{"id":167,"date":"2020-06-17T23:27:00","date_gmt":"2020-06-17T23:27:00","guid":{"rendered":"https:\/\/shulfialaydrus.id\/mns\/2020\/06\/17\/mengapa-surat-at-taubah-tak-dimulai-dengan-basmalah\/"},"modified":"2020-06-17T23:27:00","modified_gmt":"2020-06-17T23:27:00","slug":"mengapa-surat-at-taubah-tak-dimulai-dengan-basmalah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/shulfialaydrus.com\/mns\/2020\/06\/17\/mengapa-surat-at-taubah-tak-dimulai-dengan-basmalah\/","title":{"rendered":"MENGAPA SURAT AT-TAUBAH TAK DIMULAI DENGAN BASMALAH?"},"content":{"rendered":"<p><\/p>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background-color: #fafafa; color: #212121; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">MENGAPA SURAT AT-TAUBAH TAK DIMULAI DENGAN<br \/>\nBASMALAH?<\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\"><br \/>\n<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br \/>\n<!--[endif]--><\/span><span style=\"font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Setiap surat dalam Al-Quran diawali oleh<br \/>\nbasmalah kecuali dalam surat at-Taubah atau al-Bara&#8217;ah. Dalam surat at-Taubah<br \/>\ntidak dicantumkan basmalah sebagaimana surat-surat yang lain. Hal demikian<br \/>\nmenimbulkan pertanyaan banyak kalangan: kenapa hanya surat at-Taubah yang tidak<br \/>\ndicantumkan basmalah? <o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Sejarah penulisan Al-Quran berawal sejak<br \/>\nturunnya wahyu kepada Nabi Muhammad. Namun penulisan Al-Quran pada saat itu<br \/>\ndalam kondisi yang sangat terbatas. Nabi setiap kali menerima wahyu, beliau<br \/>\nmemanggil sekretaris (katib resmi) untuk mendokumentasi wahyu tersebut ke dalam<br \/>\nbentuk tulisan. Dukomentasi wahyu ini kemudian dikenal dengan nama mushaf<br \/>\n(penulis akan menggunakan kata mushaf).&nbsp; <o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Pada masa Utsman bin Affan, mushaf ini<br \/>\nkemudian ditulis kembali dalam rangka menjaga dari kesalahan sekaligus menjaga<br \/>\notentesitas variasi bacaan Al-Quran (qira&#8217;at Al-Quran). Penulisan masa ini,<br \/>\ndilaksanakan oleh tim yang telah mendapatkan rekomendasi dari khalifah Utsman<br \/>\ndan persetujuan para pembesar sahabat. Direktur utama dalam penulisan mushaf<br \/>\nini adalah Zaid bin Tsabit. Secara teknis pelaksanaan penulisan inidilakukan<br \/>\nsecara selektif dan ketat. Setiap ayat yang hendak ditulis harus melalui persaksian<br \/>\ndua orang yang mendengar langsung dari Nabi.<\/span><o:p><\/o:p><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Tidak hanya itu saja, Sayyidina Utsman<br \/>\nmengeluarkan kebijakan yang luar biasa, yaitu memerintahkan untuk membakar<br \/>\nsemua mushaf selain mushaf yang ditulis oleh tim. Hal ini dilakukan dalam<br \/>\nrangka menyatukan persepsi tentang bacaan Al-Quran yang sesuai bacaan Nabi <span dir=\"RTL\" lang=\"AR-SA\">\ufdfa<\/span><span dir=\"LTR\"><\/span><span dir=\"LTR\"><\/span><span dir=\"LTR\"><\/span><span dir=\"LTR\"><\/span>. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa<br \/>\npenulisan Al-Quran ini telah tuntas tanpa problem yang berarti. Kembali pada<br \/>\npertanyaan di atas: kenapa dalam surat at-Taubah tidak dicantumkan basmalah,<br \/>\napakah hal ini sesuai petunjuk Nabi, sahabat atau tim penulis mushaf lupa<br \/>\nmencantumkannya?.&nbsp; <o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Dalam banyak kesempatan, penulis sering<br \/>\nmendapat pertanyaan, baik dari kalangan mahasiswa\/mahasiswi maupun dari<br \/>\nkalangan masyarakat biasa, yang kira-kira hampir sama dengan di atas, yaitu<br \/>\nkenapa dalam surat at-Taubah tidak dicantumkan basmalah bahkan tidak<br \/>\ndiperkenankan membacanya, baik di awal surat maupun di tengah-tengah<br \/>\nsurat?&nbsp; <o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Dalam rangka menjawab pertanyaan di atas,<br \/>\npenulis perlu menjelaskan terlebih dahulu kronologi tidak dicantumkannya<br \/>\nbasmalah dalam surat at-Taubah.&nbsp; <o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Ada beberapa sebab yang melatarbelakangi<br \/>\ntidak dicantumkannya basmalah dalam surat di atas. Pertama, dalam tradisi Arab<br \/>\njahiliyah dahulu, jika mereka melakukan perjanjian dengan sebuah kaum atau<br \/>\nkabilah yang lain dan hendak memutuskan perjanjian tersebut, maka mereka<br \/>\nmengirimkan sepucuk surat pemutusan tanpa mencantumkan kalimat basmalah. Pun<br \/>\ndemikian, ketika umat Islam memutuskan perjanjian dengan orang-orang musyrik,<br \/>\nNabi mengutus Sayyidina Ali untuk membacakan surat di atas (at-Taubah) di hadapan<br \/>\nmereka tanpa diawali dengan bacaan basmalah, sesuai adat mereka. <o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Kedua, Ibnu Abbas bertanya kepada Utsman<br \/>\ntentang tidak dicantumkannya basmalah dalam surat at-Taubah. Utsman<br \/>\nmenceritakan kronologinya, bahwa pada masa Nabi, ketika wahyu diturunkan kepadanya,<br \/>\nNabi memanggil salah satu sekretaris beliau untuk mendokumentasinya, dan beliau<br \/>\nmendekte penempatan dan tata letaknya. Perlu diketahui bahwa surat al-Anfal<br \/>\ntermasuk surat yang turunnya awal, sedangkan surat at-Taubah termasuk surat<br \/>\nyang turunnya Terakhir, kedua kisah dan penyajiannya kedua surat di atas mirip<br \/>\ndan hampir sama. Dalam hal tersebut, Nabi tidak menjelaskan bahwa surat<br \/>\nal-Anfal bagian dari surat at-Taubah. Saya pun (Utsman bin Affan) berkesimpulan<br \/>\nbahwa surat al-Anfal bagian dari surat at-Taubah. Oleh karena itu, saya urutkan<br \/>\nkedua surat tersebut tanpa mencantumkan basmalah.&nbsp; <o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Ketiga, pada kekhalifahan Utsman, para<br \/>\nsahabat berselisih pendapat tentang surat at-Taubah. Sebagian sahabat<br \/>\nmenganggap bahwa antara surat at-Taubah dan al-Anfal adalah satu surat yang<br \/>\ntidak terpisahkan. Sebagian sahabat yang lain menganggap bahwa keduanya adalah<br \/>\ndua surat yang mandiri. Untuk mendamaikan kedua perselisihan tersebut, Utsman<br \/>\nmengambil sikap tengah, yaitu tidak mencantumkan basmalah. Tujuannya adalah agar<br \/>\nkedua belah pihak yang berselisih dapat saling menerima. Dari pihak yang<br \/>\nmenganggap keduanya (al-Anfal dan at-Taubah) satu surat tidak keberatan, karena<br \/>\ntidak dicantumkan basmalah. Sedangkan dari pihak yang menganggap keduanya<br \/>\nadalah dua surat yang mandiri juga dapat menerima karena beda nama suratnya,<br \/>\nmeskipun tidak diawali dengan basmalah.&nbsp;<\/span><span style=\"color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\"><br style=\"box-sizing: border-box;\" \/><br \/>\n<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br \/>\n<!--[endif]--><span style=\"background: #FAFAFA;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Keempat, diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa<br \/>\nbeliau bertanya kepada Sayyidina Ali tentang tidak dicantumkannya basmalah<br \/>\ndalam surat at-Taubah. Sayyidina Ali menjelaskan bahwa basmalah adalah kalimat<br \/>\naman sementara surat at-Taubah turun sebab perang, tidak aman. Oleh karena<br \/>\ndemikian, antara aman dan perang tidak dapat disatukan. Demikian pula, dalam<br \/>\nbasmalah itu terdapat kandungan rahmat, kasih sayang, sedangkan dalam surat<br \/>\nat-Taubah terdapat kemarahan. Oleh karena itu, antara rahmat dan kemarahan<br \/>\ntidak bisa disatukan. Senada dengan pendapat di atas, Imam al-Sufyan mengatakan<br \/>\nbahwa basmalah adalah ayat rahmah, rahmah memiliki arti aman. Sedangkan surat<br \/>\nat-Taubah turun kepada orang-orang munafik dan mengandung perang, sebab itu<br \/>\ntidak aman bagi orang-orang munafik.&nbsp; <o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Dari kronologis di atas dapat disimpulkan<br \/>\nbahwa para sahabat sepakat tidak mencantumkan basmalah dalam surat at-Taubah<br \/>\nberdasarkan pada periwayatan yang diterima oleh mereka dari Nabi. Pun demikian,<br \/>\nNabi ketika menerima ayat tersebut dari Jibril tidak disertai basmalah. Hal ini<br \/>\njuga dibuktikan bahwa tidak ada satu pun ahli qurra\u2019 sab&#8217;ah (qira&#8217;at tujuh)<br \/>\nmaupun qurra&#8217; asyrah (qira\u2019at sepuluh) yang meriwayatkan membaca basmalah di<br \/>\nawal surat at-Taubah. Artinya, mereka sepakat meninggalkan membaca basmalah di<br \/>\nawal surat at-Taubah.&nbsp; <o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Dalam ilmu qiraat, dasar utama dalam membaca<br \/>\nAl-Quran adalah bersumber dari Nabi dan transmisi yang berkesinambungan. Sebab<br \/>\ndalam membaca Al-Quran tidak ada istilah qiyas.<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">&nbsp; <span dir=\"RTL\" lang=\"AR-SA\">\u0627\u0644\u0642\u0631\u0627\u0621\u0629 \u0633\u0646\u0629<br \/>\n\u0645\u062a\u0628\u0639\u0629 \u064a\u0623\u062e\u0630\u0647\u0627 \u0627\u0644\u0623\u062e\u0631 \u0639\u0646 \u0627\u0644\u0623\u0648\u0644\u060c \u0648\u0644\u0627 \u0642\u064a\u0627\u0633 \u0641\u064a \u0627\u0644\u0642\u0631\u0627\u0621\u0629<\/span><span dir=\"LTR\"><\/span><span dir=\"LTR\"><\/span><span dir=\"LTR\"><\/span><span dir=\"LTR\"><\/span>&nbsp;<\/span><span style=\"color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\"><br style=\"box-sizing: border-box;\" \/><br \/>\n<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br \/>\n<!--[endif]--><span style=\"background: #FAFAFA;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Imam al-Jazariy berkata dalam bentuk gubahan<br \/>\nsyair:<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">&nbsp; <span dir=\"RTL\" lang=\"AR-SA\">\u0644\u0623\u0646\u0647 \u0628\u0647 \u0627\u0644\u0625\u0644\u0647<br \/>\n\u0623\u0646\u0632\u0644\u0627 *** \u0648\u0647\u0643\u0630\u0627 \u0645\u0646\u0647 \u0627\u0644\u064a\u0646\u0627 \u0648\u0635\u0644\u0627<\/span><span dir=\"LTR\"><\/span><span dir=\"LTR\"><\/span><span lang=\"AR-SA\"><span dir=\"LTR\"><\/span><span dir=\"LTR\"><\/span> <\/span><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Wallahu A&#8217;lam.&nbsp; <o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">(Moh Fathurrozi, Kaprodi Ilmu Al-Qur&#8217;an dan<br \/>\nTafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo dan Dai PCINU Korea Selatan<\/span>)<span style=\"color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\"><br \/>\n<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br \/>\n<!--[endif]--><span style=\"background: #FAFAFA;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">BOLEHKAH MEMBACA BASMALAH DI TENGAH-TENGAH<br \/>\nSURAT AT-TAUBAH?<\/span><span style=\"color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\"><\/p>\n<p><span style=\"background: #FAFAFA;\">Berangkat dari pertanyaan pada tulisan<br \/>\npertama, kenapa tidak diperkenankan membaca basmalah dalam surat At-Taubah,<br \/>\nbaik di awal surat maupun di tengah-tengah surat, apakah larangan ini<br \/>\nmengandung arti hukum haram atau sekadar peringatan yang tidak berdampak dosa?<\/span><\/span><br style=\"box-sizing: border-box;\" \/><br \/>\n<br style=\"box-sizing: border-box;\" \/><br \/>\n<span style=\"background: #FAFAFA;\">Pada tulisan ini, penulis akan memetakan cara baca antara<br \/>\nSurat al-Anfal dengan At-Taubah dan hukum membaca ayat di tengah-tengah surat<br \/>\nAt-Taubah.&nbsp;<\/span><br style=\"box-sizing: border-box;\" \/><br \/>\n<br style=\"box-sizing: border-box;\" \/><br \/>\n<span style=\"background: #FAFAFA;\">Dalam ilmu qira&#8217;at, ada banyak pendapat tentang cara<br \/>\nmenyambung antara dua surat; ada yang membaca dengan waqf (berhenti sejenak<br \/>\nuntuk mengambil napas kira-kira dua detik), ada yang membaca washl (menyambung<br \/>\ndua surat tanpa mengambil tarikan napas), ada pula yang membaca sakt (berhenti<br \/>\nsejenak menahan tarikan napas kira-kira dua detik), bahkan ada pula yang<br \/>\nmenyambungnya dengan basmalah atau meninggalkannya. Semua tata cara<br \/>\n(thariqah\/metode) ini sahih dan mutawatir, baik bagi qurra&#8217; sab&#8217;ah atau asyrah.<br \/>\nMisalnya, Imam Nafi&#8217;, Imam al-Qurra&#8217; Madinah, memiliki kompleksitas bacaan<br \/>\nseperti di atas melalui kedua muridnya yang masyhur: Imam Qalun dan Warsy.<br \/>\nBerbeda dari Imam &#8216;Ashim, beliau hanya memiliki satu cara baca (satu cara baca<br \/>\nmemiliki tiga operasional), yaitu menyambung kedua surat dengan basmalah.<br \/>\nMeskipun demikian, untuk cara menyambung antara surat al-Anfal dan At-Taubah,<br \/>\npara ulama, baik qurra sab&#8217;ah (qira&#8217;at tujuh) maupun qurra&#8217; asyrah (qira&#8217;at<br \/>\nsepuluh) sepakat, baik secara metode maupun oprasionalnya, yaitu dengan tiga<br \/>\ncara; waqaf, washal dan sakt. Ketiga oprasional bacaan ini tanpa membaca<br \/>\nbasmalah. Berikut contohnya.<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Pertama, waqaf, cara mengoprasionalkan bacaan<br \/>\nwaqaf ini adalah berhenti pada ayat terakhir ( <span dir=\"RTL\" lang=\"AR-SA\">\u0627\u0646 \u0627\u0644\u0644\u0647<br \/>\n\u0628\u0643\u0644 \u0634\u064a\u0621 \u0639\u0644\u064a\u0645<\/span><span dir=\"LTR\"><\/span><span dir=\"LTR\"><\/span><span dir=\"LTR\"><\/span><span dir=\"LTR\"><\/span>)&nbsp; mengambil napas kira-kira dua detik kemudian melanjutkan<br \/>\nawal surat At-Taubah. Ketika dalam keadaan berhenti (antara dua surat: al-Anfal<br \/>\ndan At-Taubah) seorang qari&#8217; boleh menambahkan bacaan isti&#8217;adzah. Dalam hal<br \/>\nini, membaca istiadzah dianjurkan.<\/span><span style=\"color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\"><br style=\"box-sizing: border-box;\" \/><br \/>\n<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br \/>\n<!--[endif]--><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Kedua, washal, cara mengoprasionalkan bacaan<br \/>\nini adalah menyambung antara kedua surat al-Anfal dan At-Taubah tanpa mengambil<br \/>\ntarikan napas, sebagaimana menyambung antar dua ayat yang berdampingan. Dalam<br \/>\nhal ini, seorang qari&#8217; tidak perlu membaca kalimat istia&#8217;adzah.<\/span><span style=\"color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\"><br style=\"box-sizing: border-box;\" \/><br \/>\n<br style=\"box-sizing: border-box;\" \/><br \/>\n<span style=\"background: #FAFAFA;\">Ketiga, sakt, cara mengoprasionalkan bacaan ini adalah<br \/>\nberhenti sejenak pada ayat terakhir surat al-Anfal dengan menahan napas<br \/>\nkira-kira dua detik, kemudian melanjutkan awal surat At-Taubah. Dalam hal ini<br \/>\npula, seorang qari tidak perlu membaca kalimat isti&#8217;adzah.&nbsp;<\/span><br style=\"box-sizing: border-box;\" \/><br \/>\n<br style=\"box-sizing: border-box;\" \/><br \/>\n<span style=\"background: #FAFAFA;\">Demikian merupakan tata cara (motode) dan operasionalnya<br \/>\nmenyambung antara surat al-Anfal dan At-Taubah.&nbsp;<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Sebelum masuk pada pemetaan hukum membaca<br \/>\nbasmalah di tengah-tengah surat At-Taubah, terlebih dahulu sebaiknya dipaparkan<br \/>\nmembaca basmalah di tengah-tengah surat selain surat At-Taubah, agar kita dapat<br \/>\nmengetahui secara komprehensif dan dapat menemukan perbandingan hukum.<\/span><span style=\"color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\"><br style=\"box-sizing: border-box;\" \/><br \/>\n<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br \/>\n<!--[endif]--><span style=\"background: #FAFAFA;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Secara umum, ulama qurra&#8217; (ahli qira&#8217;at)<br \/>\nsepakat membaca basmalah pada awal setiap surat kecuali surat At-Taubah.<br \/>\nSementara mengawali di tengah-tengah surat selain At-Taubah, ulama qurra&#8217;<br \/>\nmemberikan kelonggaran, yaitu boleh di awali dengan membaca basmalah atau<br \/>\nmeninggalkannya. Artinya, seorang qari&#8217; ketika hendak membaca ayat di<br \/>\ntengah-tengah surat selain At-Taubah boleh memilih antara membaca basmalah atau<br \/>\nmeninggalkannya dengan membaca isti&#8217;adzah saja. Namun, alangkah baiknya bagi<br \/>\nseorang qari untuk mengawali baca al-Quran dengan basmalah, baik di awal surat<br \/>\nmaupun di tengah-tengah surat, sebab menambah pembendaharaan pahala.<\/span><span style=\"color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\"><br style=\"box-sizing: border-box;\" \/><br \/>\n<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br \/>\n<!--[endif]--><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">(Perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan<br \/>\n\u201ctengah-tengah surat\u201d adalah selain ayat pertama dalam surat).<\/span><span style=\"color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Hukum Membaca Basmalah pada Surat At-Taubah. <o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Adapun hukum membaca basmalah di<br \/>\ntengah-tengah surat At-Taubah adalah sebagaimana berikut:<\/span><span style=\"color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\"><br style=\"box-sizing: border-box;\" \/><br \/>\n<br style=\"box-sizing: border-box;\" \/><br \/>\n<span style=\"background: #FAFAFA;\">Pertama, haram membaca basmalah di awal surat al-Bara&#8217;ah atau<br \/>\nat-Taubah, dan makruh membaca basmalah di tengah-tengah surat. Pendapat ini<br \/>\ndiutarakan oleh Imam Ibnu Hajar dan Imam al-Khatib.&nbsp;<\/span><br style=\"box-sizing: border-box;\" \/><br \/>\n<br style=\"box-sizing: border-box;\" \/><br \/>\n<span style=\"background: #FAFAFA;\">Dasar pengambilan hukum haram ini karena tidak mengikuti<br \/>\npetunjuk bacaan yang mutawatir. Artinya, keluar dari pakem dan kesepakatan<br \/>\nulama qurra&#8217;. Sementara hukum makruh di tengah-tengah surat At-Taubah karena<br \/>\ntidak ada petunjuk resmi larangannya, sehingga untuk mengantisipasi dilakukan<br \/>\nlarangan yang tidak mengikat, yaitu hukum makruh.<\/span><br style=\"box-sizing: border-box;\" \/><br \/>\n<br style=\"box-sizing: border-box;\" \/><br \/>\n<span style=\"background: #FAFAFA;\">Kedua, makruh membaca basmalah di awal surat At-Taubah dan<br \/>\nsunnah membaca basmalah di tengah-tengah surat, sebagaimana membaca basmalah di<br \/>\ntengah-tengah surat selain surat At-Taubah. Pendapat ini diutarakan oleh Imam<br \/>\nRamli. <o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Dasar pengambilan hukum ini (makruh di awal<br \/>\nsurat) adalah karena tidak ada petunjuk (larangan) resmi dari Nabi maupun<br \/>\nsahabat. Sedangkan pengambilan hukum sunnah di tengah-tengah surat adalah<br \/>\nkarena dianalogikan (qiyas) dengan membaca basmalah di tengah-tengah surat selain<br \/>\nAt-Taubah.&nbsp; <o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Oleh karena itu, dari beberapa pemaparan di<br \/>\natas, dapat disimpulkan sebagaimana berikut:<\/span><span style=\"color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\"><br style=\"box-sizing: border-box;\" \/><br \/>\n<span style=\"background: #FAFAFA;\">&nbsp;<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Pertama, membaca basmalah pada awal surat<br \/>\nmerupakan sunnah yang sangat dianjurkan kecuali surat At-Taubah. <o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Kedua, membaca basmalah di tengah-tengah<br \/>\nsurat boleh dilaksanakan atau ditinggalkan. Namun sebaiknya membaca basmalah,<br \/>\nsebagaimana tradisi yang berkembang, untuk pembendaharaan pahala. <o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Ketiga, membaca basmalah di awal surat<br \/>\nAt-Taubah tidak dianjurkan bahkan dilarang. Sebaiknya jika membaca awal surat<br \/>\nAt-Taubah cukup membaca isti&#8217;adzah saja. <o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Keempat, membaca basmalah di tengah-tengah<br \/>\nsurat At-Taubah sebaiknya ditinggalkan meskipun ada yang berpendapat<br \/>\nmembolehkannya. Hal ini didasarkan pada qiyas (analogi) tidak dianjurkannya<br \/>\nmembaca di awal surat. Di samping tidak ada petunjuk resmi dari nash. Berkaitan<br \/>\ndengan kesimpulan di atas, maka sebaiknya bagi khalayak umat Muslim yang biasa<br \/>\nbaca diba&#8217;an untuk tidak membaca basmalah ketika mengawali bacaan surat<br \/>\nAt-Taubah terakhir ayat 127, (<span dir=\"RTL\" lang=\"AR-SA\">\u0644\u0642\u062f \u062c\u0627\u0621\u0643\u0645 \u0631\u0633\u0648\u0644 \u0645\u0646 \u0627\u0646\u0641\u0633\u0643\u0645<br \/>\n\u0639\u0632\u064a\u0632<\/span><span dir=\"LTR\"><\/span><span dir=\"LTR\"><\/span><span dir=\"LTR\"><\/span><span dir=\"LTR\"><\/span>) cukup diawali dengan isti&#8217;adzah saja. Mengingat membaca<br \/>\nbasmalah di tengah-tengah surat At-Taubah tidak dianjurkan. Demikian, semoga<br \/>\nbermanfaat. Wallahu a\u2019lam.<\/span><span style=\"color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\"><br style=\"box-sizing: border-box;\" \/><br \/>\n<br style=\"box-sizing: border-box;\" \/><br \/>\n<span style=\"background: #FAFAFA;\">Daftar Refrensi:<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Al Fadhliy, Abdul Hadi, Al-Qira&#8217;at<br \/>\nal-Qur&#8217;aniyah; Tarikh wa Ta&#8217;rif. Beirut: Markas al-Ghadir, 2009. <o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Al-Dhobba&#8217;, Al-Idhaah fi Bayan Ushul<br \/>\nAl-Qira&#8217;at. Mesir: Al-Maktabah Al-Azhariyah li Al-Turats, 1999. <o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Al- Qadiy, Abd Al-Fattah, Al-Budur Al-Zahirah<br \/>\nfi Al-Qira&#8217;at Al-Asyrah Al-Mutawatirah. Beirut: Dar Al-Kitab Al-Arabiy, tth. <o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Al- Qadiy, Abd Al-Fattah, Al-Budur Al-Zahirah<br \/>\nfi Al-Qira&#8217;at Al-Sab&#8217;i. Jeddah: Maktabah Al-Suwadiy, 1992. <o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Al-Qurtubiy, Abu Abdillah Muhammad, Tafsir<br \/>\nAl-Qurtubiy. Beirut, Dar Al-Arabiy, tth. <o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Al-Qatthan, Mabahits fi Ulum Al-Qur&#8217;an.<br \/>\nKairo: Maktabah Wahbah, 1995. <o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"background: #FAFAFA; color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">(Moh Fathurrozi,&nbsp;Kaprodi Ilmu Al-Qur&#8217;an<br \/>\ndan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo dan Dai PCINU Korea Selatan<\/span>)<span style=\"color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\"><br \/>\n<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br \/>\n<!--[endif]--><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 107%;\">Website :<br \/>\nhttp:\/\/shulfialaydrus.blogspot.co.id\/ atau<br \/>\nhttps:\/\/shulfialaydrus.wordpress.com\/<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 107%;\">Instagram : @shulfialaydrus <o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 107%;\">Twitter : @shulfialaydrus dan @shulfi<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 107%;\">Telegram : @shulfialaydrus<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 107%;\">Telegram Majelis Nuurus Sa&#8217;aadah :<br \/>\nhttps:\/\/telegram.me\/habibshulfialaydrus<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 107%;\">LINE : shulfialaydrus&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 107%;\">Facebook : Habib Muhammad Shulfi bin Abunawar<br \/>\nAl \u2018Aydrus<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 107%;\">Group Facebook : Majelis Nuurus Sa\u2019aadah atau<br \/>\nhttps:\/\/www.facebook.com\/groups\/160814570679672\/<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 107%;\">Donasi atau infak atau sedekah. <o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 107%;\">Bank BRI Cab. JKT Joglo. <o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 107%;\">Atas Nama : Muhamad Shulfi.<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 107%;\">No.Rek : 0396-01-011361-50-5. <o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 107%;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 107%;\">Penulis ulang : Muhammad Shulfi bin Abunawar<br \/>\nAl \u2018Aydrus, S.Kom. <o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span dir=\"RTL\" lang=\"AR-SA\" style=\"font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 107%;\">\u0645\u062d\u0645\u062f \u0633\u0644\u0641\u0649 \u0628\u0646 \u0623\u0628\u0648 \u0646\u0648\u0627\u0631 \u0627\u0644\u0639\u064a\u062f\u0631\u0648\u0633<\/span><span style=\"font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 107%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<\/div>\n<div style=\"margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;\">\n<span style=\"color: #212121; font-family: &quot;Arial&quot;,sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\"><br style=\"mso-special-character: line-break;\" \/><br \/>\n<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br style=\"mso-special-character: line-break;\" \/><br \/>\n<!--[endif]--><span style=\"background: #FAFAFA;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MENGAPA SURAT AT-TAUBAH TAK DIMULAI DENGAN BASMALAH? Setiap surat dalam Al-Quran diawali oleh basmalah kecuali&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"pagelayer_contact_templates":[],"_pagelayer_content":"","footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-167","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-amalan-dan-ilmu"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/shulfialaydrus.com\/mns\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/167","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/shulfialaydrus.com\/mns\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/shulfialaydrus.com\/mns\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/shulfialaydrus.com\/mns\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/shulfialaydrus.com\/mns\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=167"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/shulfialaydrus.com\/mns\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/167\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/shulfialaydrus.com\/mns\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=167"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/shulfialaydrus.com\/mns\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=167"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/shulfialaydrus.com\/mns\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=167"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}