Categories
Uncategorized

Pertanyaan Tentang Zakat Profesi.

Pertanyaan berikut ini
pernah ditanyakan kepada Habib Munzir bin Fuad Al Musawa tentang Zakat Profesi
dan Zakat Fitrah.
Assalamu’alaikum yaa
Sayyidi.

Semoga habibana selalu dalam keRidhoan Allah SWT Amin.
Ya habib, ana mau tanya sekitar zakat profesi dan zakat fitrah/maal

Ana sudah bekerja, dan pas tahun ramadhan ini ana juga menginjak 1 tahun
bekerja..
Bagaimana perlakuan hukum & perhitungan zakat profesi ana..??
apakah sisa tabungan di bank + gajian bulan ini di kalikan 2.5% (sebelumnya sudah
dikurangi kebutuhan pokok)??
Tergolong zakat maal atau fitrah atas zakat profesi tsb..??
Jika sudah membayar zakat profesi, apakah masih perlu membayar
zakat untuk bulan Ramadhan..??
Jazakumullah khairon katsir ya Sayyidi.
Jawaban Habib Munzir bin
Fuad Al Musawa.
Alaikumsalam warahmatullah
wabarakatuh,
kemuliaan Ramadhan,kesucian Rahmat, pengampunan, pembebasan dari
neraka dan Cahaya Lailatulqadar semoga menerangi hari hari anda,
Saudaraku yg kumuliakan,

Zakat terdapat 7 macam,

1. Zakat tubuh kita, yaitu zakat fitrah.
2. zakat Tijarah, yaitu zakat perdagangan kita jika kita mempunyai usaha
perdagangan.
3. zakat Tsimar, yaitu zakat buah buahan, dan yang terkena zakat hanyalah
Anggur dan kurma.
4. zakat Ma’din, yaitu zakat jika kita usaha tambang bumi.
5. zakat Rikaz, yaitu jika kita menemukan harta karun.
6. zakat Ni’am, yaitu zakat ternak, dan yang terkena zakat hanyalah ternak
kambing, sapi dan unta.
7. zakat Maal, yaitu zakat harta.
kesemua zakat diatas hanya zakat fitrah yang dibayarkan di
ramadhan atau 1 syawal., selainnya maka mengikuti sikonnya.
Mengenai zakat profesi, zakat profesi tidak diakui dalam Jumhur
(pendapat keseluruhan ulama) Ahlussunnah waljamaah, yang ada adalah zakat harta
jika disimpan tanpa dipakai apa-apa, ada pendapat lemah di mazhab Daud untuk
boleh dilakukan setiap bulan, namun Jumhur (pendapat terbanyak dan terkuat)
seluruh mazhab berpendapat bahwa zakat harta adalah setahun sekali jika
melebihi nishab dan haul.
Nishab : Batas jumlah / nilai yang ditentukan syariah,
haul : sempurna 1 tahun,
Jadi anda bekerja dan
mendapat gaji itu tak ada zakatnya, boleh anda bersedekah saja.
Perhitungan zakat harta
adalah jika anda menyimpan uang, atau emas anda baru kena zakat jika menyimpan
uang itu sampai setahun, dan jumlah yang anda simpan telah melebihi nishab
selama setahun.
Zakat maal / harta dikeluarkan setahun sekali, terhitung hari
sejak uang kita melebihi Nishob (batas), dan Nishob zakat maal adalah seharga
emas 84 gram, maka bila uang simpanan kita terus meningkat, misalnya mulai 4
Oktober 2006 uang simpanan kita mulai melebihi harga emas 84 gram, maka sejak
tanggal 4 oktober itu terhitunglah kita sebagai calon wajib zakat, namun belum
wajib mengeluarkan zakat karena menunggu syarat satu lagi, yaitu haul (sempurna
satu tahun),
Nah.. bila uang kita terus dalam keadaan diatas Nishob sampai 3
oktober 2007 maka wajiblah kita mengeluarkan zakatnya sebesar jumlah seluruh
uang kita yang ada pada tanggal 3 oktober 2007 sebesar 2,5%. (bukan uang kita yang
pada 4 oktober 2006, atau uang kita bertambah menjadi 100 juta misalnya, lalu
naik dan turun, maka tetap perhitungan zakat adalah saat hari terakhir ketika
genap 1 tahun dikeluarkan 2,5% darinya).
Bila uang kita setelah melebihi batas 84 gram, lalu uang kita
berkurang misalnya pada Januari 2007 uang kita turun dibawah harga emas 84
gram, maka sirnalah wajib zakat kita, kita tidak wajib berzakat kecuali bila
uang kita mulai melebihi nishab lagi, saat itu mulai laih terhitung calon wajib
zakat dengan hitungan mulai hari tersebut, dan itupun bila mencapai 1 tahun
penuh tidak ada pengurangan dari batas nishob

.

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita cita, semoga
dalam kebahagiaan selalu,
Wallahu a’lam.
Website
: http://shulfialaydrus.blogspot.co.id/ atau
https://shulfialaydrus.wordpress.com/
Instagram
: @shulfialaydrus
Instagram
Majelis Nuurus Sa’aadah : @majlisnuurussaadah
Twitter
: @shulfialaydrus dan @shulfi   
Telegram
: @habibshulfialaydrus
Telegram
Majelis Nuurus Sa’aadah : @majlisnuurussaadah
Facebook
: https://www.facebook.com/habibshulfialaydrus/
Group
Facebook : Majelis Nuurus Sa’aadah atau
https://www.facebook.com/groups/160814570679672/
Donasi
atau infak atau sedekah.
Bank
BRI Cab. JKT Joglo.
Atas
Nama : Muhamad Shulfi.
No.Rek
: 0396-01-011361-50-5.
Penulis
ulang : Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus, S.Kom.
محمد
سلفى بن أبو نوار العيدروس

Categories
Uncategorized

Tentang Adab Puasa (Kitab Bidayatul Hidayah).

Tentang
Adab Puasa (Kitab Bidayatul Hidayah).
آدَابُ
الصِّيَامِ
Adab
Puasa.
لاَ
يَنْبَغِيْ أَنْ تَقْتَصِرَ عَلَى صَوْمِ رَمَضَانَ فَتَتْرُكَ التِّجَارَةَ بِالنَّوَافِلِ،
وَكَسْبِ الدَّرَجَاتِ الْعَالِيَةِ فِي الْفَرَادِيْسِ، فَتَتَحَسَّرُ إِذَا نَظَرْتَ
إِلَى مَنَازِلِ الصَّائِمِيْنَ، كَمَا تَنْظُرُ إِلَى الْكَوَاكِبِ الدُّرِّيَّةِ،
وَهُمْ فِيْ أَعْلَى عِلِّيِّيْنَ
Tidak
selayaknya engkau mencukupkan diri hanya dengan berpuasa di bulan Ramadhan
saja, lalu meninggalkan perniagaan dengan amalan-amalan sunnah dan meninggalkan
usaha untuk menggapai derajat yang tinggi di surga Firdaus. Jika hal itu yang
kau lakukan maka engkau akan menyesal tatkala menyaksikan kedudukan yang
dicapai oleh orang-orang yang berpuasa, yang tampak laksana bintang-bintang
yang gemerlapan. Dan mereka berada di tempat yang tertinggi di dalam surga.
وَاْلأَيَّامُ
الْفَاضِلَةُ الَّتِيْ شَهِدَتِ اْلأَخْبَارِ بِشَرَفِهَا وَفَضْلِهَا، وَبِجَزَالَةِ
الثَّوَابِ فِيْ صِيَامِهَا: يَوْمُ عَرَفَةٍ لِغَيْرِ الْحَاجِّ، وَيَوْمُ عَاشُوْرَاءَ،
وَالْعَشْرُ اْلأَوَّلُ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ، وَالْعَشْرُ اْلأَوَّلُ مِنَ الْمَحَرَّمِ،
وَرَجَبُ وَشَعْبَانُ
Hari-hari
utama yang disebutkan di dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
tentang kemuliaan dan keutamaannya, dan siapa pun yang berpuasa di dalamnya
akan memperoleh pahala yang sangat banyak adalah
Puasa
hari Arafah (9 Dzulhijjah) bagi yang tidak sedang menunaikan haji,
Puasa
hari Asyura (10 Muharram),
Puasa
sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah,
Puasa
sepuluh hari pertama bulan Muharram, puasa bulan Rajab dan puasa bulan Sya’ban.
وَصَوْمُ
اْلأَشْهُرِ الْحُرُمِ مِنَ الْفَضَائِلِ، وَهِيَ ذُو الْقعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ
وَالْمُحَرَّمِ وَرَجَبُ، وَاحِدٌ فَرْدٌ وَثَلاَثَةٌ سَرْدٌ، وَهَذِهِ فِي السَّنَةِ
Berpuasa
di bulan-bulan haram (mulia) adalah sangat utama. Bulan-bulan haram itu adalah
Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Yang satu menyendiri sedangkan yang
lain berurutan. Hal ini berlaku dalam satu tahun.
وَأَمَّا
فِي الشَّهْرِ فَأَوَّلُ الشَّهْرِ وَأَوْسَطُهُ وَآخِرُهُ، وَاْلأَيَّامُ الْبِيْضُ،
وَهِيَ الثَّالِثَ عَشَرَ، وَالرَّابِعَ عَشَرَ، وَالْخَامِسَ عَشَرَ، وَأَمَّا فِي
اْلاُسْبُوْعِ فَيَوْمُ اْلاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ وَالْجُمُعَةِ
Ada
pun dalam setiap bulan waktu yang disunnahkan puasa adalah di awal bulan,
pertengahan, dan akhir bulan. Kemudian Ayyamul Bidh, yakni tanggal 13, 14
dan 15 pada setiap bulan (hijriyyah). Sedangkan dalam setiap minggu waktu yang
disunnahkan puasa adalah hari Senin, Kamis dan Jumat.
فَتُكَفِّرُ
ذُنُوْبَ اْلأُسْبُوْعِ بِصَوْمِ اْلإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ وَالْجُمُعَةِ. وَذُنُوْبُ
الشَّهْرِ تُكَفَّرُ بِالْيَوْمِ اْلأَوَّلِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْيَوْمِ اْلأَوْسَطِ
وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ وَاْلأَيَّامِ الْبِيْضِ، وَتُكَفِّرُ ذُنُوْبَ السَّنَةِ بِصِيَامِ
هَذِهِ اْلأَيَّامِ وَاْلاَشْهُرِ الْمَذْكُوْرَةِ
Puasa
pada hari Senin, Kamis dan Jumat dapat menghapus dosa-dosa seminggu. Sedangkan
dosa-dosa sebulan akan terhapuskan dengan berpuasa pada awal bulan, pertengahan
bulan, akhir bulan, dan puasa pada Ayyamul Bidh. Ada pun dosa-dosa setahun akan
terhapuskan dengan berpuasa pada hari-hari dan bulan-bulan yang telah kami
sebutkan.
وَلاَ
تَظُنَّ إِذَا صُمْتَ أَنَّ الصَّوْمَ هُوَ تَرْكُ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ وَالْوِقَاعِ
فَقَطْ، فَقَدْ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ
مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوْعُ وَالْعَطَشُ
Hendaklah
engkau tidak menyangka bahwa yang dimaksud dengan berpuasa hanyalah sekedar
meninggalkan makan, minum dan tidak melakukan hubungan badan di siang hari.
Sungguh Rasulullah SAW telah bersabda: “Berapa banyak orang yang berpuasa,
namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasa yang ia lakukan itu, kecuali hanya
lapar dan dahaga”.
بَلْ
تَمَامُ الصَّوْمِ بِكَفِّ الْجَوَارِحِ كُلِّهَا عَمَّا يَكْرَهُ اللهُ تَعَالَى،
بَلْ يَنْبَغِيْ أَنْ تَحْفَظَ الْعَيْنَ عَنِ النَّظَرِ إِلَى الْمَكَارِهِ، وَاللِّسَانَ
عَنِ النُّطْقِ بِمَا لاَ يَعْنِيْكَ، وَاْلأُذْنَ عَنِ اْلاِسْتِمَاعِ إِلَى مَا حَرَّمَهُ
اللهُ تَعَالَى
Namun
sempurnanya puasa adalah dengan memelihara seluruh anggota badan dari segala
hal yang dibenci Allah Ta’ala. Oleh karena itu, hendaklah engkau memelihara
mata dari melihat ke arah hal-hal yang tidak disukai Allah, menjaga lisan dari mengucapkan
sesuatu yang tidak bermanfaat, menjaga telinga dari mendengarkan hal-hal yang
diharamkan Allah Ta’ala.
فَإِنَّ
الْمُسْتَمِعَ شَرِيْكُ الْقَائِلِ وَهُوَ أَحَدُ الْمُغْتَابِيْنَ، وَكَذَلِكَ تَكُفُّ
جَمِيْعَ الْجَوَارِحِ كَمَا تَكُفُّ الْبَطْنَ وَالْفَرْجَ، فَفِي الْخَبَرِ: خَمْسٌ
يُفَطِّرْنَ الصَّائِمَ: الْكَذِبُ، وَالْغِيْبَةُ، وَالنَّمِيْمَةُ، وَالْيَمِيْنُ
الْكَاذِبَةُ، وَالنَّظَرُ بِشَهْوَةٍ
Karena
orang yang mendengarkan memiliki kedudukan yang sama dengan orang yang
mengucapkan, dan dia termasuk salah seorang dari orang yang melakukan ghibah
(bila yang didengarkannya itu adalah ghibah). Demikian pula engkau harus
menjaga seluruh anggota badanmu dari segala hal yang menyebabkan dosa
sebagaimana engkau pun harus menjaga perut dan kemaluanmu dari memperturutkan
syahwat. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Lima
hal yang dapat membatalkan (pahala) puasa orang yang berpuasa, yaitu : Berdusta
(berbohong), ghibah (bergunjing), namimah (mengadu domba), bersumpah palsu, dan
melihat dengan syahwat (hawa nafsu)”.
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا الصَّوْمُ جُنَّةٌ، فَإِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ
صَائِمًا فَلاَ يَرْفُثْ، وَلاَ يَفْسُقْ، وَلاَ يَجْهَلْ، فَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ
أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّيْ صَائِمٌ
Dan
dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda :
“Sesungguhnya puasa itu adalah perisai. Oleh karena itu, apabila salah seorang
dari kalian sedang berpuasa hendaklah ia tidak mengucapkan kata-kata kotor,
berbuat maksiat dan berbuat kebodohan. Apabila ada orang yang mengajaknya
berkelahi atau memakinya, maka hendaklah ia berkata, ‘Sesungguhnya aku sedang
berpuasa’.
ثُمَّ
اجْتَهِدْ أَنْ تُفْطِرَ عَلَى طَعَامٍ حَلاَلٍ، وَلاَ تَسْتَكْثَرْ فَتَزِيْدَ عَلَى
مَا تَأْكُلُهُ كُلَّ لَيْلَةٍ، فَلاَ فَرْقَ إِذَا اسْتَوْفَيْتَ مَا تَعْتَادُ أَنْ
تَأْكُلَهُ دُفْعَتَيْنِ فِيْ دَفْعَةٍ وَاحِدَةٍ، وَإِنَّمَا الْمَقْصُوْدُ بِالصِّيَامِ
كَسْرُ شَهْوَتِكَ وَتَضْعِيْفُ قُوَّتِكَ لِتَقْوَى بِهَا عَلَى التَّقْوَى
Kemudian
berusahalah engkau untuk berbuka dengan makanan yang halal, dan janganlah
engkau menambah porsi makanmu melebihi yang biasa engkau makan pada setiap
malamnya. Karena jika itu yang engkau lakukan, sama saja engkau membiasakan
makan dua kali menjadi satu kali. Yakni makan satu kali namun porsinya untuk
dua kali makan. Padahal tujuan berpuasa adalah untuk menghancurkan syahwatmu
dan melemahkan kekuatanmu yang dengannya engkau akan menjadi kuat dalam
melaksanakan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
فَإِذَا
أَكَلْتَ عَشِيَّةً مَا تَدَارَكْتَ بِهِ مَا فَتَكَ ضَحْوَةً، فَلاَ فَائِدَةَ فِيْ
صَوْمِكَ، وَقَدْ ثَقُلَتْ عَلَيْكَ مَعِدَتُكَ، وَمَا وِعَاءٌ أَبْغَضُ إِلَى اللهِ
تَعَالَى مِنْ بَطْنٍ مُلِىءَ  مِنْ حَلاَلٍ،
فَكَيْفَ إِذَا مُلِىءَ مِنْ حَرَاِمٍ؟
Jika
engkau memakan di malam hari makanan apa saja yang tidak dapat kau makan di
siang hari karena berpuasa, maka tidak ada artinya puasa yang engkau lakukan
itu, dan sungguh perutmu akan menjadi berat karena kekenyangan. Padahal tidak
ada wadah yang paling dibenci Allah Ta’ala melebihi perut yang penuh
(kekenyangan) dengan makanan yang halal. Lalu, bagaimana bila perut itu penuh
(kekenyangan) dengan barang yang haram?
فَإِذَا
عَرَفْتَ مَعْنَى الصَّوْمِ فَاسْتَكْثِرْ مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتَ، فَإِنَّهُ أَسَاسُ
الْعِبَادَاتِ، وَمِفْتَاحُ الْقُرُبَاتِ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: قَالَ اللهُ تَعَالَى: كُلُّ حَسَنَةٍ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ
ضِعْفٍ إِلاَّ الصَّوْمَ، فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ
Apabila
engkau telah memahami makna puasa, maka perbanyaklah melakukannya sebatas
kemampuanmu, karena puasa adalah dasar (asas) dari ibadah dan kunci
pendekatakan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda: “Allah subhanahu wa ta’ala berfirman : “Setiap
kebaikan akan memperoleh balasan (pahala) sepuluh hingga tujuh ratus kali
lipat, kecuali puasa. Karena puasa itu untuk-Ku, maka Akulah yang dapat
membalasnya”.
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ
أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ، يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى عَزَّ مِنْ
قَائِلٍ: إِنَّمَا يَذَرُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِيْ، فَالصَّوْمُ
لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam
genggaman tangan-Nya, sungguh bau tidak sedap mulut orang yang sedang berpuasa
lebih wangi di sisi Allah daripada aroma minyak misik. Allah Ta’ala berfirman :
“Sesungguhnya ia meninggalkan syahwatnya, makan dan minumnya karena Aku. Maka
puasa itu untukku dan Akulah yang akan membalasnya”.
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لِلْجَنَّةِ بَابٌ يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، لاَ
يَدْخُلُهُ إِلاَّ الصَّائِمُوْنَ
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda: “Di dalam Surga terdapat sebuah
pintu yang disebut Ar Rayyan. Pintu itu tidak akan dimasuki oleh siapa pun kecuali
orang-orang yang ahli berpuasa”.
فَهَذَا
الْقَدْرُ مِنْ شَرْحِ الطَّاعَاتِ يَكْفِيْكَ مِنْ بِدَايَةِ الْهِدَايَةِ، فَإِذَا
احْتَجْتَ إِلَى الزَّكَاةِ، وَالْحَجِّ، أَوْ إِلَى مَزِيْدٍ لِشَرْحِ الصَّلاَةِ
وَالصِّيَامِ، فَاطْلُبْهُ مِمَّا أَوْرَدْنَاهُ فِيْ كِتَابِنَا إِحْيَاءِ عُلُوْمِ
الدِّيْنِ
Inilah
penjelasan tentang ketaatan yang dapat kami sampaikan kepadamu dari kitab
Bidayatul Hidayah. Jika engkau membutuhkan penjelasan tentang zakat, haji, atau
ingin memperoleh penjelasan tambahan seputar shalat dan puasa, maka rujuklah
penjelasan yang telah kami sampaikan di dalam kitab kami Ihya ‘Ulumiddin.
(Kitab Bidayatul Hidayah – Al Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghazali
(Imam Al Ghazali), Bab Adab Puasa, Halaman 77, Penerbit Darul Kutub Al
Islamiyyah)
Website
: http://shulfialaydrus.blogspot.co.id/ atau
https://shulfialaydrus.wordpress.com/
Instagram
: @shulfialaydrus
Instagram
Majelis Nuurus Sa’aadah : @majlisnuurussaadah
Twitter
: @shulfialaydrus dan @shulfi   
Telegram
: @habibshulfialaydrus
Telegram
Majelis Nuurus Sa’aadah : @majlisnuurussaadah
Facebook
: https://www.facebook.com/habibshulfialaydrus/
Group
Facebook : Majelis Nuurus Sa’aadah atau
https://www.facebook.com/groups/160814570679672/
Donasi
atau infak atau sedekah.
Bank
BRI Cab. JKT Joglo.
Atas
Nama : Muhamad Shulfi.
No.Rek
: 0396-01-011361-50-5.
Penulis dan penterjemah : Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus, S.Kom.
محمد
سلفى بن أبو نوار العيدروس
Categories
Uncategorized

Sholat Istikhoroh.

Sholat Istikhoroh.
Sholat istikhoroh adalah sholat Sunnah yang
dikerjakan ketika seseorang sedang bimbang untuk keputusan yang akan diambil.
Tujuan dari sholat istikhoroh bertujuan untuk memohon petunjuk terbaik dari
Allah SWT, ketika kita harus memilih sesuatu termasuk petunjuk tentang jodoh
atau pekerjaan.
Sholat istikhoroh dianjurkan melaksanakannya
untuk segala urusan bersifat mubah seperti menikah, perdagangan, pilihan tempat
menimba ilmu, perjalanan (safar) dan sebagainya.
عَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله
عليه وسلم يُعَلِّمُنَا الاسْتِخَارَةَ فِي الأُمُورِ كُلِّهَا كَمَا يُعَلِّمُنَا
السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ يَقُولُ إذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ
فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ



Dari
Jabir ra., Rasulullah mengajarkan kami ber-istikhoroh dalam seluruh perkara
sebagaimana beliau mengajar kami surat Al-Quran. Beliau bersabda, “Apabila
kalian bermaksud sesuatu, maka shalatlah dua raka’at sunnah kemudian berdoalah…”
(HR. Bukhori)




Kapan Waktu Sholat Istikhoroh?
Sholat istikhoroh umumnya dilaksanakan pada
sepertiga malam, namun dapat pula sholat istikhoroh dilaksanakan pada waktu
kapanpun jika pelaksanaan shalat istikhoroh sudah dihadapkan dengan urusan yang
sudah mendesak, tetapi hendaknya tidak pada waktu yang di haramkan melakukan
sholat yaitu pada waktu sehabis sholat Subuh sampai matahari meninggi dan
sehabis Sholat Ashar sampai matahari tenggelam.
Bagaimana cara melaksanakan sholat istikhoroh?
Sholat Istikhoroh sama seperti shalat sunnah
lainnya, yakni dengan jumlah dua rakaat. Sebelum itu, hendaknya bersikap
senetral mungkin terhadap pilihan-pilihan yang ada. Kemudian, memantapkan hati
dengan kepasrahan sepenuhnya kepada kehendak Allah SWT.
Dan berikut niat Shalat Istikhoroh
أصلى سنة الإستخارة ركعتين لله تعالى
UShOLLII SUNNATAL ISTIKHOORO(TI/H) ROK’ATAINI
LILLAAHI TA”ALA.
Aku berniat shalat istikhoroh dua raka’at
karena Allah Ta’ala.
Pada rakaat pertama, setelah membaca surat Al
Fatihah dilanjutkan dengan membaca surat Al Kafirun, dan pada rakaat kedua
setelah membaca surat Al Fatihah, dilanjutkan dengan membaca surat Al Ikhlas.
Kemudian setelah selesai sholat Istikhoroh,
setelah salam dianjurkan untuk membaca doa berikut, yang dikutip dari
‘Nihayatuz Zain’ karya Syekh Nawawi Banten:
                                                                                              
اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ،
وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ،
فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ
الْغُيُوْبِ. اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ -وَيُسَمَّى
حَاجَتَهُ- خَيْرٌ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ
وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرُي وَعَاجِلِ أَمْري وَآجِلِهِ فَاقْدُرْهُ لِيْ
وَيَسِّرْهُ لِيْ ثُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا
اْلأَمْرَ شَرٌّ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أمري وعاجل وآجله
فَاصْرِفْهُ عَنِّيْ وَاصْرِفْنِيْ عَنْهُ وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ
ثُمَّ رَضِّنِيْ بِهِ
ALLAAHUMMA INNI ASTAKhIIRUKA BI’ILMIKA WA
ASTAQDIRUKA BIQUDROTIKA WA AS-ALUKA MIN FADhLIKAL ‘AZhIIMI, FA INNAKA TAQDIRU
WA LAA AQDIR(U), WA TA’LAMU WA LAA A’LAM(U), WA ANTA ‘ALLAAMUL GUYUUB, ALLAAHUMMA
IN KUNTA TA’LAMU ANNA HAADzAL AMRO (…..) KhOIRUL LII FII DIINII WAD DUNYAYA WA
MA’AASyI WA ‘AAQIBATI AMRII ‘AAJILI AMRI WA AJILIHI FAQDURHU LII WA YASSIRHU
LII TsUMMA BAARIK LII FIIHI, WA IN KUNTA TA’LAMU ANNA HAADzAL AMRO SyARRUN LII
FII DIINII WA MA’AASyII WA ‘AAQIBATI AMRII WA ‘AAJILIHI WA AJALIHI FAAShRIFHU
‘ANNII WASRIFNII ‘ANHU WAQDUR LIYAL KhOIRA HAITsU KAANA TsUMMA RODhINII BIHI..
Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan
yang tepat kepadaMu, dengan ilmu pengetahuanMu, dan aku mohon kekuasaanMu
(untuk mengatasi persoalanku) dengan keMaha KuasaanMu. Aku mohon kepadaMu
sesuatu dari anugerahMu Yang Maha Agung, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa, sedang
aku tidak kuasa, Engkau mengetahui, sedang aku tidak mengetahuinya, dan Engkau
adalah Maha Mengetahui hal yang ghaib. Ya Allah,
apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini (sebutkan masalah yang dihadapinya)
lebih baik dalam agamaku, kehidupanku, dan akibatnya terhadap diriku, takdirkan
ia untukku, mudahkan jalannya, dan berilah berkah. Sebaliknya, jika Engkau
mengetahui bahwa persoalan ini lebih berbahaya bagiku dalam agama, dunia,
kehidupan, dan akibatnya terhadap diriku baik seketika maupun suatu ketika
nanti, maka singkirkan persoalan itu, dan jauhkan aku darinya. Takdirkanlah
bagiku kebaikan di mana saja berada, dan berilah ridha-Mu untukku,” (Kitab
Nihayatuz Zain – Syeikh Nawawi Al Banteniy, Halaman 124, Penerbit Darul Kutub
Al Islamiyyah).




Website : http://shulfialaydrus.blogspot.co.id/ atau https://shulfialaydrus.wordpress.com/
Instagram : 
@shulfialaydrus
Instagram Majelis Nuurus Sa’aadah : @majlisnuurussaadah
Twitter : 
@shulfialaydrus dan @shulfi
Telegram : @habibshulfialaydrus
Telegram Majelis Nuurus Sa’aadah : @majlisnuurussaadah
Facebook : 
https://www.facebook.com/habibshulfialaydrus/
Group Facebook : Majelis Nuurus Sa’aadah atau 
https://www.facebook.com/groups/160814570679672/
Donasi atau infak atau sedekah.
Bank BRI Cab. JKT Joglo.
Atas Nama : Muhamad Shulfi.
No.Rek : 0396-01-011361-50-5.
Penulis dan pemberi ijazah : Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus,
S.Kom.
محمد سلفى بن أبو نوار العيدروس

Categories
Uncategorized

Menggapai Lailatul Qadar.

Menggapai
Lailatul Qadar.
إِنَّا
أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِوَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ
الْقَدْرِلَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍتَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ
وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍسَلامٌ هِيَ حَتَّى
مَطْلَعِ الْفَجْرِ
Allah
Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an pada
malam qadar (kemuliaan)). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam
kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun
malaikat-malaikat dan ruh dengan izin Tuhannya. Malam  itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit
fajar”. (QS. Al Qadr (97) : 1-5) 
إِنَّا
أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ
Allah
Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada
suatu malam  yang diberkahi”. (QS.
Ad Dukhaan (44) : 3)
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ قَالَ
حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ
الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Telah
menceritakan kepada kami Abu Al Yaman berkata, telah mengabarkan kepada kami
Syu’aib berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Al Zanad dari Al A’raj dari
Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa menegakkan lailatul qodar (dengan ibadah) karena iman dan
mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR.
Bukhori No.34, 36, 1875, 1768, Muslim No.1269, At Tirmidzi No.619 Abudaud
No.1165,  An Nasa’i No.2177)
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ
بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا أَبُو سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ
رَمَضَانَ
Telah
menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami
Isma’il bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Abu Suhail dari bapaknya dari
‘Aisyah radliallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda: “Carilah Lailatul Qadar pada malam yang ganjil dalam sepuluh
malam yang akhir dari Ramadhan”. (HR. Bukhori No.1878, 1880, Muslim
No.1989, 1990, 1991, 1998, At Tirmidzi No.722, Abudaud No.1173, 1175, Ibnumajah
No.1756,  Ahmad No.5275, 19879, 19896,
23306)
حَدَّثَنَا شُجَاعُ بْنُ الْوَلِيدِ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ
الَّذِي كَانَ يَكُونُ فِي بَنِي دَالَانَ يَزِيدُ الْوَاسِطِيُّ عَنْ طَلْقِ بْنِ
حَبِيبٍ عَنْ أَبِي عَقْرَبٍ الْأَسَدِيِّ قَالَ أَتَيْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ
مَسْعُودٍ فَوَجَدْتُهُ عَلَى إِنْجَازٍ لَهُ يَعْنِي سَطْحًا فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ
صَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ فَصَعِدْتُ إِلَيْهِ فَقُلْتُ يَا أَبَا عَبْدِ
الرَّحْمَنِ مَا لَكَ قُلْتَ صَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ صَدَقَ اللَّهُ
وَرَسُولُهُ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
نَبَّأَنَا أَنَّ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي النِّصْفِ مِنْ السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ
وَإِنَّ الشَّمْسَ تَطْلُعُ صَبِيحَتَهَا لَيْسَ لَهَا شُعَاعٌ قَالَ فَصَعِدْتُ
فَنَظَرْتُ إِلَيْهَا فَقُلْتُ صَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ صَدَقَ اللَّهُ
وَرَسُولُهُ
Telah
menceritakan kepada kami Syuja’ bin Al Walid telah menceritakan kepada kami Abu
Khalid yang dikenal di kalangan banu Dalan dengan Yazid Al Wasithi dari Thalq
bin Habib dari Abu ‘Aqrab Al Asadi ia berkata, “Aku menemui Ibnu Mas’ud
yang saat itu aku dapati ia berada di hasil buminya – tempat pengeringan
kurma-. Aku mm dia mengatakan, ‘Maha benar Allah dan Rasul-Nya’. Aku lalu naik
dan mendekat ke tempat ia berada, aku lalu tanyakan kepadanya, ‘Wahai Abu
‘Abdurrahman, ada apa? Engkau katakan ‘Maha benar Allah dan Rasul-Nya’? Ibnu
Mas’ud lalu menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah
mengabarkan kepada kita bahwa malam lailatul qadar pada pertengahan tujuh hari
terakhir, sebagai tandanya matahari akan muncul di pagi hari dengan tidak membawa
sinar.” Ibnu Mas’ud melanjutkan, “Aku lalu naik untuk melihat dan
melihatnya, lalu aku katakan, ‘Maha benar Allah dan Rasulk-Nya’.” (HR.
Ahmad No.4143)
حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ إِسْحَقَ
الْهَمْدَانِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ
عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُجَاوِرُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
وَيَقُولُ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ
رَمَضَانَ وَفِي الْبَاب عَنْ عُمَرَ وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ وَجَابِرِ بْنِ
سَمُرَةَ وَجَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ وَابْنِ عُمَرَ وَالْفَلَتَانِ بْنِ
عَاصِمٍ وَأَنَسٍ وَأَبِي سَعِيدٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُنَيْسٍ وَأَبِي
بَكْرَةَ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَبِلَالٍ وَعُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ أَبُو
عِيسَى حَدِيثُ عَائِشَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَوْلُهَا يُجَاوِرُ يَعْنِي
يَعْتَكِفُ وَأَكْثَرُ الرِّوَايَاتِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فِي كُلِّ
وِتْرٍ وَرُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي لَيْلَةِ
الْقَدْرِ أَنَّهَا لَيْلَةُ إِحْدَى وَعِشْرِينَ وَلَيْلَةُ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ
وَخَمْسٍ وَعِشْرِينَ وَسَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَتِسْعٍ وَعِشْرِينَ وَآخِرُ لَيْلَةٍ
مِنْ رَمَضَانَ قَالَ أَبُو عِيسَى قَالَ الشَّافِعِيُّ كَأَنَّ هَذَا عِنْدِي
وَاللَّهُ أَعْلَمُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ
يُجِيبُ عَلَى نَحْوِ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ يُقَالُ لَهُ نَلْتَمِسُهَا فِي
لَيْلَةِ كَذَا فَيَقُولُ الْتَمِسُوهَا فِي لَيْلَةِ كَذَا قَالَ الشَّافِعِيُّ
وَأَقْوَى الرِّوَايَاتِ عِنْدِي فِيهَا لَيْلَةُ إِحْدَى وَعِشْرِينَ قَالَ أَبُو
عِيسَى وَقَدْ رُوِيَ عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ أَنَّهُ كَانَ يَحْلِفُ أَنَّهَا
لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَيَقُولُ أَخْبَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَلَامَتِهَا فَعَدَدْنَا وَحَفِظْنَا وَرُوِيَ عَنْ
أَبِي قِلَابَةَ أَنَّهُ قَالَ لَيْلَةُ الْقَدْرِ تَنْتَقِلُ فِي الْعَشْرِ
الْأَوَاخِرِ حَدَّثَنَا بِذَلِكَ عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ
الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ أَيُوبَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ بِهَذَا
Telah
menceritakan kepada kami Harun bin Ishaq Al Hamdani telah menceritakan kepada
kami ‘Abdah bin Sulaiman dari Hisyam bin ‘Urwah dari Ayahnya dari ‘Aisyah
berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa ber’itikaf
pada sepuluh hari terakhir Ramadlan dan beliau bersabda: ‘Raihlah malam
lailatul Qodar pada sepuluh hari terakhir’.” Hadits semakna diriwayatkan
dari Umar, Ubay bin Ka’ab, Jabir bin Samurah, Jabir bin Abdullah, Ibnu Umar, Al
Falatan bin ‘Ashim, Anas, Abu Sa’id, Abdullah bin Unais, Abu Bakrah, Ibnu
Abbas, Bilal, dan Ubadah bin Shamit. Abu ‘Isa berkata; “Hadits ‘Aisyah
merupakan hadits hasan shahih, dan arti dari perkataan berliau
“yujawiru” yaitu ber’itikaf. Kebanyakan riwayat dari Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam dalam hal memakai lafazh: “Raihlah Lailatul Qodar pada
sepuluh malam terakhir di malam yang ganjil”. Diriwayatkan juga dari Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa lailatul qodar diraih pada malam dua puluh
satu, dua puluh tiga, dua puluh lima, dua puluh tujuh dan dua puluh sembilan
serta malam terakhir bulan Ramadlan. Abu ‘Isa berkata; “Syafi’i berkata;
‘Itu hanya pendapatku. Allah lebih tahu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
menjawab pertanyaan kami seperti yang sebelumnya. Beliau akan menjawab
sebagaimana yang pertama. Ditanyakan kepada beliau, yang bisa mencarinya pada
malam yang demikian”. Lalu beliau kabarkan: “Carilah pada malam yang
sekian…”. Syafi’i berkata; riwayat yang paling kuat menurutku ialah
riwayat malam ke dua puluh satu.” Abu ‘Isa berkata; “Diriwayatkan
juga dari Ubay bin Ka’ab. Dia bersumpah bahwa lailatul Qodar diraih pada malam
ke dua puluh tujuh. Dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
mengabari kami tanda-tandanya lalu kami hapalkan.” Diriwayatkan dari Abu
Qilabah bahwa beliau berkata; “Malam lailatul qodar itu berpindah-pindah
pada sepuluh hari terakhir.” Telah menceritakan kepadaku Abdu bin Humaid
telah mengabarkan kepada kami Abdurrazzaq dari Ma’mar dari Ayyub dari Abu
Qilabah. (HR. At Tirmidzi No.722)
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي
ابْنُ وَهْبٍ عَنْ يُونُسَ أَنَّ نَافِعًا أَخْبَرَهُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ
Telah
menceritakan kepada kami Isma’il bin ‘Abdullah berkata, telah menceritakan
kepada saya Ibnu Wahab dari Yunus bahwa Nafi’ mengabarkannya dari ‘Abdullah bin
‘Umar radliallahu ‘anhua berkata: ” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan”. (HR. Bukhori
No.1885, Muslim No.2005, At Tirmidzi No.720, Ibnumajah No.1763, Abudaud
No.2106, 2109, Ahmad No.5896)
وعنْ
عائِشَةَ رَضِيَ اللَّه عنْهَا ، قَالَتْ : كَانَ رسُول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ
وسَلَّم : إِذا دَخَلَ العَشْرُ الأَوَاخِرُ مِنْ رمَضَانَ ، أَحْيا اللَّيْلَ ،
وَأَيْقَظَ أَهْلَه ، وجَدَّ وَشَدَّ المِئزرَ. 
متفقٌ عليه
Dari
‘Aisyah ra., ia berkata:”Rasulullah Saww. apabila telah masuk pada sepuluh
malam terakhir dari bulan Ramadhan, beliau selalu beribadah pada waktu malam
serta membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh ibadah dan mengikatkan
sarungnya (tidak bersetubuh dengan istrinya)”. (HR.Bukhari dan Muslim)
وعنْ
عائِشَةَ رَضِيَ اللَّه عنْهَا ، قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ
عَلَيْهِ وسَلَّم يَجْتَهِدُ فِي رَمضانَ مَالا يَجْتَهِدُ في غَيْرِهِ ، وفي
العَشْرِ الأَوَاخِرِ منْه ، مَالا يَجْتَهدُ في غَيْرِهِ.  رواهُ مسلمٌ
Dari
Aisyah radhiallahu ‘anha pula, berkata: “Rasulullah saww. sangat
bersungguh-sungguh dalam beribadah pada bulan Ramadhan, tidak seperti pada
bulan-bulan yang lain, dan pada malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan beliau
saww. semakin bersungguh-sungguh dalam beribadah tidak seperti pada malam-malam
yang lain (dihari Ramadhan).” (Riwayat Muslim)
Kapankah
atau tepatnya Malam Qadar (Lailatul Qadar) itu ?
Menurut
pendapat yang masyhur tentang malam Al-qadar dengan mengutip keterangan dari
Ubay bin Ka’ab dan Ibnu Abbas dan kebanyakan pendapat ulama’, adalah jatuh pada
malam yang keduapuluh tujuh, dengan mengambil dalil dari sabda Nabi
Saww.:”Iltamisuu lailatal qadri fii sab-in wa isyriina khalat min syahri
ramadhaana. “Carilah malam Al-Qadar pada malam keduapuluh tujuh yang telah
berlalu  dari bulan Ramadhan”. Yaitu
malam yang pada waktu pagi cuacanya sangat cerah, dan yang dengan cuaca itu
Allah telah menjayakan agama Islam dan menurunkan Malaikat untuk memberikan
pertolongan kepada Kaum Muslimin.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مِهْرَانَ
الرَّازِيُّ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ
حَدَّثَنِي عَبْدَةُ عَنْ زِرٍّ قَالَ سَمِعْتُ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ يَقُولُا
وَقِيلَ لَهُ إِنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُا مَنْ قَامَ السَّنَةَ
أَصَابَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَقَالَ أُبَيٌّ وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا
هُوَ إِنَّهَا لَفِي رَمَضَانَ يَحْلِفُ مَا يَسْتَثْنِي وَ وَاللَّهِ إِنِّي
لَأَعْلَمُ أَيُّ لَيْلَةٍ هِيَ هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ
سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِي صَبِيحَةِ
يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لَا شُعَاعَ لَهَا
Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Mihran Ar Razi telah menceritakan kepada
kami Al Walid bin Muslim Telah menceritakan kepada kami Al Auza’i telah
menceritakan kepadaku Abdah dari Zirr ia berkata, saya mendengar Ubay bin Ka’ab
berkata, dan telah dikatakan kepadanya bahwa Abdullah bin Mas’ud berkata,
“Siapa yang melakukan shalat malam sepanjang tahun, niscaya ia akan
menemui malam Lailatul Qadr.” Ubay berkata, “Demi Allah yang tidak
ada ilah yang berhak disembah selain Allah, sesungguhnya malam itu terdapat
dalam bulan Ramadlan. Dan demi Allah, sesungguhnya aku tahu malam apakah itu.
Lailatul Qadr itu adalah malam, dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
memerintahkan kami untuk menegakkan shalat di dalamnya, malam itu adalah malam
yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadlan). Dan
tanda-tandanya ialah, pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa
sinar yang menyorot.” (HR. Muslim No.1272)
و حَدَّثَنِي عَمْرٌو النَّاقِدُ
وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالَ زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ
الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ رَأَى رَجُلٌ
أَنَّ لَيْلَةَ الْقَدْرِ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَى رُؤْيَاكُمْ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ
فَاطْلُبُوهَا فِي الْوِتْرِ مِنْهَا
Dan
telah menceritakan kepadaku Amru An Naqid dan Zuhair bin Harb – Zuhair berkata-
Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Az Zuhri dari Salim dari
bapaknya radliallahu ‘anhu, ia berkata; Seorang bermimpi bahwa Lailatul Qadr
terdapat pada malam kedua puluh tujuh bulan Ramadlan. Maka Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda: “Aku bermimpi seperti mimipimu, yaitu pada
sepuluh malam yang akhir. Karena itu, carilah ia pada malam-malam yang
ganjil.” (HR. Muslim No.1987, 1999, 2000)
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ حَدَّثَنَا أَبِي
أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ أَنَّهُ سَمِعَ مُطَرِّفًا عَنْ مُعَاوِيَةَ
بْنِ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي
لَيْلَةِ الْقَدْرِ قَالَ لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ
Telah
menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin Mu’adz telah menceritakan kepada kami
ayahku telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Qatadah bahwa dia mendengar
Muttharif dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
mengenai lailatul qadr, beliau bersabda: “Lailatul qadr adalah malam ke
dua puluh tujuh.” (HR.Abudaud No.1178, Ahmad No.6185)
حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ
حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدَةَ بْنِ أَبِي لُبَابَةَ وَعَاصِمٍ هُوَ ابْنُ
بَهْدَلَةَ سَمِعَا زِرَّ بْنَ حُبَيْشٍ وَزِرُّ بْنُ حُبَيْشٍ يُكْنَى أَبَا
مَرْيَمَ يَقُولُ قُلْتُ لِأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ إِنَّ أَخَاكَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ
مَسْعُودٍ يَقُولُ مَنْ يَقُمْ الْحَوْلَ يُصِبْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَقَالَ
يَغْفِرُ اللَّهُ لِأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ لَقَدْ عَلِمَ أَنَّهَا فِي
الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ وَأَنَّهَا لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ
وَلَكِنَّهُ أَرَادَ أَنْ لَا يَتَّكِلَ النَّاسُ ثُمَّ حَلَفَ لَا يَسْتَثْنِي
أَنَّهَا لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ قَالَ قُلْتُ لَهُ بِأَيِّ شَيْءٍ تَقُولُ
ذَلِكَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ قَالَ بِالْآيَةِ الَّتِي أَخْبَرَنَا رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ بِالْعَلَامَةِ أَنَّ الشَّمْسَ
تَطْلُعُ يَوْمَئِذٍ لَا شُعَاعَ لَهَا قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ
صَحِيحٌ
Telah
menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar telah menceritakan kepada kami Sufyan
dari Abdah bin Abu Lubabah serta ‘Ashim yaitu Ibnu Bahdalah mereka telah
mendengar Zirrb Hubaisy yang diberi kunya Abu Maryam, ia berkata; saya berkata
kepada Ubai bin Ka’ab saudaramu yaitu Abdullah bin Mas’ud berkata; barang siapa
yang melakukan shalat satu tahun maka ia mendapatkan lailatul qadar. Kemudian
Ubai berkata; semoga Allah merahmati Abu Abdur Rahman; sungguh ia telah
mengetahui bahwa lailatul qadar itu ada pada sepuluh malam terakhir bulan
Ramadhan, yaitu malam ke tujuh puluh dua, akan tetapi ia ingin agar orang-orang
tidak berbergantung kepadanya. Kemudian ia bersumpah dan tidak mengucapkan
insya Allah, bahwa malam tersebut adalah malam kedua puluh tujuh. Zirr berkata;
aku katakan kepadanya; berdasarkan apakah engkau mengatakan hal tersebut wahai
Abu Al Mundzir? Ia berkata; dengan tanda yang telah dikabarkan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam atau dengan tanda bahwa matahari terbit pada hari
itu tidak memiliki sinar. Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits hasan
shahih. (HR.At Tirmidzi No.3274)
Keterangan
diatas dikuatkan lagi oleh sebuah riwayat yang menceritakan bahwa Utsman bin
Al-‘Ash mempunyai pembantu kecil yang berkata padanya:”Wahai tuan,
sesungguhnya aku mendapatkan air laut rasanya tawar pada suatu malam
Ramadhan”. Utsman bin Al-‘Ash berkata:”Apabila hal itu terjadi lagi
di suatu malam, maka hendaklah kamu memberitahukan kepadaku”. Lalu dia
memberitahukan  kepadanya, ternyata malam
itu adalah malam keduapuluh tujuh dari bulan Ramadhan.
Keterangan
diatas masih dikuatkan lagi oleh penganalisaan sebagian ulama’, yakni bahwa
jumlah kalimat yang ada pada surat Al-Qadar adalah tigapuluh kalimat, sejumlah
hari pada bulan Ramadhan. Demikian pula lafazh hiya (malam itu) dari kalimat
salamun hiya, merupakan bagian kesempurnaan ayat yang keduapuluh tujuh. Dan
kalimat yang menunjukkan malam Al-Qadar, pembacaannya adalah dengan diucapkan
sekaligus, sekalipun kalimat-kalimat dalam surat Al-Qadar itu mengandung banyak
kalimat seperti anzalnahu. Menurut analisa yang lain disebutkan, bahwa huruf
yang menunjukkan nama lailatu’l Qadr ada sembilan huruf yaitu: Lam, Ya, Lam,
Ta, Hamzah (Alif), Lam, Qaf, Dal, dan Ra. Dan Kalimat Lailatu’l-Qadri dalam
surat Al-Qadar diulang sampai tiga kali, jadi 9×3=27.
Menurut
pendapat lain yang dikutip dari keterangan sebagian ahli kasyaf menjelaskan,
bahwa malam Al-Qadar itu jatuh pada hari yang bertepatan dengan awal bulan
Ramadhan (pada sepuluh terakhir), Hanya saja, pendapat ini tidak dilandasi dengan
pegangan apapun, sehingga dimungkinkan pendapat itu tidak terarah.
Menurut
analisa Syaikh Ahmad Zaruq dan lainnya dijelaskan, bahwasanya malam Al Qadar
itu tidak terlepas dari malam Jum’at pada tanggal-tanggal yang gasal/ganjil
dari malam-malam yang akhir bulan Ramadhan. Analisa seperti ini juga dikutip
dari keterangan Ibnu’l-‘Arabi.
Didalam
kitab tafsir Imam Al-Khatib dikemukakan suatu ketentuan tentang malam Al Qadar,
dengan mengutip penjelasan dari Syaikh Abu’l Hasan Asy-Syadzali, Bahwasanya:
1.
Jika awal Ramadhan pada hari Ahad, maka malam Al-Qadar jatuh pada tanggal
duapuluh sembilan.
2.
Jika awal Ramadhan pada hari Senin, maka malam Al-Qadar jatuh pada tanggal
duapuluh Satu. kemudian perhitungan seterusnya dilakukan dengan naik dan turun
menurut harinya.
3.
Jika awal Ramadhan pada hari Selasa, maka malam Al-Qadar jatuh pada tanggal
duapuluh tujuh.
4.
Jika awal Ramadhan pada hari Rabu, maka malam Al-Qadar jatuh pada tanggal
sembilanbelas.
5.
Jika awal Ramadhan pada hari Kamis, maka malam Al-Qadar jatuh pada tanggal
duapuluh lima.
6.
Jika awal Ramadhan pada hari Jum’at, maka malam Al-Qadar jatuh pada tanggal
tujuhbelas.
7.
Jika awal Ramadhan pada hari Sabtu, maka malam Al-Qadar jatuh pada tanggal
duapuluh tiga. (di dalam Kitab At-Tuhfa Al-Mardhiyyah)
Amalan/doa/dzikir agar mendapatkan Lailatul
Qadar.
لا إله إﻻ الله الحليم الكريم سبحان رب السموات
السبع و رب العرش العظيم
LAA ILAAHA ILLALLAAHUL HALIIMUL KARIIM,
SUBHAANA RABBIS SAMAAWAATIS SAB’I WA RABBIL ‘ARSYIL ‘AZHIIM.
Artinya : Tidak ada Tuhan yang berhak
disembah melainkan Allah Yang Maha Penyantun lagi Maha Mulia, Maha Suci Tuhan
tujuh lapis langit dan Tuhan Arsy yang agung.
Di dalam kitab Kanz An Najah Wa As Surur
karya Asy Syaikh Abdul Hamid Kudus, disebutkan, Ibnu Abbas meriwayatkan sebuah
hadits yang mengatakan, “Barangsiapa mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAAHUL
HALIIMUL KARIIM, SUBHAANA RABBIS SAMAAWAATIS SAB’I WA RABBIL ‘ARSYIL ‘AZHIIM
sebayak tiga kali, ia seperti orang yang mendapatkan Lailatul Qadar.” Maksudnya,
barangsiapa mengucapkan kalimat tersebut pada malam yang diduganya Lailatul
Qadar padahal malam itu bukan Lailatul Qadar dan ia melakukan amal shalih pada
malam itu maka nilai amalnya sama seperti bila dilakukan pada Lailatul Qadar.
(Kitab Kanz An Najah Wa As Surur
Asy Syaikh Abdul Hamid Kudus, Hal : 250).
Ijazah
dari Habib Muhammad bin Abdullah Bilfaqih Malang.
من
قرأ يا حي يا قيوم مائة مرة فى شهر رمضان أدرك ليلة القدر
Barangsiapa
yang membaca YAA HAYYU YAA QOYYUUM sebanyak 100 kali setiap hari pada bulan
Ramadhan niscaya ia akan mendapatkan Lailatul Qodri.
Al Habib Salim bin Abdullah Asy Syatiri
berkata :
Barangsiapa membaca do’a dibawah ini sebanyak
7 kali setelah sholat witir, insya Allah ia akan mendapatkan Lailatul Qodar.
اللهم اطلع علينا ليلة القدر العظيمة القدر في
اليقظة والمنام
ALLAHUMMA AThLI’ ‘ALAINAA LAILATAL QODRIL
‘AZhIIMATAL QODRI  FIL YAQOZhOTI WAL
MANAAM(I).
Ya Allah, Tampakkanlah/beritahulah kepada
kami malam Lailatul Qodri di dalam keadaan terjaga (tidak tidur) dan di dalam
keadaan tidur (mimpi).
Apa
yang harus kita lakukan pada malam Qadar (Laitul Qadar) itu ?
Kita
memperbanyak shalat, berdoa, memperbanyak memohon ampun (istigfar) kepada
Allah, dzikir atau shalawat kepada Nabi Muhammad Saww. pada malam tersebut.
وعنْ
عائِشَةَ رَضِيَ اللَّه عنْهَا ، قَالَتْ : قُلْتُ : يا رَسُولَ اللَّهِ
أَرَأَيْتَ إِن عَلِمْتُ أَيَّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ القَدْرِ ما أَقُولُ فيها ؟
قَالَ : قُولي : اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العفْوَ فاعْفُ عنِّي  رواهُ التِرْمذيُّ وقال : حديثٌ حسنٌ صحيحٌ
Dari
Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Saya berkata: “Ya Rasulullah,
bagaimanakah pendapatmu, seandainya saya mengetahui pada malam itu adalah
lailatul-qadri, apakah yang harus saya baca/ucapkan pada malam itu?”
Beliau s.a.w. menjawab: “Ucapkanah/bacalah: ALLAAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN
TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU ‘ANNII (Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Maha
Pengampun, gemar memberikan pengampunan, maka ampuniiah saya). “ (HR. At
Termidzi No.3435 dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih, Ibnumajah
No.3840, Ahmad No.24215).
Dikutip
dari:
* Al
Qur’an.
*
Hadis 9 Imam (Kutubu Tis’ah).
*
Riyadhus Shalihin – Imam An-Nawawi.
*
Durratun Nasihin – Usman Alkhaibawi.
*
At-Tuhfa Al-Mardhiyyah fil Akhbaril Qudsiyyah wal Ahadits Nabawiyyah – Asy-Syaikh
Abdul Majid Al-‘Adawiy.
Website :
http://shulfialaydrus.blogspot.co.id/ atau
https://shulfialaydrus.wordpress.com/
Instagram :
@shulfialaydrus
Instagram Majelis
Nuurus Sa’aadah : @majlisnuurussaadah
Twitter :
@shulfialaydrus dan @shulfi   
Telegram :
@habibshulfialaydrus
Telegram Majelis Nuurus
Sa’aadah : @majlisnuurussaadah
Facebook :
https://www.facebook.com/habibshulfialaydrus/
Group Facebook :
Majelis Nuurus Sa’aadah atau https://www.facebook.com/groups/160814570679672/
Donasi atau infak atau
sedekah.
Bank BRI Cab. JKT
Joglo.
Atas Nama : Muhamad
Shulfi.
No.Rek :
0396-01-011361-50-5.
Penulis dan pemberi ijazah : Muhammad Shulfi
bin Abunawar Al ‘Aydrus, S.Kom.

محمد سلفى بن أبو نوار العيدروس

Categories
Uncategorized

Hal-hal yang dapat menolak bala’ dan bencana.

Hal-hal
yang dapat menolak bala’ dan bencana.
1.
Bertakwa kepada Allah.
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
Dan barang siapa yang
bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam
urusannya. (QS. Ath Thalaaq (65) : 4 )
2. Keberadaan
Rasulullah SAW.
Kehadiran
atau adanya Rasulullah pada jaman dahulu tidak Allah turunkan bala’ atasnya sebagaimana
diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra. saat menafsirkan Firman Allah
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ
اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu
berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang
mereka meminta ampun. (QS. Al Anfaal (8) : 33).
Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu
‘anhu 
ketika menafsirkan ayat di atas :
كان فيهم أمانان النبي صلى الله عليه وسلم والاستغفار فذهب النبي
صلى الله عليه وسلم وبقي الاستغفار
Dulu para sahabat
mempunyai dua penolak bala’, yaitu keberadaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi
wa Sallam
 dan istighfar, maka  ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa Sallam
 meninggal dunia, penolak bala’ itu tinggal satu,
yaitu istihgfar.
3. Bertaubat
dan Mempebanyak Istighfar.
Memperbanyak
Istighfar dapat menghalau atau dapat menolak bala’.
Allah
berfirman :
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ
اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu
berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang
mereka meminta ampun. (QS. Al Anfaal (8) : 33).
حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ عَمْرٍو
حَدَّثَنَا رِشْدِينُ قَالَ حَدَّثَنِي مُعَاوِيَةُ بْنُ سَعِيدٍ التُّجِيبِيُّ
عَمَّنْ حَدَّثَهُ عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ الْعَبْدُ آمِنٌ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ عَزَّ
وَجَلَّ مَا اسْتَغْفَرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ
Telah
menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin ‘Amru Telah menceritakan kepada kami
Risydin telah menceritakan kepadaku Mu’awiyah bin Sa’id At Tujini dari orang
yang bercerita kepadanya dari Fadlalah bin ‘Ubaid dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi
Wasalam bersabda: “Hamba akan senantiasa terhindar dari adzab Allah ‘azza
wajalla selama ia beristighfar kepada Allah ‘azza wajalla.” (HR. Ahmad
No.22828)
Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu berkata
:
ما أَلْهَم اللهُ سبحانه وتعالى عبدًا الاستغفارَ، وهو يريد أن
يُعذِّبَه
Allah
Subhanahu wa Ta’ala tidak mengilhamkan istighfar kepada seorang hamba sementara
Dia ingin mengadzabnya.
Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu berkata
:

مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ
بِتَوْبَةٍ
Tidaklah musibah
tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah
tersebut hilang melainkan dengan taubat. (Al Jawabul Kaafi,
hal. 87).
4. Sedekah.
وقال صلى الله عليه وسلم: الصَّدَقَةُ تَرُدُّ
البَلاَء وَتُطَوِّلُ العُمْرَ
Nabi
Muhammad saww. bersabda : “Sedekah itu menolak bala’ dan memanjangkan umur.”.
(Di dalam kitab Lubabul Hadits – Imam As Suyuthiy dan
Tanqihul Qaul – Syeikh Nawawi Al Banteniy)
     وقال صلى الله عليه وسلم: الصَّدَقَةُ
تَسُدُّ سَبْعِيْنَ بَابًا مِنَ السُّوء
Nabi Muhammad saww. bersabda : “Sedekah itu dapat menutup
tujuhpuluh pintu kejelekan.”.
(Di dalam kitab Lubabul Hadits – Imam As Suyuthiy dan Tanqihul Qaul – Syeikh Nawawi Al
Banteniy)
5.
Sholawat.
Memperbanyak
membaca sholawat dapat menolah bala’ dan bencana, salah satunya memperbanyak membaca
sholawat berikut ini.
اَللّٰهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰی سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰی اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
صَلَاةً تَدْفَعُ بِهَا عَنَّا الْبَلَآءَ وَالْوَبَآءَ وَالْغَلَآءَ وَالطَّعْنَ
وَالطَّاعُوْنَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ
وَالشَّدَآئِدَ وَالْمِحَنَ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا
خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً اِنَّكَ عَلَى كُلِّى شَيْئٍ
قَدِيْرٌ
ALLAHUMMA ShOLLI WA
SALLIM ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMADIN ShOLATAN
TADFA’U BIHAA ‘ANNAAL BALAA-A WAL WABAA-A WAL GhOLAA-A WATh ThO’NA WATh
ThOO’UUNA WAL FAHSyAA-A WAL MUNKARO WAS SUYUUFAL MUKhTALIFA(TA/H) WASy
SyADAA-IDA WAL MIHANA, MAA ZhOHARO MINHA WA MAA BAThONA, MIN BALADINAA HADzAA
KhOOShShO(TAN/H), WA MIN BULDAANIL MUSLIMIINA ‘AAMMA(TAN/H), INNAKA ‘ALAA KULLI
SyAI-IN QODIIR(UN).
Ya Allah, berilah
sholawat (rahmat) dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad,
yang dengan sholawat Engkau hindari (tolak, angkat) dari kami musibah (cobaan),
penyakit-penyakit, kekurangan pangan, fitnah, penyakit menular, kekejian,
kemunkaran, ancaman-ancaman yang beraneka ragam, paceklik-paceklik dan segala
ujian, yang lahir maupun batin, dari negeri kami ini pada khususnya, dan dari
seluruh negeri kaum muslimin pada umumnya, sesungguhnya Engkau berkuasa atas
segala sesuatu. (Habib Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus)
6.
Doa.
Doa adalah senjata
terbaik bagi seorang mukmin dalam menghadapi kondisi sulit, bencana, bala’, dan
lain-lain, karena itu Rasulullah
memerintahkan dalam haditsnya.
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
– رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ،
قَالَ : (( تَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنْ جَهْدِ البَلاَءِ ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ ،
وَسُوءِ القَضَاءِ ، وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاء )) متفق عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةٍ
قَالَ سُفْيَانُ : أَشُكُّ أَنِّي زِدْتُ وَاحِدَةً مِنْهَا
.
Dari Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi 
bersabda, “Mintalah perlindungan kepada Allah dari beratnya cobaan,
kesengsaraan yang hebat, takdir yang jelek, dan kegembiraan musuh atas
kekalahan
.” (HR. Al Bukhari No.6347 dan Muslim No.2707)
وعن
النبي صلى اللَّه عليه وسلم أنه قال
:
حصنوا أموالكم بالزكاة، وداووا مرضاكم بالصدقة واستقبلوا أنواع البلاء بالدعاء
Nabi
Muhammad saww. bersabda : “Jagalah harta kekayaanmu dengan mengeluarkan zakat
dan obatilah orang-orang sakit dengan bersedekah dan hadapilah berbagai maca
bala’ itu dengan do’a (berdo’a).”. (Didalam kitab Tanbihul Ghafilin – Imam Abu
Laits As Samarqondi)

اللهم يا كافي البلاء اكفنا البلاء قبل نزوله من السماء.
( يا الله) تكررها سبعا
ALLAHUMMA YAA KAFIYAL BALA’ IKFINAL BALA’ QOBLA NUZUULIHI MINAS
SAMAA’I, YAA ALLAH YAA ALLAH YAA ALLAH YAA ALLAH YAA ALLAH YAA ALLAH YAA ALLAH.
Ya Allah, wahai Dzat Yang Maha Kuasa untuk menyelamatkan
hamba-Nya dari segala bala’ bencana, selamatkanlah kami dari bala bencana yg
akan menimpa kami sebelum bala’ bencana itu turun dari langit, Ya Allah (7x).
Website : http://shulfialaydrus.blogspot.co.id/ atau https://shulfialaydrus.wordpress.com/
Instagram :
@shulfialaydrus
Instagram Majelis Nuurus
Sa’aadah : @majlisnuurussaadah
Twitter :
@shulfialaydrus dan @shulfi
Telegram : @habibshulfialaydrus
Telegram Majelis Nuurus
Sa’aadah : @majlisnuurussaadah
Facebook : https://www.facebook.com/habibshulfialaydrus/
Group Facebook : Majelis
Nuurus Sa’aadah atau 
https://www.facebook.com/groups/160814570679672/
Donasi atau infak atau
sedekah.
Bank BRI Cab. JKT Joglo.
Atas Nama : Muhamad
Shulfi.
No.Rek :
0396-01-011361-50-5.
Penulis dan pemberi
ijazah : Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus, S.Kom.
محمد سلفى بن أبو
نوار العيدروس

Categories
Uncategorized

Nadzar.

Nadzar. 



Nadzar
secara bahasa adalah janji secara mutlak baik berupa perbuatan baik atau buruk.
Sedangkan menurut syara’ adalah mewajibkan diri untuk melaksanakan
suatu qurbah (ibadah) yang bukan fardhu ‘ain dengan sighat tertentu. Nadzar
hanya berlaku pada ibadah sunnah (seperti shalat/puasa sunnah) atau fardhu
kifayah (seperti shalat jenazah, jihad fi sabilillah, dll), sehingga tidak sah Nadzar
pada ibadah fardhu ‘ain (seperti shalat 5 waktu, puasa ramadhan, dll) atau
yang bukan ibadah, baik pekerjaan mubah (seperti makan, tidur,dll), makruh
(seperti puasa dahr bagi orang yang khawatir sakit) ataupun haram
(seperti minum khomr, berjudi, dll).
Dalil
yang Menunjukkan Terlarangnya Memulai Bernadzar.
Dari
Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,
نَهَى
النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – عَنِ النَّذْرِ قَالَ « إِنَّهُ لاَ يَرُدُّ
شَيْئًا ، وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيلِ »
“Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk bernadzar, beliau bersabda: ‘Nadzar
sama sekali tidak bisa menolak sesuatu. Nadzar hanyalah dikeluarkan dari orang
yang bakhil (pelit)’.” (HR. Bukhari no. 6693 dan Muslim no. 1639)
Dari
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ
تَنْذُرُوا فَإِنَّ النَّذْرَ لاَ يُغْنِى مِنَ الْقَدَرِ شَيْئًا وَإِنَّمَا
يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيلِ
“Janganlah
bernadzar. Karena Nadzar tidaklah bisa menolak takdir sedikit pun. Nadzar
hanyalah dikeluarkan dari orang yang pelit.” (HR. Muslim no. 1640)
Juga
dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ
النَّذْرَ لاَ يُقَرِّبُ مِنِ ابْنِ آدَمَ شَيْئًا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ قَدَّرَهُ
لَهُ وَلَكِنِ النَّذْرُ يُوَافِقُ الْقَدَرَ فَيُخْرَجُ بِذَلِكَ مِنَ الْبَخِيلِ
مَا لَمْ يَكُنِ الْبَخِيلُ يُرِيدُ أَنْ يُخْرِجَ
“Sungguh
Nadzar tidaklah membuat dekat pada seseorang apa yang tidak Allah
takdirkan. Hasil Nadzar itulah yang Allah takdirkan. Nadzar hanyalah
dikeluarkan oleh orang yang pelit. Orang yang bernadzar tersebut mengeluarkan
harta yang sebenarnya tidak ia inginkan untuk dikeluarkan. ” (HR. Bukhari
no. 6694 dan Muslim no. 1640)
Hadits-hadits
di atas menunjukkan bahwa Nadzar itu terlarang. Demikianlah pendapat jumhur
(mayoritas ulama) yang memakruhkan bernadzar. Akan tetapi, jika terlanjur
mengucapkan Nadzar, maka Nadzar tersebut tetap wajib ditunaikan.
Dalil
yang Menunjukkan Wajibnya Menunaikan Nadzar.
Allah Ta’ala berfirman,
ثُمَّ
لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ
“Kemudian,
hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah
mereka menyempurnakan Nadzar-Nadzar mereka.” (QS. Al Hajj: 29)
Allah Ta’ala juga
berfirman,
وَمَا
أَنْفَقْتُمْ مِنْ نَفَقَةٍ أَوْ نَذَرْتُمْ مِنْ نَذْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ
يَعْلَمُهُ
“Apa
saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu Nadzarkan, maka sesungguhnya
Allah mengetahuinya.” (QS. Al Baqarah: 270)
Allah Ta’ala memuji
orang-orang yang menunaikan Nadzarnya,
إِنَّ
الأبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا (٥)عَيْنًا
يَشْرَبُ بِهَا عِبَادُ اللَّهِ يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا (٦)يُوفُونَ
بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا (٧)
“Sesungguhnya
orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang
campurannya adalah air kafur, (yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya
hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan
sebaik-baiknya. Mereka menunaikan Nadzar dan takut akan suatu hari yang azabnya
merata di mana-mana.” (QS. Al Insan: 5-7)
Dari
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
beliau bersabda,
مَنْ
نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ ، وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ
يَعْصِهِ
“Barangsiapa
yang bernadzar untuk taat pada Allah, maka penuhilah Nadzar tersebut.
Barangsiapa yang bernadzar untuk bermaksiat pada Allah, maka janganlah
memaksiati-Nya. ” (HR. Bukhari no. 6696)
Dari
‘Imron bin Hushoin radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam, beliau bersabda,
خَيْرُكُمْ
قَرْنِى ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ – قَالَ
عِمْرَانُ لاَ أَدْرِى ذَكَرَ ثِنْتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا بَعْدَ قَرْنِهِ – ثُمَّ
يَجِىءُ قَوْمٌ يَنْذُرُونَ وَلاَ يَفُونَ ، …
“Sebaik-baik
kalian adalah orang-orang yang berada di generasiku, kemudian orang-orang
setelahnya dan orang-orang setelahnya lagi. -‘Imron berkata, ‘Aku tidak
mengetahui penyebutan generasi setelahnya itu sampai dua atau tiga kali’-.
Kemudian datanglah suatu kaum yang bernadzar lalu mereka tidak menunaikannya,
…. ” (HR. Bukhari no. 2651).
Hadits
ini menunjukkan berdosanya orang yang tidak menunaikan Nadzar.
Dari
ayat dan hadits di atas, kebanyakan ulama Malikiyah dan sebagian ulama
Syafi’iyah –seperti Imam Nawawi dan Al Ghozali- berpendapat bahwa hukum Nadzar
adalah sunnah.
Kompromi
Pendapat.
Jika
kita melihat dua pendapat di atas, yang satu mengatakan makruh dan yang lainnya
sunnah. Pendapat jumhur (mayoritas ulama) juga ada sedikit problema. Padahal
kita ketahui bersama ada kaedah, wasilah (perantara) kepada ketaatan, maka
bernilai ketaatan dan wasilah pada maksiat, maka bernilai maksiat. Lalu kenapa
berniat Nadzar bisa jadi makruh, padahal penunaiannya wajib?!
Cara
kompromi yang lebih baik sehingga tidak muncul problema seperti di atas adalah
kita katakan bahwa Nadzar itu ada dua macam:
Pertama,
Nadzar mu’allaq untuk memperoleh manfaat. Maksud Nadzar ini adalah
dengan bersyarat, yaitu jika permintaannya terkabul, barulah ia akan melakukan
ketaatan. Contohnya, seseorang yang bernadzar, “Jika Allah menyembuhkan saya
dari penyakit ini, maka saya akan bersedekah sebesar Rp.2.000.000.”
Kedua,
Nadzar muthlaq, artinya tidak menyebutkan syarat. Contohnya, seseorang
yang bernadzar, “Aku ikhlas pada Allah mewajibkan diriku bersedekah untuk
masjid sebesar Rp.2.000.000”.
Kita
katakan bahwa hadits-hadits yang menjelaskan larangan untuk bernadzar
dimaksudkan untuk Nadzar macam yang pertama. Karena Nadzar macam pertama
sebenarnya dilakukan tidak ikhlas pada Allah, tujuannya hanyalah agar orang
yang bernadzar mendapatkan manfaat. Orang yang bernadzar dengan macam yang
pertama hanyalah mau bersedekah ketika penyakitnya sembuh. Jika tidak sembuh,
ia tidak bersedekah. Itulah mengapa dalam hadits disebut orang yang pelit
(bakhil).
Perlu
juga diketahui bahwa kenapa dilarang untuk bernadzar sebagaimana disebut dalam
hadits-hadits larangan? Jawabnya, agar jangan disangka bahwa tujuan Nadzar itu
pasti terwujud ketika seseorang bernadzar atau jangan disangka bahwa Allah
pasti akan penuhi maksud Nadzar karena Nadzar taat yang dilakukan. Sebagaimana
dikatakan dalam hadits bahwa Nadzar sama sekali tidak menolak apa yang Allah
takdirkan. Dalam hadits Ibnu ‘Umar yang lainnya disebutkan,
النَّذْرُ
لاَ يُقَدِّمُ شَيْئًا وَلاَ يُؤَخِّرُهُ وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ
الْبَخِيلِ
“Nadzar
sama sekali tidak memajukan atau mengakhirkan apa yang Allah takdirkan. Sungguh
Nadzar hanyalah keluar dari orang yang pelit.” (HR. Muslim no. 1639)
Jadi
larangan yang dimaksudkan dalam hadits-hadits yang melarang Nadzar adalah
larangan irsyad (alias: makruh) untuk memberi petunjuk bahwa ada cara yang
lebih afdhol, yaitu sedekah dan amalan ketaatan bisa dilakukan tanpa mesti
mewajibkan diri dengan bernadzar. Atau kita bisa bernadzar dengan Nadzar yang
tanpa syarat seperti kita katakan ketika penyakit kita sembuh, “Aku ingin bernadzar
dengan mewajibkan diriku untuk berpuasa.” Di sini tidak disebutkan syarat,
namun dilakukan hanya dalam rangka bersyukur pada Allah.
Syarat
sah Nadzar.
Syarat-syarat nadzir (orang
yang Nadzar) :

Beragama Islam.

Atas kehendak sendiri (bukan terpaksa).

Orang yang sah tasharrufnya (baligh dan berakal).
– Memungkinkan
untuk melaksanakan Nadzarnya.
Maka
tidak sah Nadzar kafir (kerana kafir tidak sah berbuat kebajikan), anak kecil,
orang gila, dalam keadaan dipaksa, melakukan perkara yang tidak memungkinkan
untuk melaksanakannya seperti Nadzar puasa bagi orang yang sakit parah dan Nadzar
orang kafir (khusus Nadzar tabarrur).
Syarat
Ucapan yang diguna untuk bernadzar.

Disyaratkan pada ucapan Nadzar hendaklah lafas yang memberi tahu melazimka
(mewajibkan) sesuatu, seperti berkata seorang yang bernadzar “bagi Allah wajib
atas ku puasa”. Puasa di sini sebagai contoh boleh dimasukkan yang lain.

Tidak sah Nadzar dengan diniat didalam hati, kerana Nadzar termasuk dalam akad
maka syaratnya mesti berlafas.
Macam
Nadzar dan Hukumnya.
Nadzar
dilihat dari hal yang diNadzari (al mandzur) dibagi menjadi dua macam:
Pertama,
Nadzar taat.
Seperti
seseorang mewajibkan pada dirinya untuk melakukan amalan yang sunnah (seperti
shalat sunnah, puasa sunnah, sedekah sunnah, i’tikaf sunnah, haji sunnah) atau
melakukan amalan wajib yang dikaitkan dengan sifat tertentu (seperti bernadzar
untuk melaksanakan shalat lima waktu di awal waktu).
Adapun
jika seseorang bernadzar untuk melakukan shalat lima waktu atau melakukan puasa
Ramadhan, maka bentuk semacam ini tidak dianggap Nadzar karena hal tersebut
sudah wajib. Hal yang telah Allah wajibkan tentu lebih agung daripada hal yang
diwajibkan lewat Nadzar.
Hukum
penunaian Nadzar taat.
Hukum
penunaiannya adalah wajib, baik Nadzar tersebut Nadzar mu’allaq atau Nadzar
muthlaq. Dalil yang menunjukkan wajibnya adalah,
مَنْ
نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ
“Barangsiapa
yang bernadzar untuk taat pada Allah, maka penuhilah Nadzar tersebut.” (HR.
Bukhari no. 6696)
Dalil
lainnya, dari Ibnu ‘Umar, beliau berkata,
أَنَّ
عُمَرَ – رضى الله عنه – نَذَرَ فِى الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ يَعْتَكِفَ فِى
الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ – قَالَ أُرَاهُ قَالَ – لَيْلَةً قَالَ لَهُ رَسُولُ
اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « أَوْفِ بِنَذْرِكَ
»
“Dahulu
di masa jahiliyah, Umar radhiyallahu ‘anhu pernah bernadzar untuk beri’tikaf di
masjidil haram –yaitu i’tikaf pada suatu malam-, lantas Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda padanya, ‘Tunaikanlah Nadzarmu’.” (HR. Bukhari no.
2043 dan Muslim no. 1656)
Jika
Nadzar tidak mampu ditunaikan.
Jika
Nadzar yang diucapkan mampu ditunaikan, maka wajib ditunaikan. Namun jika Nadzar
yang diucapkan tidak mampu ditunaikan atau mustahil ditunaikan, maka tidak
wajib ditunaikan. Seperti mungkin ada yang bernadzar mewajibkan dirinya ketika
pergi haji harus berjalan kaki dari negerinya ke Makkah, padahal dia sendiri
tidak mampu. Jika Nadzar seperti ini tidak ditunaikan lantas apa gantinya?
Barangsiapa
yang bernadzar taat, lalu ia tidak mampu menunaikannya, maka Nadzar tersebut
tidak wajib ditunaikan dan sebagai gantinya adalah menunaikan kafaroh
sumpah.
Kafaroh
sumpah adalah:
Memberi
makan kepada sepuluh orang miskin, atau
Memberi
pakaian kepada sepuluh orang miskin, atau
Memerdekakan
satu orang budak.
Jika
tidak mampu ketiga hal di atas, barulah menunaikan pilihan berpuasa selama tiga
hari.
لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ
وَلَٰكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ ۖ فَكَفَّارَتُهُ
إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ
كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ ۖ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ
أَيَّامٍ ۚ ذَٰلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ ۚ وَاحْفَظُوا
أَيْمَانَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ
تَشْكُرُونَ
Allah
tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk
bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu
sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh
orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu,
atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang
siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga
hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah
(dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan
kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya). (QS. Al Maidah : 89)
Kedua,
Nadzar yang bukan bentuk taat.
Nadzar
jenis kedua ini dibagi menjadi dua macam: (1) Nadzar mubah, (2) Nadzar maksiat.
(1)
Nadzar mubah.
Seperti
seseorang bernadzar, “Jika lulus ujian, saya akan berenang selama lima jam.” Nadzar
seperti ini bukanlah Nadzar taat, namun Nadzar mubah. Untuk penunaiannya
tidaklah wajib. Bahkan jumhur (mayoritas ulama) menyatakan bahwa bentuk seperti
ini bukanlah Nadzar.
(2)
Nadzar maksiat.
Seperti
seseorang bernadzar, “Jika lulus ujian, saya akan traktir teman-teman
mabuk-mabukan.” Nadzar seperti ini tidak boleh ditunaikan berdasarkan hadits,
وَمَنْ
نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ يَعْصِهِ
“Barangsiapa
yang bernadzar untuk bermaksiat pada Allah, maka janganlah memaksiati-Nya. ”
(HR. Bukhari no. 6696)
Lalu
apakah ada kafaroh? Jawabnya, tetap ada kafaroh berdasarkan hadits,
النذر
نذران : فما كان لله ؛ فكفارته الوفاء وما كان للشيطان ؛ فلا وفاء فيه وعليه كفارة
يمين
“Nadzar
itu ada dua macam. Jika Nadzarnya adalah Nadzar taat, maka wajib ditunaikan.
Jika Nadzarnya adalah Nadzar maksiat -karena syaithon-, maka tidak boleh
ditunaikan dan sebagai gantinya adalah menunaikan kafaroh sumpah.” (HR. Ibnu
Jarud, Al Baihaqi)
Wallahu
a’lam bishowwab.
Referensi
dari berbagai macam sumber.
Website :
http://shulfialaydrus.blogspot.co.id/ atau
https://shulfialaydrus.wordpress.com/
Instagram : @shulfialaydrus
Instagram Majelis Nuurus Sa’aadah :
@majlisnuurussaadah
Twitter : @shulfialaydrus dan @shulfi   
Telegram : @habibshulfialaydrus
Telegram Majelis Nuurus Sa’aadah :
@majlisnuurussaadah
Facebook :
https://www.facebook.com/habibshulfialaydrus/
Group Facebook : Majelis Nuurus Sa’aadah atau
https://www.facebook.com/groups/160814570679672/
Donasi atau infak atau sedekah.
Bank BRI Cab. JKT Joglo.
Atas Nama : Muhamad Shulfi.
No.Rek : 0396-01-011361-50-5.
Penulis : Muhammad Shulfi bin Abunawar Al
‘Aydrus, S.Kom.
محمد سلفى بن أبو نوار العيدروس

Categories
Uncategorized

Menjelaskan hukum-hukum i’tikaf.

(فَصْلٌ) فِيْ أَحْكَامِ الْاِعْتِكَافِ
(Fasal)
menjelaskan hukum-hukum i’tikaf.
وَهُوَ
لُغَةً الْإِقَامَةُ عَلَى الشَّيْئِ مِنْ خَيْرٍ أَوْ شَرٍّ وَشَرْعًا
إِقَامَةٌ بِمَسْجِدٍ بِصِفَةٍ مَخْصُوْصَةٍ
I’tikaf
secara bahasa adalah menetapi sesuatu yang baik atau jelek. Dan secara syara’
adalah berdiam diri di masjid dengan sifat tertentu.
(وَالْاِعْتِكَافُ سُنَّةٌ مُسْتَحَبَّةٌ)
فِيْ كُلِّ وَقْتٍ
I’tikaf
hukumnya sunnah yang dianjurkan di setiap waktu.
وَهُوَ
فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ أَفْضَلُ مِنْهُ فِيْ غَيْرِهِ
لِأَجْلِ طَلَبِ لَيْلَةِ الْقَدَرِ
I’tikaf
di sepuluh hari terakhir di bulan Romadhon itu lebih utama daripada i’tikaf di
selain hari tersebut, karena untuk mencari Lailatul Qadar.
وَهِيَ
عِنْدَ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مُنْحَصِرَةٌ فِيْ الْعَشْرِ
الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Menurut
Imam Asy Syafi’i radliyallahu ‘anh, Lailatul Qadar hanya berada di sepuluh
hari terakhir di bulan Romadhon.
فَكُلُّ
لَيْلَةٍ مِنْهُ مُحْتَمِلَةٌ لَهَا لَكِنْ لَيَالِي الْوِتْرِ أَرْجَاهَا
Setiap
malam dari malam-malam tersebut mungkin terjadi Lailatul Qadar, akan tetapi di
malam-malam yang ganjil itu lebih diharapkan.
وَأَرْجَى
لَيَالِي الْوِتْرِ لَيْلَةُ الْحَادِيْ أَوِ الثَّالِثِ وَالْعِشْرِيْنَ
Malam-malam
ganjil yang paling diharapkan adalah malam dua puluh satu atau dua puluh tiga.
(وَلَهُ) أَيْ لِلْاِعْتِكَافِ
الْمَذْكُوْرِ (شَرْطَانِ)
I’tikaf
yang telah dijelaskan di atas memiliki dua syar
at.
أَحَدُهُمَا
(النِّيَةُ) وَيَنْوِيْ فِي الْاِعْتِكَافِ الْمَنْذُوْرِ الْفَرْضِيَّةَ أَوِ
النَّذْرَ
Salah
satunya adalah niat. Di dalam i’tikaf nadzar, dia harus niat fardhu atau 
niat nadzar.
(وَ) الثَّانِي (اللَّبْثُ فِي الْمَسْجِدِ)
Yang
kedua adalah bertempat di masjid.
وَلَا
يَكْفِيْ فِي اللَّبْثِ قَدْرُ الطُّمَأْنِيْنَةِ بَلِ الزِّيَادَةُ عَلَيْهِ
بِحَيْثُ يُسَمَّى ذَلِكَ اللَّبْثُ عُكُوْفًا
Di
dalam bertempat, tidak cukup hanya sebatas kira-kira waktu thuma’ninah, bahkan
harus ditambah sekira diamnya tersebut dinamakan berdiam diri.
وَشَرْطُ
الْمُعْتَكِفِ إِسْلَامٌ وَعَقْلٌ وَنِقَاءٌ عَنْ حَيْضٍ وَنِفَاسٍ وَجِنَابَةٍ
Syarat
orang yang i’tikaf adalah harus Islam, berakal, suci dari haidh, nifas dan
jinabah.
فَلَايَصِحُّ
اعْتِكَافُ كَافِرٍ وَمَجْنُوْنٍ وَحَائِضٍ وَنُفَسَاءَ وَجُنُبٍ
Maka
tidak syah i’tikaf yang dilakukan oleh orang kafir, gila, haidh, nifas, dan
orang junub.
وَلَوِ
ارْتَدَّ الْمُعْتَكِفُ أَوْ سَكَرَ بَطَلَ اعْتِكَافُهُ
Jika
orang yang melakukan i’tikaf murtad atau mabuk, maka i’tikafnya menjadi batal.
(وَلَا يَخْرُجُ) الْمُعْتَكِفُ (مِنَ الْاِعْتِكَافِ
الْمَنْذُوْرِ إِلاَّ لِحَاجَةِ الْإِنْسَانِ) مِنْ بَوْلٍ وَغَائِطٍ وَمَا فِيْ
مَعْنَاهُمَا كَغُسْلِ جِنَابَةٍ
Orang
yang melakukan i’tikaf nadzar tidak diperbolehkan keluar dari i’tikafnya
kecuali karena ada kebutuhan manusiawi seperti kencing, berak, dan hal-hal yang
semakna dengan keduanya seperti mandi jinabah.
(أَوْ عُذْرٍ مِنْ حَيْضٍ) أَوْ نِفَاسٍ فَتَخْرُجُ الْمَرْأَةُ
مِنَ الْمَسْجِدِ لِأَجْلِهِمَا
Atau
karena udzur haidh atau nifas. Maka seorang wanita harus keluar dari masjid
karena mengalami keduanya.
(أَوْ) عُذْرٍ مِنْ (مَرَضٍ لَا يُمْكِنُ الْمُقَامُ مَعَهُ) فِي
الْمَسْجِدِ
Atau
karena udzur saki
t yang
tidak mungkin berdiam diri di dalam masji
d.
بِأَنْ
كَانَ يَحْتَاجُ لِفُرُشٍ وَخَادِمٍ وَطَبِيْبٍ أَوْ يَخَافُ تَلْوِيْثَ
الْمَسْجِدِ كَإِسْهَالٍ وَإِدْرَارِ بَوْلٍ
Semisal
dia butuh terhadap tikar, pelayan, dan dokter. Atau dia khawatir mengotori
masjid seperti sedang sakit diare dan beser.
وَخَرَجَ
بِقَوْلِ الْمُصَنِّفِ لَا يُمْكِنُ إِلَخْ الْمَرَضُ الْخَفِيْفُ كَحُمًى
خَفِيْفَةٍ فَلَا يَجُوْزُ الْخُرُوْجُ مِنَ الْمَسْجِدِ بِسَبِبِهَا
Dengan
ungkapan mushannif “tidak mungkin bertempat di masjid” hingga akhir perkataan
beliau, mengecualikan sakit yang ringan seperti demam sedikit, maka tidak diperkenankan
keluar dari masjid disebabkan sakit tersebut.
(وَيَبْطُلُ) الْاِعْتِكَافُ (بِالْوَطْءِ) مُخْتَارًا ذَاكِرًا
لِلْاِعْتِكَافِ عَالِمًا بِالتَّحْرِيْمِ
I’tikaf
menjadi batal sebab melakukan wathi atas kemauan sendiri dalam keadaan ingat
bahwa sedang melakukan i’tikaf dan tahu terhadap keharamannya.
وَأَمَّا
مُبَاشَرَةُ الْمُعْتَكِفِ بِشَهْوَةٍ فَتُبْطِلُ اعْتِكَافَهُ إِنْ أَنْزَلَ
وَإِلَّا فَلاَ
Adapun
bersentuhan kulit disertai birahi yang dilakukan oleh orang yang melakukan
i’tikaf, maka akan membatalkan i’tikafnya jika ia sampai mengeluarkan sperma.
Jika tidak keluar sperma, maka tidak sampai membatalkan.
(Kitab
Fathul Qorib – Al Imam Al Allamah Asy Syeikh Muhammad bin Qosim Al Ghoziy, Bab
I’tikaf, Hal. 61, Penerbit Darul Kutub Al Islamiyyah)
Website
: http://shulfialaydrus.blogspot.co.id/ atau
https://shulfialaydrus.wordpress.com/
Instagram
: @shulfialaydrus
Instagram
Majelis Nuurus Sa’aadah : @majlisnuurussaadah
Twitter
: @shulfialaydrus dan @shulfi   
Telegram
: @habibshulfialaydrus
Telegram
Majelis Nuurus Sa’aadah : @majlisnuurussaadah
Facebook
: https://www.facebook.com/habibshulfialaydrus/
Group
Facebook : Majelis Nuurus Sa’aadah atau https://www.facebook.com/groups/160814570679672/
Donasi
atau infak atau sedekah.
Bank
BRI Cab. JKT Joglo.
Atas
Nama : Muhamad Shulfi.
No.Rek
: 0396-01-011361-50-5.
Penulis
: Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus, S.Kom.
محمد
سلفى بن أبو نوار العيدروس

Categories
Uncategorized

Amalan-amalan agar mempunyai anak.

Amalan-amalan
agar mempunyai anak.
1.
Bernadzar kepada Allah, jika diberi anak maka akan dinamakan Muhammad, maka
jika benar diberi anak maka wajib menamakan anaknya Muhammad, tetapi boleh
ditambah dengan nama yang lain, seperti Muhammad Kafi, Muhammad Shulfi,
Muhammad Rizqi, Muhammad Ridhwan, dll, tetapi jika anaknya perempuan boleh
dikasih nama perempuan, yang penting bernadzar kepada Allah memberi nama
Muhammad jika mempunyai anak.
Habib
Mundzir bin Fuad Al Musawa rhm. Pernah berkata :
Rasul saw bersabda:
“Barangsiapa yang sulit mempunyai keturunan, lalu ia bernadzar memberi
nama anaknya dengan namaku, maka Allah akan memberikan keturunan padanya”.
Dijelaskan pada Sirah
Hakabiyyah, bahwa periwayat hadits ini termasuk orang yang tak punya keturunan,
ia mencoba resep tersebut maka ia mempunyai anak, ia namai Muhammad, lalu ia
nadzar lagi, maka ia mendapat putra lagi, hingga ia mempunyai 7 anak putra
bernama Muhammad.
2.
Memperbanyak membaca doa ini sehabis sholat wajib lima waktu dan di waktu-waktu
mustajab :
رَبِّ لا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ
ROBBI
LAA TADzARNII FARDhAN WA ANTA KhOIRUL WAARITsIIN(A).
Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan
Engkaulah Waris Yang Paling Baik. (QS. Al Anbiyaa (21) : 89)
3.
Memberi makan burung dara/merpati yang berada di Mekkah dengan niat sedekah
kepada burung dara di Mekkah agar Allah memberikan anak, jika kita tidak dapat
kesana, maka boleh dengan cara dititip sama orang yang akan umroh atau haji
pergi kesana dengan memberikan jagung sebanyak 1 kg atau lebih, boleh juga
dengan menitip uang untuk dibelikan jagung atau makanan burung yang lainnya
untuk makan burung dara di Mekkah.
3. Membaca
surat Al Fatihah sebanyak 41x setelah sholat Qobliyah Subuh dan dilakukakan
selama 40 hari tanpa terputus, dengan sesudahnya berdoa kepada Allah agar
diberi keturunan, insya Allah dikabul hajatnya mempunyai anak.
4.
Memperbanyak Istighfar, kalau bisa baca 10.000x setiap hari selama 7 hari
berturut-turut atau lebih, setiap habis beristighfar 10.000x berdoa sama Allah
agar di berikan keturunan anak. Baca istighfarnya boleh apa saja, tetapi yang
gampang baca ASTAGhFIRULLAAH 10.000 kali, karena memperbanyak Istighfar dapat
menarik datangnya rizki dan memperbanyak anak, anak bagian dari rizki yang
Allah berikan kepada seseorang, lihat surat Nuh ayat 10-12, dikatakan akan
membanyakkan anak dengan beristighfar.
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا
وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ
وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
Maka aku katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada
Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan
hujan kepadamu dengan lebat, dan MEMBANYAKKAN HARTA DAN ANAK-ANAKMU, dan
mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu
sungai-sungai. (QS. Nuh (71) : 10-12)
Itu
beberapa amalan agar diberikan keturunan atau anak, hendaknya amalan tersebut
dilakukan berdua denga suami dan istri.
Silahkan
di amalkan, alfaqir (Habib Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus) ijazahkan
bagi siapa saja yang mau mengamalkannya.
(Referensi
dari berbagai sumber)
Website
:
http://shulfialaydrus.blogspot.co.id/
atau
https://shulfialaydrus.wordpress.com/
Instagram
: @shulfialaydrus
Twitter
: @shulfialaydrus dan @shulfi
Telegram
: @shulfialaydrus
Telegram
Majelis Nuurus Sa’aadah :
https://telegram.me/habibshulfialaydrus
LINE
: shulfialaydrus         
Facebook
: Habib Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus
Group
Facebook : Majelis Nuurus Sa’aadah atau
https://www.facebook.com/groups/160814570679672/
           
Donasi atau infak atau
sedekah.
Bank BRI Cab. JKT Joglo.
Atas Nama : Muhamad Shulfi.
No.Rek : 0396-01-011361-50-5.
           
Penulis
dan pemberi ijazah : Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus, S.Kom

محمد سلفى بن أبو نوار العيدروس

Categories
Uncategorized

Keutamaan berbakti kepada kedua orang tua.

في فضيلة بر الوالدين

Keutamaan berbakti kepada kedua orang tua. 

قال النبي صلى الله عليه وسلم: رِضَا الرَّبِّ
في رِضَا الوالِدِ، وَسَخَطُ الله في سَخَطِ الوَالِدِ
Nabi Muhammad SAW. bersabda : Ridha Allah
terletak dalam ridha orang tua dan murka Allah terletak pada murka orang tua.
وقال عليه الصلاة والسلام: بُرُّوا آبَاءَكُمْ
تَبُرَّكُمْ أَبْنَاؤُكُمْ وَعِفّوا تَعِفَّ نِسَاؤُكُمْ
Nabi Muhammad SAW. bersabda : Berbaktilah
kepada bapak ibu kalian maka anak-anak kalian akan berbakti pada kalian.
Jagalah diri kalian maka istri-istri kalian akan menjaga diri.
وقال عليه الصلاة والسلام: مَنْ أَصْبَحَ
وَلَهُ أبَوَانِ رَاضِيانِ عَنْهُ أَوْ أَحَدُهُمَا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ
الجَنَّةِ وَمَنْ أمْسَى وَلَهُ أَبَوَانِ سَاخِطَانِ عَلَيْهِ أَوْ أحَدُهُمَا
فُتِحَتْ لَهُ أبْوَابُ جَهَنَّمَ
Nabi Muhammad SAW. bersabda : Barangsiapa
tiba di pagi hari dan kedua orang tuanya atau salah satunya ridha kepadanya
maka dibukalah pintu-pintu surga untuknya dan arangsiapa tiba di sore hari dan
kedua orang tuanya atau salah satunya murka maka dibukalah pintu-pintu neraka
untuknya.
وقال عليه الصلاة والسلام: إذا كُنْتَ في
الصَّلاة فَدَعَاكَ أبُوكَ فَأَجِبْهُ وَإن دَعَتْكَ أُمُّكَ فَأَجِبْهَا
Nabi Muhammad SAW. bersabda : Jika kamu
sedang shalat (sunnah) dan ayahmu memanggilmu maka jawablah, dan jika ibumu
memanggilmu maka jawablah.
Penjelasan : Seseorang yang bila sedang
sholat sunnah lalu di panggil oleh orang tuanya maka untuk menjawab
panggilannya dan untuk menemuinya, atau memberikan kode dengan mengeraskan
suara saat takbir agar terdengar olehnya, jika masih tetap memanggilnya maka
untuk membatalkan sholat sunnahnya untuk menjawab panggilannya dan untuk
menemuinya.
وقال عليه الصلاة والسلام: مَنْ آذى
وَالِدَيْهِ أَوْ آذى أحَدَهُما يَدْخُل النَّارَ
Nabi Muhammad SAW. bersabda : Barangsiapa
meyakiti kedua orang tuanya atau salah satunya maka dia masuk neraka.
وقال عليه الصلاة والسلام حِكَايَةٌ عَنِ الله
تَعَالى: قُلْ للبَارِّ لِوَالِدَيْهِ اعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإنَّ الله يَغْفِرُ
لَكَ
Nabi Muhammad SAW. bersabda : Dalam sebuah
hadits qudsi dijelaskan, katakanlah kepada orang yang berbakti kepada orang tunya,
berbuatlah sesuka kalian karena sesungguhnya Allah SWT. telah memafkan kalian.
وقال صلى الله عليه وسلم: بِرُّ الوَالِدَيْنِ
كَفَّارَةٌ لِلْكَبَائِرِ
Nabi Muhammad SAW. bersabda : Berbakti
(berbuat baik) kepada kedua orang tua (berupa ucapan dan perbuatan) adalah
sebagai kifarat (penebus) dosa-dosa besar.
وقال عليه الصلاة والسلام: مَنْ وَضَعَ طَعَاما
طَيّبا في بَيْتِهِ وَأَكَلَهُ دُونَ وَالِدَيْهِ حِرَمَهُ الله تَعَالى لَذِيذَ
طَعامِ الجَنَّةِ
Nabi Muhammad SAW. bersabda : Barangsiapa
memiliki makanan baik (enak) di rumahnya dan memakannya tanpa kedua orang
tuanya maka Allah SWT. mengharamkannya merasakan enaknya makanan surga.
وقال عليه الصلاة والسلام: مَنْ بَاتَ
شَبْعَانا رَيَّانا وَأحَدُ وَالِدَيْهِ جَوْعَانٌ أوْ عَطْشَانٌ حَشَرَهُ الله
يَوْمَ ٱلقِيَامَةِ جِوْعَاناً وَعَطْشَانا وَلَمْ يَسْتَحِ الله تَعَالى مِنْ
عَذَابِهِ يَوْمَ ٱلقِيَامَةِ
Nabi Muhammad SAW. bersabda : Barangsiapa
bermalam dalam keadaan kenyang perutnya dan segar sedangkan salah satu dari
kedua orang tuanya kelaparan atau kehausan maka Allah SWT. akan
membangkitkannya pada hari kiamat dalam keadaan kehausan dan kelaparan dan
Allah SWT. tidak malu-malu untuk menyiksanya/mengazabnya pada hari kiamat.
وقال عليه الصلاة والسلام: مَنْ رَفَع يَدَهُ
لِيَضْرِبَ أَحَدَ وَالِدَيْهِ غُلَّتْ يَدُهُ يَوم القيامة إلى عُنُقِهِ
مَشْلُولَةً قالوا يا رسول الله وإن ضربهما قال: تُقْطَعُ يَدُهُ قَبْلَ أنْ
يَجُوزَ عَلَى الصِّراط وَتَضْرِبُهُ المَلائِكَةُ
Nabi Muhammad SAW. bersabda : Barangsiapa
mengangkat tangannya untuk memukul salah satu dari kedua orang tuanya maka
tangannya akan dibelenggu pada hari kiamat sampai lehernya dalam keadaan
lumpuh. Para sahabt bertanya : Jika sampai memukul keduanya? Beliau bersabda :
Maka tangannya di potong sebelum melewati jembatan shirot dan dia dipukuli oleh
para malaikat.
(Kitab Lubabul Hadits – Al Imam Al Hafizh
Jalauddin Abdrurrahman bin Abi Bakar As Suyuthiy)
Website
: http://shulfialaydrus.blogspot.co.id/ atau
https://shulfialaydrus.wordpress.com/
Instagram
: @shulfialaydrus
Instagram
Majelis Nuurus Sa’aadah : @majlisnuurussaadah
Twitter
: @shulfialaydrus dan @shulfi   
Telegram
: @habibshulfialaydrus
Telegram
Majelis Nuurus Sa’aadah : @majlisnuurussaadah
Facebook
: https://www.facebook.com/habibshulfialaydrus/
Group
Facebook : Majelis Nuurus Sa’aadah atau
https://www.facebook.com/groups/160814570679672/
Donasi
atau infak atau sedekah.
Bank
BRI Cab. JKT Joglo.
Atas
Nama : Muhamad Shulfi.
No.Rek
: 0396-01-011361-50-5.
Penulis
: Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus, S.Kom.
محمد
سلفى بن أبو نوار العيدروس

Categories
Uncategorized

Keutamaan Silaturrahmi.

Keutamaan Silaturrahmi.
Allah swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ
الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ
مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ
بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada
Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah
menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan
laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan
(mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah)
hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.
(QS. An Nisa : 1)
Allah swt. berfirman:

 فَهَلْ
عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي اْلأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا
أَرْحَامَكُمْ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى
أَبْصَارَهُمْ

Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan dimuka bumi
dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dila’nati
Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.
(QS. Muhammad : 22-23)

Dari Abu Ayyub Al Anshari ra., bahwa seorang
Arab Badui menghadang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perjalanannya,
lalu berkata:
 أَخْبِرْنِي مَا يُقَرِّبُنِى مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُنِي
مِنَ النَّارِ، قَالَ: تَعْبُدُ اللهَ وَلاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيْمُ
الصَّلاَةَ وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ وَتَصِلُ الرَّحِمَ
  
Ceritakanlah kepadaku hal-hal yang
mendekatkan aku ke surga dan menjauhkan aku dari neraka,” Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam menjawab, “Sembahlah Allah dan janganlah engkau
menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dirikanlah shalat, bayarlah zakat, dan
sambunglah silaturrahim. (HR. Bukhari No.5983)
Dari
Abu Bakroh ra., Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا
مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ
فِى الدُّنْيَا – مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِى الآخِرَةِ – مِثْلُ الْبَغْىِ وَقَطِيعَةِ
الرَّحِمِ




Tidak
ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya bagi para pelakunya [di
dunia ini] -berikut dosa yang disimpan untuknya [di akhirat]- daripada
perbuatan melampaui batas (kezhaliman) dan memutus silaturahmi (dengan orang tua
dan kerabat). (HR. Abu Daud No.4902, Tirmidzi No.2511, dan Ibnu Majah No. 4211,
Hadits Shahih)
Abdullah
bin ’Amr ra. berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَيْسَ
الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ ، وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِى إِذَا قَطَعَتْ رَحِمُهُ
وَصَلَهَا
 



Seorang
yang menyambung silahturahmi bukanlah seorang yang membalas kebaikan seorang
dengan kebaikan semisal. Akan tetapi seorang yang menyambung silahturahmi
adalah orang yang berusaha kembali menyambung silaturahmi setelah sebelumnya
diputuskan oleh pihak lain. (HR. Bukhari No.5991)
Abu
Hurairah ra. Berkata: “Seorang pria mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, saya punya keluarga yang jika saya
berusaha menyambung silaturrahmi dengan mereka, mereka berusaha memutuskannya,
dan jika saya berbuat baik pada mereka, mereka balik berbuat jelek kepadaku,
dan mereka bersikap acuh tak acuh padahal saya bermurah hati pada mereka”.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kalau memang halnya seperti
yang engkau katakan, (maka) seolah- olah engkau memberi mereka makan dengan
bara api dan pertolongan Allah akan senantiasa mengiringimu selama keadaanmu
seperti itu.” (HR. Muslim No.2558)
Abdurrahman
ibnu ‘Auf ra. berkata bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
قَالَ
اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَنا الرَّحْمنُ، وَأَنا خَلَقْتُ الرَّحِمَ، وَاشْتَقَقْتُ
لَهَا مِنِ اسْمِي، فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ، وَمَنْ قَطَعَهَا بتَتُّهُ




Allah
’azza wa jalla berfirman: Aku adalah Ar Rahman. Aku menciptakan rahim dan Aku
mengambilnya dari nama-Ku. Siapa yang menyambungnya, niscaya Aku akan menjaga
haknya. Dan siapa yang memutusnya, niscaya Aku akan memutus dirinya. (HR. Ahmad
1/194, shahih lighoirihi).
Dari
Abu Hurairah ra., Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ
سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ،
فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ




Siapa
yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia
menyambung silaturrahmi. (HR. Bukhari No.5985 dan Muslim No.2557)
Ibnu
‘Umar ra. berkata:
مَنِ
اتَّقَى رَبَّهُ، وَوَصَلَ رَحِمَهُ، نُسّىءَ فِي أَجَلِه وَثَرَى مَالَهُ،
وَأَحَبَّهُ أَهْلُهُ




Siapa
yang bertakwa kepada Rabb-nya dan menyambung silaturrahmi niscaya umurnya akan diperpanjang
dan hartanya akan diperbanyak serta keluarganya akan mencintainya.
(Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod No.58, Hadits Hasan)
Itulah
beberapa dalil keutamaan silaturrahmi yang sebenarnya masih banyak lagi
dalil-dalil lainnya, dan juga menerang bahwa silaturrahmi itu sesungguhnya
adalah untuk menghubungkan kembali kepada kerabat keluarga terdekat (Ibu,
bapak, anak, saudara) yang sudah retak atau terputus, jadi dengan kita
mengunjunginya kepada mereka akan membuat terjalin kembali silaturrahmi dan
juga menambah erat ikatan keluarga bagi mereka yang suka bersilaturrahmi.
Website
: http://shulfialaydrus.blogspot.co.id/ atau
https://shulfialaydrus.wordpress.com/
Instagram
: @shulfialaydrus
Instagram
Majelis Nuurus Sa’aadah : @majlisnuurussaadah
Twitter
: @shulfialaydrus dan @shulfi   
Telegram
: @habibshulfialaydrus
Telegram
Majelis Nuurus Sa’aadah : @majlisnuurussaadah
Facebook
: https://www.facebook.com/habibshulfialaydrus/
Group
Facebook : Majelis Nuurus Sa’aadah atau
https://www.facebook.com/groups/160814570679672/
Donasi
atau infak atau sedekah.
Bank
BRI Cab. JKT Joglo.
Atas
Nama : Muhamad Shulfi.
No.Rek
: 0396-01-011361-50-5.
Penulis
: Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus, S.Kom.
محمد
سلفى بن أبو نوار العيدروس