepada kami Syaiban, dari Mansur, dari Rab’i,
dari Kharsyah ibnul Hur, dari Ma’rur ibnu Suwaid, dari Abu Zar yang
menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Aku dianugerahi
ayat-ayat penutup surat Al Baqarah dari perbendaharaan di bawah Arasy yang
belum pernah diberikan kepada seorang Nabi pun sebelumku. (HR. Ahmad)
بُنْدَار، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ
بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ أَشْعَثَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الجَرْمي عَنْ أَبِي
قِلابَة، عَنْ أَبِي الْأَشْعَثِ الصَّنْعَانِيِّ، عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ
بَشِيرٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “إِنَّ
اللَّهَ كَتَبَ كِتَابًا قَبْلَ أَنْ يخلق السموات وَالْأَرْضَ بِأَلْفَيْ عَامٍ،
أَنْزَلَ مِنْهُ آيَتَيْنِ خَتَمَ بِهِمَا سُورَةَ الْبَقَرَةِ، وَلَا يُقْرَأْنَ
فِي دَارٍ ثَلَاثَ لَيَالٍ فَيَقْرَبُهَا شَيْطَانٌ”.
menceritakan kepada kami Bandar, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman
ibnu Mahdi, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Asy’as
ibnu Abdur Rahman Al-Harami, dari Abu Qilabah, dari Abul Asy’as As-San’ani,
dari An-Nu’man ibnu Basyir, dari Nabi Saw. yang telah
bersabda: Sesungguhnya Allah telah menulis Kitab-Nya sebelum menciptakan
langit dan bumi dalam jangka dua ribu tahun. Dia menurunkan dua ayat
darinya untuk mengakhiri surat Al Baqarah dengan keduanya. Tidaklah ayat-ayat
itu dibaca di dalam sebuah rumah selama tiga malam, melainkan setan tidak ada yang
berani mendekatinya.
ulama menyebutkan bahwa siapa yang membaca dua ayat terakhir surat Al Baqarah,
maka Allah akan memberikan kecukupan baginya untuk urusan dunia dan akhiratnya,
juga ia akan dijauhkan dari kejelekan. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa
dengan membaca ayat tersebut imannya akan diperbaharui karena di dalam ayat
tersebut ada sikap pasrah kepada Allah Ta’ala. Ada juga ulama yang
mengatakan bahwa ayat tersebut bisa sebagai pengganti dari berbagai dzikir
karena di dalamnya sudah terdapat do’a untuk meminta kebaikan dunia dan
akhirat. Lihat bahasan Prof. Dr. Musthafa Al-Bugha dalam Nuzhah
Al-Muttaqin, hal. 400-401.
‘Iyadh menyatakan bahwa makna hadits bisa jadi dengan membaca dua ayat terakhir
surat Al Baqarah akan mencukupkan dari shalat malam. Atau orang yang membacanya
dinilai menggantungkan hatinya pada Al Qur’an. Atau bisa pula maknanya
terlindungi dari gangguan setan dengan membaca ayat tersebut. Atau bisa jadi
dengan membaca dua ayat tersebut akan mendapatkan pahala yang besar karena di
dalamnya ada pelajaran tentang keimanan, kepasrahan diri, penghambaan pada
Allah dan berisi pula do’a kebaikan dunia dan akhirat. (Ikmal Al Mu’allim, 3 :
176, dinukil dari Kunuz Riyadhis Sholihin, 13 : 83).
Nawawi menyatakan bahwa maksud dari memberi kecukupan padanya -menurut sebagian
ulama- adalah ia sudah dicukupkan dari shalat malam. Maksudnya, itu sudah
pengganti shalat malam. Ada juga ulama yang menyampaikan makna bahwa ia
dijauhkan dari gangguan setan atau dijauhkan dari segala macam penyakit. Semua
makna tersebut kata Imam Nawawi bisa memaknai maksud hadits. Lihat Syarh
Shahih Muslim, 6 : 83-84.
dari berbagai sumber.
: http://shulfialaydrus.blogspot.co.id/ atau
https://shulfialaydrus.wordpress.com/
: @shulfialaydrus
: @shulfialaydrus dan @shulfi
: @shulfialaydrus
Majelis Nuurus Sa’aadah : https://telegram.me/habibshulfialaydrus
: shulfialaydrus
: Habib Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus
Facebook : Majelis Nuurus Sa’aadah atau
https://www.facebook.com/groups/160814570679672/
atau infak atau sedekah.
BRI Cab. JKT Joglo.
Nama : Muhamad Shulfi.
: 0396-01-011361-50-5.
dan pemberi ijazah : Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus, S.Kom.
سلفى بن أبو نوار العيدروس
Qobiltu
Qobiltu